Modal Asing Lari Rp13,92 Triliun dalam Seminggu Akibat Polemik MSCI

- Investor asing membukukan net sell Rp13,92 triliun dalam sepekan akibat polemik MSCI dan BEI, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya yang hanya Rp3,25 triliun
- IHSG ambles 6,94 persen ke level 8.329,60 dengan kapitalisasi pasar menguap Rp1.198 triliun, dipicu pembekuan rebalancing indeks MSCI dan pengunduran diri lima petinggi OJK dan BEI
- Analis memperkirakan potensi capital outflow US$25-50 miliar jika Indonesia turun status dari emerging market ke frontier market, meski peluang buy on weakness mulai terbuka di saham blue chip
, Jakarta – Polemik antara MSCI dan Bursa Efek Indonesia memicu kepanikan investor asing. Dalam sepekan terakhir, mereka mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp13,92 triliun.
IHSG tercatat merosot 6,94 persen ke level 8.329,60 pada periode 26-30 Januari 2026. Volatilitas pasar sangat tinggi sepanjang pekan ini.
BEI bahkan harus memberlakukan trading halt dua kali. Pertama pada Rabu (28/1/2026) pukul 13.43 setelah IHSG terjun 8 persen. Keesokan harinya, pembekuan perdagangan kembali dilakukan selama 30 menit mulai pukul 09.26.
Kapitalisasi pasar ikut menguap Rp1.198 triliun menjadi Rp15.046 triliun dari Rp16.244 triliun pekan sebelumnya.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mencatat investor asing membukukan net sell Rp1,53 triliun pada Jumat (31/1/2026) saja.
Angka aksi jual bersih pekan ini jauh lebih besar dibanding pekan sebelumnya yang tercatat Rp3,25 triliun. Secara akumulasi sepanjang Januari 2026, investor asing telah melepas saham senilai Rp9,88 triliun.
Biang keladi ketegangan ini adalah keputusan MSCI. Setelah konsultasi soal penilaian free float saham Indonesia, lembaga internasional itu membekukan rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia pada Selasa (27/1/2026).
MSCI menyebut meski ada perbaikan minor pada data free float BEI, investor menilai masih ada masalah mendasar terkait keterbukaan kepemilikan saham.
Menjelang akhir pekan, pasar dikejutkan pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman pada Jumat pagi. Bola salju itu berlanjut dengan mundurnya Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, dan Deputi Komisioner IB Aditya Jayaantara pada sore hari.
Malam harinya, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga menyerahkan jabatan.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai sentimen MSCI lebih berpengaruh dalam jangka pendek, khususnya terhadap aliran dana pasif. Investor asing kini cenderung lebih selektif atau wait and see.
Investor aktif tetap berfokus pada faktor fundamental, likuiditas, dan valuasi. Dampaknya tidak merata di seluruh saham.
“Di tengah koreksi berbasis sentimen tersebut, peluang buy on weakness dinilai mulai terbuka, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chips,” katanya.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menyoroti risiko capital outflow jika status Indonesia turun dari emerging market ke frontier market.
Dia memperkirakan akan ada aliran dana keluar sekitar US$25 miliar hingga US$50 miliar bila skenario terburuk itu terjadi.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus melihat aksi jual asing terbanyak terjadi di saham perbankan yang masuk indeks MSCI. Risiko penurunan status pasar menjadi faktor psikologis yang memperberat tekanan.
“Sudah pasti otomatis capital outflow dari masing-masing saham yang besar itu pasti akan keluar, dan dalam jumlah yang besar,” ujarnya.
Meski kinerja emiten masih solid dan valuasi menarik, tekanan jual tidak bisa dihindari.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai tekanan jual asing lebih mencerminkan proses foreign de-risking pascapengumuman MSCI, bukan pelemahan fundamental.
“Tekanan pada saham perbankan saat ini lebih didorong faktor teknikal berupa foreign de-risking pasca pengumuman MSCI, bukan pelemahan fundamental,” jelasnya.
Bank-bank masih mencatatkan profitabilitas solid dengan earnings downside risk yang relatif terbatas.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: