Jual Minyak Venezuela Rp8,45 T, Trump Targetkan Investasi hingga Rp1.689 T

- AS resmi menjual minyak Venezuela senilai US$500 juta atau Rp8,45 triliun dalam transaksi perdana, dengan penjualan tambahan diperkirakan terjadi beberapa hari ke depan
- Trump targetkan investasi US$100 miliar atau Rp1.689 triliun untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela, namun CEO ExxonMobil menilai investasi tidak layak
- Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dengan 303 miliar barel atau 17% cadangan global, melampaui Arab Saudi dan Iran
, Jakarta – Amerika Serikat secara resmi memulai penjualan minyak Venezuela dengan nilai transaksi pertama mencapai US$500 juta atau setara Rp8,45 triliun (kurs Rp16.890). Informasi mengenai penjualan perdana ini disampaikan oleh seorang pejabat pemerintahan AS kepada CNN.
Pihak pemerintah memperkirakan penjualan tambahan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Namun, detail mengenai transaksi minyak Venezuela kali pertama ini masih belum dipublikasikan secara terbuka.
Juru Bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyatakan bahwa tim Presiden Donald Trump tengah memfasilitasi diskusi berkelanjutan yang positif dengan perusahaan minyak.
Perusahaan-perusahaan tersebut siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela.
Pada Rabu pekan lalu, Reuters melaporkan bahwa minyak mentah Venezuela ditawarkan dengan harga diskon kepada para pedagang. Harganya lebih murah dibandingkan dengan minyak kompetitor dari negara-negara lain seperti Kanada.
Sejak menyerang Venezuela dan menahan presidennya Nicolás Maduro pada awal Januari ini, Trump menegaskan keinginannya untuk memanfaatkan cadangan minyak negara Amerika Latin tersebut.
Jumat pekan lalu, Trump mengklaim bahwa industri minyak AS akan menginvestasikan setidaknya US$100 miliar atau setara Rp1.689 triliun untuk membangun kembali sektor energi Venezuela, meskipun asal-usul angka tersebut tidak dijelaskan secara rinci.
Rencana Washington untuk mengeksploitasi minyak Venezuela ternyata mendapat sambutan skeptis dari para petinggi perusahaan energi raksasa Amerika Serikat.
“Ini tidak layak investasi,” kata CEO ExxonMobil Darren Woods kepada para pejabat ketika membahas hambatan untuk berbisnis di Venezuela di Gedung Putih, Jumat lalu.
Woods menambahkan bahwa ada sejumlah kerangka hukum dan komersial yang harus ditetapkan terlebih dahulu untuk memahami jenis keuntungan apa yang akan diperoleh dari investasi tersebut.
Beberapa eksekutif perusahaan lainnya juga menyuarakan keengganan untuk berbisnis di negara Amerika Latin yang sedang dilanda konflik tersebut.
Setelah pertemuan panjang di Gedung Putih, Trump dan para pembantunya keluar tanpa membawa kepastian komitmen investasi dari ExxonMobil dan perusahaan-perusahaan lainnya.
Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran.
Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global.
Angka tersebut mengalahkan jumlah cadangan minyak Arab Saudi yang mencapai 267 miliar barel, Iran dengan 209 miliar barel, serta Irak dengan 145 miliar barel.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: