Jepang Berencana Reaktivasi PLTN Kashiwazaki-Kariwa, Fasilitas Nuklir Terbesar di Dunia

- Reaktivasi PLTN terbesar dunia: Jepang mempersiapkan pengoperasian kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa dengan kapasitas 8,2 gigawatt setelah mati sejak 2012 pasca-tragedi Fukushima
- Strategi ketahanan energi: Pemerintah menjadikan energi nuklir sebagai bagian penting untuk menekan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi nasional
- Kepercayaan publik masih rendah: Lebih dari 60% warga dalam radius 30 km tidak yakin persyaratan keselamatan terpenuhi, ditambah kekhawatiran soal rencana evakuasi dan risiko gempa
, JEPANG – Pemerintah Jepang tengah mempersiapkan pengoperasian kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa di Prefektur Niigata. Fasilitas ini merupakan pembangkit nuklir dengan kapasitas terbesar di dunia.
Aktivitas di sekitar kompleks PLTN tersebut kian ramai dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah jalan menuju lokasi diperlebar, truk-truk logistik hilir mudik melewati area yang dijaga ketat petugas keamanan.
Pagar berlapis kawat berduri setinggi beberapa meter mengelilingi kompleks yang memiliki tujuh unit reaktor nuklir. Dari kejauhan, bangunan reaktor terlihat menjulang dengan latar belakang Gunung Yoneyama yang tertutup salju.
Jika seluruh reaktornya aktif, fasilitas ini mampu menghasilkan listrik sebesar 8,2 gigawatt. Kapasitas tersebut cukup untuk menerangi jutaan rumah tangga di Jepang.
Sejak 2012, pembangkit ini tidak beroperasi sama sekali. Penutupan dilakukan menyusul tragedi Fukushima Daiichi pada 2011, kecelakaan nuklir terparah sejak Chernobyl yang memaksa sekitar 160.000 warga mengungsi.
Menjelang peringatan 15 tahun tragedi tersebut, operator Tokyo Electric Power (Tepco) berencana mengaktifkan Reaktor No. 6. Pengoperasian reaktor ini diperkirakan dapat menambah sekitar 2 persen pasokan listrik untuk kawasan Tokyo.
Proses reaktivasi sempat tertunda akibat alarm yang rusak saat uji coba. Namun, pengoperasian kembali reaktor tersebut disebut tinggal menunggu waktu.
Bagi pemerintah, langkah ini sangat krusial. Energi nuklir menjadi bagian penting dari strategi nasional untuk menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi, terutama di tengah ketidakpastian pasokan energi global.
Namun bagi sekitar 420.000 penduduk yang tinggal dalam radius 30 kilometer dari pembangkit, keputusan ini bagaikan pertaruhan nyawa mereka.
“Semuanya membuat saya khawatir,” ujar Ryusuke Yoshida, warga Desa Kariwa berusia 76 tahun.
Rumah Yoshida berjarak kurang dari dua kilometer dari pembangkit. Ia menyoroti lemahnya rencana evakuasi, terutama saat musim dingin.
Tepco berupaya meyakinkan masyarakat bahwa mereka telah belajar dari bencana Fukushima. Perusahaan menjanjikan investasi 100 miliar yen untuk Prefektur Niigata dalam 10 tahun mendatang.
Sistem keselamatan juga diperkuat, mulai dari dinding penahan tsunami, pintu kedap air, generator darurat, hingga sistem penyaring radioaktif yang lebih canggih.
“Keselamatan adalah prioritas utama kami. Dukungan warga setempat adalah syarat mutlak,” ujar juru bicara Tepco, Tatsuya Matoba.
Namun, kepercayaan justru sulit diperoleh. Survei pemerintah prefektur menunjukkan lebih dari 60 persen warga di sekitar pembangkit tidak yakin bahwa persyaratan keselamatan untuk pengoperasian kembali telah dipenuhi.
Seruan untuk menggelar referendum daerah juga diabaikan. Kekhawatiran warga semakin besar setelah terungkap bahwa perusahaan listrik lain, Chubu Electric Power, memalsukan data risiko gempa saat evaluasi dua reaktor nuklir.
Wilayah Kashiwazaki-Kariwa berada di zona rawan gempa. Pada 2007, gempa berkekuatan 6,8 sempat merusak fasilitas dan memicu kebakaran, meski reaktor otomatis berhenti.
Sebelum tragedi Fukushima, Jepang mengoperasikan 54 reaktor nuklir yang menyuplai sekitar 30 persen kebutuhan listrik nasional. Kini, dari 33 reaktor yang layak beroperasi, hanya 14 yang aktif.
Sisanya terhambat penolakan publik yang masih kuat terhadap penggunaan energi nuklir.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: