Pilot Polairud Menangis Saat Mendarat di Desa Rampa yang Terisolir Hampir Sepekan Tanpa Bantuan

- Pilot Polairud, AKP W Budianto, mengaku hampir menangis setiap kali mendarat di Desa Rampa, Tapanuli Tengah, yang terisolir total dan hanya bisa dijangkau lewat jalur udara.
- Tim Polairud dan Polda Sumut melakukan dua hingga tiga kali airdrop logistik setiap hari untuk warga yang hampir sepekan tanpa suplai bantuan akibat longsor.
- Kabid TIK Polda Sumut, Kombes M Adenan, memimpin penyaluran bantuan yang memprioritaskan anak-anak, orang tua, dan ibu-ibu, sambil memastikan distribusi aman dan tepat sasaran.
, Tapanuli Tengah –Pilot helikopter Ditpolairud Polri, AKP W Budianto, mengisahkan situasi memilukan saat ia mendarat di wilayah terdampak bencana di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Daerah yang ia datangi itu sepenuhnya terputus dari akses darat, membuat jalur udara menjadi satu-satunya harapan warga.
“Kami diperbantukan dari Direktorat Kepolisian Air Udara Polairud Polri untuk membantu mengirim logistik ke daerah-daerah yang tak bisa ditembus jalur darat,” ujar Budianto, dikutip dari laman resmi Polri, Rabu (10/12).
Budianto menyebut timnya bersama Polda Sumut melakukan dua hingga tiga kali airdrop setiap hari, bergantung pada kondisi cuaca dan medan. Salah satu pengiriman dilakukan pada Selasa (9/12), menuju wilayah longsor di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah.
“Setiap hari kami berusaha maksimal. Kalau kami landing di sana, rasanya ingin menangis melihat kondisi warga. Apa pun yang bisa kami lakukan, kami lakukan,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap penerbangan membawa misi mendesak untuk memastikan warga yang masih terisolir tetap mendapat suplai pangan dan kebutuhan dasar. “Kami berikan kemampuan kami sepenuhnya. Drop logistik segera, kirim secepat mungkin,” katanya.
Pengiriman bantuan pada Selasa (9/12) itu dipimpin Kabid TIK Polda Sumut, Kombes M Adenan. Rombongan menyalurkan paket sembako untuk warga Desa Rampa, desa perbukitan yang hampir sepekan terputus total dari dunia luar.
Sebagian besar akses menuju desa itu tertimbun longsor, sementara ruas lain ambles dan berubah menjadi jurang. Kondisi tersebut membuat helikopter Polairud menjadi satu-satunya jembatan logistik.
“Kami tidak ingin warga di sana menunggu terlalu lama. Utamanya anak-anak, orang tua, dan ibu-ibu yang sangat membutuhkan,” ujar Adenan.
Ia menegaskan kehadiran Polri bukan hanya mengantar bantuan, tetapi juga memastikan keamanan serta ketepatan distribusi.
Setiap penerbangan membawa beras, makanan siap konsumsi, air minum, hingga kebutuhan penting lainnya untuk memenuhi kebutuhan warga yang masih terisolasi.
“Mudah-mudahan kami bisa bekerja semaksimal mungkin. Tetap semangat untuk masyarakat Aceh, Sumbar, dan Sumut,” tutup Budianto.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: