Rupiah Melemah ke Rp16.830 per Dolar AS, Geopolitik Timur Tengah Jadi Penekan Utama

- Rupiah dibuka melemah 0,26 persen ke posisi Rp16.830 per dolar AS pada Senin pagi, sejalan dengan pelemahan hampir seluruh mata uang utama Asia akibat kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ekonomi AS.
- Direktur Traze Andalan Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 sepanjang pekan ini, sangat tergantung perkembangan konflik Timur Tengah, tarif AS, dan sinyal suku bunga The Fed.
- Indonesia turut terdampak kebijakan Departemen Perdagangan AS yang menetapkan tarif bea masuk 104,38 persen atas impor panel surya asal Indonesia, yang berpotensi menekan ekspor dan memperburuk sentimen pasar terhadap aset domestik.
, JAKARTA – Rupiah membuka pekan ini dengan tekanan. Nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat melemah 43 basis poin atau 0,26 persen ke posisi Rp16.830 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB, berdasarkan data Bloomberg. Di saat yang sama, indeks dolar AS justru ikut terdepresiasi 0,22 persen ke level 97,82, menunjukkan tekanan tidak semata berasal dari dalam negeri.
Pelemahan rupiah bukan terjadi sendirian. Hampir seluruh mata uang utama Asia kompak terdepresiasi dalam perdagangan pagi ini. Won Korea mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 0,72 persen, diikuti peso Filipina 0,58 persen, baht Thailand 0,40 persen, serta yen Jepang, dolar Singapura, rupee India, ringgit Malaysia, dan yuan China yang masing-masing melemah dalam kisaran 0,07 hingga 0,26 persen. Hanya dolar Hong Kong yang bergerak tipis menguat 0,01 persen.
Direktur Traze Andalan, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan dalam jangka pendek.
“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.820 pada perdagangan awal pekan ini,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Dalam rentang sepekan ke depan, ia memperkirakan rupiah bergerak di koridor Rp16.750 hingga Rp16.900. Arahnya sangat bergantung pada tiga hal: perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, kebijakan tarif Amerika Serikat, dan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Soal suku bunga, The Fed diperkirakan masih menahan diri dari pemangkasan pada pertemuan Maret dan April 2026, lantaran inflasi di Amerika Serikat dinilai belum cukup jinak. Kondisi ini membuat dolar AS tetap memiliki daya tarik bagi investor global, yang pada akhirnya memperlemah mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Tekanan dari Washington tidak berhenti di sana. Mahkamah Agung AS memang membatalkan sebagian besar tarif perdagangan era Trump, namun presiden itu langsung merespons dengan mengumumkan tarif baru menggunakan dasar hukum yang berbeda, sekaligus membuka peluang tambahan bea masuk. Pasar pun tetap waspada.
Yang cukup menyengat bagi Indonesia secara khusus adalah kebijakan Departemen Perdagangan AS yang menetapkan bea masuk imbalan sebesar 104,38 persen terhadap impor sel dan panel surya dari Indonesia. Kebijakan ini dinilai berpotensi menekan kinerja ekspor dan memperburuk sentimen terhadap aset domestik dalam waktu dekat.
Di tingkat geopolitik, eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Pergerakan modal keluar dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang, adalah konsekuensi yang hampir selalu muncul setiap kali ketegangan di Timur Tengah memanas.
Berikut kurs dolar AS di empat bank besar pada Senin, 2 Maret 2026:
Pada pukul 09.53 WIB, BCA menetapkan e-rate beli Rp16.821 dan jual Rp16.841. Melalui TT counter dan bank notes, harga beli Rp16.658 dan jual Rp16.958.
BRI pada pukul 09.52 WIB mematok e-rate beli Rp16.816 dan jual Rp16.841. Untuk TT counter, beli Rp16.740 dan jual Rp16.940.
Bank Mandiri per pukul 09.09 WIB mencatat special rate beli Rp16.810 dan jual Rp16.840. Melalui TT counter dan bank notes, harga beli Rp16.580 dan jual Rp16.880.
BNI pada pukul 09.50 WIB menetapkan special rate beli Rp16.817 dan jual Rp16.837. TT counter dan bank notes mencatat harga beli Rp16.685 dan jual Rp16.985.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: