TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

16 Maret 2026
TODAY'S RECAP
Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Cari berita

IEA Gelar Rapat Darurat, Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah Akibat Perang Iran

Poin Penting (3)
  • IEA menggelar rapat darurat pada 10 Maret 2026 untuk membahas pelepasan cadangan minyak strategis yang berpotensi melampaui rekor 182 juta barel tahun 2022, dipicu oleh lumpuhnya Selat Hormuz akibat perang AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026.
  • AS mendorong pelepasan bersama 300 hingga 400 juta barel cadangan IEA, sementara G7 sudah menyatakan kesiapan bertindak meski belum mengambil keputusan final; IEA dijadwalkan memutuskan langkah konkret pada Rabu (11/3/2026).
  • Penutupan Selat Hormuz memotong sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan mendorong harga Brent sempat menyentuh hampir US$120 per barel; para analis memperingatkan pelepasan cadangan hanya bersifat peredam sementara selama konflik belum berakhir.

Resolusi.co, WASHINGTON – Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memukul pasar energi global jauh lebih keras dari yang dibayangkan sebelumnya. Badan Energi Internasional atau IEA menggelar rapat darurat pada Selasa (10/3/2026) untuk membahas pelepasan cadangan minyak strategis dalam skala yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah lembaga ini berdiri.

Pemicunya jelas, Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global, praktis lumpuh sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Dari selat itulah sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya mengalir setiap harinya.

Lonjakan harga yang terjadi sejak perang pecah tidak main-main. Minyak mentah berjangka Brent sempat melonjak hampir 65 persen dari level sebelum perang, menyentuh hampir US$120 per barel, sebelum akhirnya turun kembali mendekati kisaran US$84 hingga US$90 pekan ini.

Rencana pelepasan cadangan yang tengah digodok IEA, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal mengutip pejabat yang mengetahui isi pembahasan, dirancang melampaui 182 juta barel yang pernah digelontorkan ke pasar pada 2022, ketika Rusia menyerang Ukraina dan memicu krisis energi di Eropa. Kali ini, AS dilaporkan mendorong pelepasan bersama sebesar 300 juta hingga 400 juta barel, atau setara 25 hingga 30 persen dari total 1,2 miliar barel cadangan darurat yang dipegang negara-negara anggota IEA.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebut pertemuan itu bertujuan menilai kondisi keamanan pasokan dan situasi pasar, sebagai landasan keputusan selanjutnya mengenai apakah cadangan darurat negara-negara anggota akan dilepas ke pasar.

Para menteri energi G7 sudah lebih dulu bertemu sebelum rapat IEA digelar, meski mereka belum mengambil keputusan final soal pelepasan cadangan. Setelah pertemuan itu, Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyampaikan sinyal yang cukup kuat.

“Kami telah meminta IEA untuk menyusun skenario pelepasan stok minyak; kami harus siap bertindak kapan saja,” ujar Roland Lescure.

Kesulitan utama yang dihadapi pasar saat ini berbeda dari guncangan energi sebelumnya. Tidak ada kapasitas cadang yang bisa digunakan untuk menutup gangguan pasokan ini, karena Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terputus dari pasar global akibat penutupan selat, menurut analisis firma konsultan Rapidan.

Rapat IEA pada Selasa kemarin tidak menghasilkan keputusan. Setelah pertemuan itu, IEA tidak mengumumkan tindakan apa pun untuk menangani situasi tersebut. Keputusan final diharapkan muncul pada Rabu (11/3/2026), meski mekanisme IEA memungkinkan satu negara anggota saja untuk menghambat implementasi bila menyatakan keberatan.

Di sisi lain, beberapa analis justru mengingatkan bahwa pelepasan cadangan hanyalah peredam sementara. Sebuah pelepasan terkoordinasi sebesar 60 hingga 100 juta barel diperkirakan dapat menunda harga menembus US$100 dan sementara menurunkan Brent sekitar US$10 hingga US$20 per barel, namun gangguan pasokan yang mendasarinya bersifat struktural.

Firma riset Rystad Energy memproyeksikan harga minyak bisa mencapai US$135 per barel, mendekati rekor sepanjang masa US$147,50 yang dicapai pada 2008, apabila perang berlanjut hingga empat bulan ke depan. Ini bukan sekadar persoalan harga bensin di pompa, melainkan ancaman nyata terhadap laju inflasi global dan rencana pemangkasan suku bunga bank sentral besar dunia yang sudah lama ditunggu pelaku pasar.