Khamenei Tewas, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung Nasional

- Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas di tengah serangan Israel dan AS ke Iran, dan pemerintah menetapkan 40 hari berkabung nasional serta tujuh hari libur.
- Konflik memanas setelah Iran membalas serangan dengan menggempur Israel dan sejumlah negara Arab yang menjadi basis militer AS seperti Qatar, UEA, Bahrain, dan Kuwait.
- Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah,” memperkeruh ketegangan kawasan.
, Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas di tengah eskalasi perang yang dipicu serangan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran.
Kabar kematian Khamenei diumumkan media pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026). Namun hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kronologi maupun lokasi pasti insiden yang menyebabkan kematiannya.
Dilansir Al Jazeera, kantor berita Fars News Agency melaporkan pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional atas wafatnya Khamenei. Selain itu, tujuh hari libur nasional juga diberlakukan.
Pengumuman tersebut langsung mengguncang kawasan Timur Tengah yang sebelumnya sudah memanas akibat aksi saling balas serangan.
Sejak Sabtu (28/2), Israel dan AS meluncurkan serangan rudal ke sejumlah titik strategis di Iran. Target serangan disebut mencakup instalasi militer dan fasilitas penting lainnya.
Teheran tidak tinggal diam. Iran membalas dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel. Selain itu, Iran juga menyerang negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump turut mengonfirmasi kematian Khamenei melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump, seperti dikutip Agence France-Presse.
Pernyataan Trump diperkirakan akan semakin memperkeruh situasi, mengingat posisi Khamenei selama ini bukan hanya sebagai kepala negara secara de facto, tetapi juga simbol kekuasaan politik dan keagamaan di Iran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Dunia kini menanti bagaimana respons internal Teheran dan sejauh mana konflik yang sudah memanas ini akan berkembang setelah wafatnya tokoh sentral tersebut.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: