Net Sell Asing Tembus Rp9,87 Triliun! Ini Penyebab IHSG Terpuruk di 2026

- IHSG tertekan berat sepanjang 2026 akibat pembekuan rebalancing MSCI (28/2/2026) dan konflik AS-Iran yang memicu net sell asing dari Rp1,06 triliun (net buy awal tahun) menjadi Rp9,87 triliun pada Januari dengan akselerasi ke Rp9,51 triliun pada 27/2/2026
- Analis memandang tekanan bersifat temporer dan siklikal karena rotasi likuiditas ke safe haven (dolar, obligasi, emas) bukan kerusakan fundamental, dengan proyeksi IHSG sideways semester 1 dan potensi pemulihan semester 2 jika konflik reda dan Fed turunkan suku bunga
- Rekomendasi investor: strategi defensif dengan saham JPFA, SIDO, MAIN, MEDC, ESSA, ELSA, AKRA, ANTM, ICBP, PTBA, ITMG atau instrumen rendah risiko (RDPU, SBN, SRBI, emas) sambil tingkatkan porsi kas untuk akumulasi bertahap saat valuasi kian menarik
, Bursa saham Indonesia menghadapi tekanan berat sepanjang awal 2026 akibat gempuran bertubi-tubi dari keputusan MSCI membekukan rebalancing hingga eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong pelarian modal asing secara masif dari pasar modal Tanah Air.
Catatan Bursa Efek Indonesia menunjukkan aksi net sell asing mengalami akselerasi tajam sejak MSCI Inc. mengumumkan pembekuan rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada 28 Februari 2026. Posisi IHSG yang semula membukukan net buy Rp1,06 triliun di awal tahun langsung berbalik menjadi net sell Rp9,87 triliun saat Januari ditutup.
Situasi semakin memburuk akibat memuncaknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran pasar sudah terlihat sejak akhir pekan lalu, tercermin dari lonjakan net sell asing yang menyentuh Rp9,51 triliun pada Jumat 27 Februari 2026, meningkat dari Rp8,81 triliun sehari sebelumnya.
Pada awal perdagangan Senin 2 Maret 2026, dampaknya langsung terasa dengan IHSG sempat ambrol lebih dari 2%. Indeks LQ45 yang mengukur kinerja saham-saham blue chip bahkan terpangkas 2,34% hingga pukul 15.20 WIB. Hanya emiten di sektor logam mulia dan migas yang berhasil menguat di tengah tekanan pasar.
“Dana global cenderung bergerak ke aset defensif, seperti dolar, obligasi negara maju, atau emas, sehingga emerging markets termasuk Indonesia menghadapi volatilitas arus dana,” ungkap Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, Senin 2 Maret 2026.
Konflik yang memanas antara AS-Israel dengan Iran dipandang sebagai guncangan eksternal yang meningkatkan premi risiko global dan memicu respons risk-off investor jangka pendek. Dengan kata lain, investor global memilih strategi pengurangan risiko saat volatilitas meningkat.
Liza menilai besaran net sell asing Rp9,51 triliun pekan lalu mengindikasikan pasar masih rentan terhadap potensi gelombang risk-off berikutnya.
Sejalan dengan itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyatakan eskalasi konflik Timur Tengah memaksa investor global segera mengamankan dana dari emerging market menuju safe haven assets. Buktinya, harga emas spot melompat 2,49% ke level US$5.410 per troy ounce hari ini.
“Eskalasi konflik Timur Tengah memicu sentimen risk-off global, memaksa investor mempercepat capital flight dari emerging markets menuju aset safe haven. Dampaknya signifikan jangka pendek, menekan IHSG dan melemahkan rupiah,” kata Wafi kepada Bisnis, Senin 2 Maret 2026.
Wafi memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways hingga semester pertama 2026 lantaran sentimen MSCI dan ketegangan geopolitik yang belum reda. KISI memperkirakan aliran dana asing baru akan kembali secara bertahap pada semester kedua 2026 jika intensitas perang menurun dan The Fed menurunkan suku bunga.
Peluang Pulihnya Pasar Saham
Senior Vice President Head of Retail & Product Development Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan berpandangan tekanan terhadap IHSG belakangan lebih tepat dikategorikan sebagai rotasi likuiditas ketimbang kerusakan fundamental pasar saham domestik.
Terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Reza menilai eskalasi konflik telah mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS yang secara historis memicu respons risk-off dari investor di emerging markets.
“Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berimplikasi pada risiko pelebaran defisit fiskal dan tekanan terhadap rupiah. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung menurunkan eksposur secara taktis, terutama pada pasar dengan sensitivitas terhadap energi dan nilai tukar,” ujarnya kepada Bisnis, Senin 2 Maret 2026.
Sementara terkait faktor MSCI Inc., Reza menilai pelarian dana asing lebih bersifat teknikal dan terkait mandat indeks, tanpa ada perubahan fundamental di pasar. Hal ini lebih mencerminkan disiplin manajemen risiko investor global terhadap prospek pasar saham Tanah Air yang mendapat penilaian sejumlah lembaga keuangan global.
Dari sisi fundamental domestik, Reza menyebut kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Stabilitas sektor perbankan, permodalan yang kuat, hingga profitabilitas yang resilien dinilai menjadi penopang fundamental ekonomi domestik.
“Selama konflik tidak berkembang menjadi gangguan pasokan energi global yang signifikan, tekanan ini cenderung bersifat siklikal. Valuasi pasar yang semakin kompetitif justru berpotensi menjadi daya tarik ketika sentimen global mulai stabil,” katanya.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai kondisi sepinya pasar dari dana asing belum tentu berlangsung sepanjang paruh pertama 2026. Meskipun inflow asing cenderung terbatas, beberapa katalis dinilai mampu menarik kembali dana asing.
Sejumlah sentimen yang berpotensi menggaet kembali dana asing meliputi meredanya konflik di Timur Tengah, ekspektasi pelonggaran moneter bank sentral AS, hingga valuasi saham Indonesia yang kian menarik pasca koreksi dalam.
Namun, sentimen tersebut bergantung pada asumsi konflik tidak meluas dan mengganggu jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz yang berpotensi memicu lonjakan ekstrem harga minyak. Selama stabilisasi konflik terjaga, tekanan terhadap pasar saham bersifat temporer.
“Biasanya, setelah fase risk-off mereda, emerging market dengan valuasi murah justru menjadi tujuan rotasi dana berikutnya dan Indonesia termasuk kandidat tersebut,” katanya.
Alrich menyebut tekanan akibat ketegangan geopolitik biasanya hanya berlangsung 1-2 minggu hingga sentimen reda. Faktor konflik geopolitik tidak menekan pasar saham secara jangka panjang.
Dalam kondisi ini, Alrich merekomendasikan investor mengedepankan pendekatan selektif dan defensif, namun tidak keluar sepenuhnya dari pasar saham.
Beberapa saham defensif yang direkomendasikan antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN). Selain itu, dia juga merekomendasikan saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA), PT Elnusa Tbk. (ELSA), dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA).
“Investor juga dapat meningkatkan porsi kas untuk menjaga fleksibilitas sambil menunggu stabilisasi pasar, sekaligus memanfaatkan koreksi berbagai peluang akumulasi bertahap,” katanya.
Sementara itu, KISI menyarankan investor memasang strategi defensif dengan mengalihkan bobot portofolio ke instrumen rendah risiko seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), SBN, SRBI, atau emas.
Beberapa saham yang masuk rekomendasi KISI antara lain MEDC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan ESSA.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: