JK Prediksi Indonesia Chaos, Istana Langsung Angkat Bicara: Itu Narasi Keliru

- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya secara resmi membantah isu potensi kekacauan nasional pada Juli-Agustus 2026, menyebut narasi tersebut keliru dan menegaskan seluruh kondisi dalam negeri terkendali.
- Isu chaos sebelumnya dikaitkan dengan pernyataan mantan Wapres Jusuf Kalla yang diungkap Muhammad Said Didu dalam diskusi publik pada 22 Maret 2026, berkaitan dengan tekanan ekonomi dan gejolak situasi global.
- Pemerintah menggunakan tiga argumen sebagai bukti stabilitas harga BBM bersubsidi tidak naik di tengah konflik Timur Tengah, data ekonomi mengarah optimistis, serta dua kali Lebaran berlangsung tanpa gejolak harga maupun distribusi.
, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya tampil di hadapan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/4/2026) malam, khusus untuk membantah satu isu yang belakangan beredar luas, bahwa Indonesia berpotensi mengalami kekacauan nasional dalam waktu dekat.
Pernyataan itu ia sampaikan dengan nada tegas, tanpa basa-basi.
“Saya minta maaf mau luruskan, itu adalah narasi yang keliru. Tidak ada itu keos-keos. Yang ada adalah semuanya terkendali,” kata Teddy Indra Wijaya.
Isu yang ia tangkis bukan muncul dari ruang kosong. Sebelumnya, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla disebut pernah menyampaikan kekhawatiran soal kemungkinan guncangan nasional pada kisaran Juli hingga Agustus 2026. Pernyataan itu diungkap oleh Muhammad Said Didu dalam sebuah acara diskusi yang diunggah di kanal YouTube Edy Mulyadi pada 22 Maret 2026. Kekhawatiran JK dikaitkan dengan tekanan ekonomi domestik yang berhimpitan dengan ketidakpastian situasi global.
Teddy menjawab dengan data. Ia menyebut keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah gejolak konflik di Timur Tengah sebagai bukti konkret bahwa kondisi dalam negeri tidak goyah.
“Di tengah konflik global dan dampak di Timur Tengah, banyak sekali negara yang menaikkan harga BBM, kesulitan BBM, tapi justru Presiden Prabowo memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi sama sekali. Itu fakta,” ujarnya.
Selain soal BBM, Teddy menyebut data ekonomi dari para ekonom menunjukkan arah yang optimistis. Daya beli masyarakat dinilai masih terjaga. Ia juga menunjuk dua kali momen Lebaran di bawah pemerintahan Prabowo sebagai penanda stabilitas yang paling mudah dirasakan masyarakat secara langsung.
“Data perekonomian dari ekonom yang benar menunjukkan kita mengarah ke optimistik. Daya beli masyarakat terjaga,” lanjutnya.
Dua kali Lebaran itu, kata Teddy, berlangsung tanpa gejolak harga yang berarti. Harga bahan pokok stabil, pasokan energi terjaga, dan arus mudik berjalan lancar.
“Harga bahan pokok, kebutuhan pokok tersedia, harga-harga stabil, BBM tersedia, dan arus mudik lancar. Itu adalah fakta data yang tersedia di lapangan. Jadi masyarakat jangan khawatir,” pungkasnya.
Yang menarik untuk dicatat adalah waktu pemilihan momen sanggahan ini. Pemerintah memilih merespons secara terbuka, alih-alih membiarkan isu berkembang tanpa jawaban resmi. Ini menandakan bahwa prediksi soal chaos dianggap cukup serius untuk ditanggapi dari tingkat Istana, meski secara bersamaan diklaim sebagai narasi yang tidak berdasar.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: