Perdana Menteri Greenland Tegaskan Tak Mengetahui Isi Kesepakatan Trump-NATO

- PM Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan tidak mengetahui detail kesepakatan Trump-NATO soal Greenland dan menegaskan hanya Greenland dan Denmark yang berhak membuat keputusan atas wilayah tersebut
- Nielsen mengkritik keras retorika AS yang dinilai tidak dapat diterima dan menyebabkan warga Greenland yang cinta damai merasa terancam kehilangan kebebasan mereka
- Trump mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland dan Arktik setelah bertemu Sekjen NATO di Davos, didorong oleh kepentingan strategis AS di kawasan tersebut serta kekhawatiran terhadap pengaruh Rusia dan China
, LONDON – Pimpinan pemerintahan Greenland menyatakan tidak memiliki informasi mengenai kesepakatan yang dibuat antara Amerika Serikat dan organisasi pertahanan Atlantik Utara terkait wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis waktu setempat menyusul pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Forum Ekonomi Dunia Davos.
Jens-Frederik Nielsen, Perdana Menteri Greenland, mengonfirmasi keberadaan kelompok kerja yang tengah mencari solusi atas persoalan ini. Namun, ia menegaskan tidak mengetahui detail spesifik dari kesepakatan yang diumumkan Trump.
“Sehubungan dengan kesepakatan tersebut, saya tidak tahu secara spesifik apa isinya. Tetapi saya tahu bahwa sekarang kami memiliki kelompok kerja yang sedang berupaya mencari solusi,” kata Nielsen dalam konferensi pers di Nuuk, ibu kota Greenland.
Nielsen menegaskan bahwa hanya Greenland dan Denmark yang berhak membuat kesepakatan atas nama mereka. Tidak ada pihak luar yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan tanpa persetujuan kedua pemerintahan tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, delegasi dari Greenland dan Denmark telah bertemu dengan Rutte untuk menyampaikan posisi mereka. Dalam pertemuan tersebut, mereka kembali menegaskan prinsip-prinsip fundamental yang harus dihormati, yakni integritas nasional, kedaulatan wilayah, dan ketentuan hukum internasional.
Pemimpin Greenland itu mengkritik keras cara Amerika Serikat mengomunikasikan keinginan mereka terhadap Greenland. Ia menilai retorika yang digunakan Washington tidak pantas dan tidak dapat diterima.
Nielsen juga menyampaikan optimisme bahwa hubungan baik antara Greenland dan AS masih dapat dibangun kembali. Namun, ia mengakui hal tersebut menjadi sulit ketika warga Greenland terus-menerus mendengar ancaman dari pihak AS.
“Namun tentu saja sulit ketika Anda mendengar ancaman setiap malam. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi warga Greenland orang-orang yang cinta damai di Greenland mendengar setiap hari bahwa seseorang ingin mengambil kebebasan Anda,” tambahnya.
Pertemuan antara Trump dan Rutte berlangsung di sela-sela perhelatan Forum Ekonomi Dunia yang digelar di Davos, Swiss. Setelah pertemuan tersebut, Trump mengumumkan bahwa kerangka kerja untuk kesepakatan yang melibatkan Greenland dan kawasan Arktik yang lebih luas telah ditetapkan.
Trump juga mengindikasikan tidak akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak rencana akuisisi AS atas Greenland. Langkah ini dianggap sebagai upaya melunak setelah sebelumnya mengancam akan mengenakan sanksi ekonomi.
Presiden AS menunjukkan minat besar terhadap Greenland karena beberapa alasan strategis. Posisi geografis pulau itu di kawasan Arktik, kekayaan sumber daya mineral yang berlimpah, serta kekhawatiran terhadap pengaruh Rusia dan China di wilayah tersebut menjadi faktor utama.
Denmark dan Greenland secara tegas telah menolak usulan untuk menjual wilayah itu kepada AS. Kedua pemerintahan tersebut terus menegaskan kedaulatan Denmark atas pulau tersebut dan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Greenland.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: