Korban Tewas Terus Bertambah, Iran Ancam Serangan Balasan ke AS

- Iran mengancam akan membalas jika AS melancarkan serangan militer di tengah gelombang protes.
- Ratusan orang dilaporkan tewas dalam penanganan demonstrasi anti-pemerintah di Iran.
- AS meningkatkan tekanan terhadap Teheran, memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional.
, Jakarta – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya gelombang protes anti-pemerintah yang melanda berbagai kota. Iran menegaskan siap melakukan serangan balasan jika Washington melakukan aksi militer terhadap negara tersebut.
Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang menyebut setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menargetkan kepentingan militer AS di kawasan Timur Tengah. Ia juga menyinggung wilayah yang dikuasai Israel sebagai bagian dari target potensial jika eskalasi konflik terjadi.
Ancaman tersebut muncul saat Iran tengah menghadapi tekanan domestik yang besar. Aksi demonstrasi yang meletus sejak akhir Desember terus meluas dan berubah dari protes ekonomi menjadi penentangan terbuka terhadap pemerintahan yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa ratusan orang telah meninggal dunia dalam bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran selama dua pekan terakhir.
Ribuan lainnya disebut mengalami penangkapan, sementara akses internet di sejumlah wilayah dibatasi untuk meredam arus informasi dan koordinasi aksi massa.
Pemerintah Iran menuding kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel, berada di balik gejolak tersebut. Tuduhan itu disertai seruan untuk menggelar aksi nasional guna melawan apa yang disebut sebagai campur tangan eksternal.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran. Ia menyebut Washington tidak akan tinggal diam jika pemerintah Iran terus menggunakan kekerasan mematikan terhadap warga sipil. Trump juga membuka kemungkinan langkah lanjutan, termasuk tekanan militer dan non-militer.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, terutama mengingat keberadaan pangkalan militer AS di sejumlah negara sekitar Iran serta posisi Israel yang dinilai berada dalam kondisi siaga tinggi.
Para pengamat menilai situasi ini berpotensi memperburuk stabilitas regional jika tidak diiringi upaya diplomasi yang serius dari semua pihak terkait.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: