Soal Iuran USD 1 Miliar Board of Peace, Ini Penjelasan Tegas Sekretaris Kabinet

- Sekretaris Kabinet menegaskan keanggotaan Indonesia di Board of Peace tidak tetap dan bisa ditarik kapan saja, dengan iuran USD 1 miliar tidak bersifat wajib
- Indonesia belum membayar iuran rekonstruksi Gaza, status keanggotaan saat ini sebagai anggota tidak tetap dengan masa berlaku tiga tahun
- Pemerintah meyakini keikutsertaan dalam Board of Peace adalah langkah konkret untuk terlibat langsung dalam upaya perdamaian di Gaza, bukan sekadar forum diskusi
, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memastikan Indonesia bisa menarik diri dari keanggotaan Board of Peace atau Dewan Perdamaian kapan saja. Keanggotaan Indonesia dalam forum perdamaian itu tidak bersifat tetap.
“Keanggotaan tidak bersifat tetap. Indonesia sewaktu-waktu dapat menarik diri dari keanggotaan,” ujar Teddy dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).
Teddy menekankan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace merupakan langkah konkret untuk mewujudkan gencatan senjata di Gaza. Bukan sekadar hadir dalam forum diskusi tanpa hasil nyata.
“Keikutsertaan Indonesia merupakan langkah konkret untuk turut serta secara langsung dalam mengurangi peperangan di Palestina, dan bukan hanya sebatas ikut konferensi, rapat, diskusi, atau pertemuan resmi,” katanya.
Teddy membantah isu iuran USD 1 miliar yang sempat beredar luas. Menurutnya, dana tersebut bukan kewajiban bagi anggota Board of Peace. Tujuan dana itu untuk rekonstruksi Gaza, dan setiap negara bebas memutuskan ikut membayar atau tidak.
“Para negara anggota boleh membayar atau tidak. Jika membayar maka akan menjadi anggota tetap. Namun bila tidak membayar, maka keanggotaan akan berlangsung selama 3 tahun. Saat ini, Indonesia belum membayar,” jelasnya.
Skema keanggotaan Board of Peace membedakan anggota tetap dan sementara berdasarkan kontribusi finansial. Negara yang menyetor dana rekonstruksi Gaza otomatis menjadi anggota tetap, sementara yang tidak membayar tetap bisa menjadi anggota selama tiga tahun.
Indonesia, menurut Teddy, belum memasuki tahap pembayaran. Artinya, status keanggotaan saat ini masih dalam kategori anggota tidak tetap dengan masa berlaku terbatas.
Teddy menyebut diplomasi Prabowo Subianto selalu mengutamakan pencapaian konkret bagi bangsa. Hal itu terlihat dari sejumlah capaian strategis yang diraih Indonesia dalam setahun terakhir.
Indonesia berhasil bergabung dengan BRICS, kelompok negara dengan kekuatan ekonomi besar dunia seperti Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India.
“Indonesia bergabung dengan BRICS, yang beranggotakan, di antaranya Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India yang merupakan kekuatan ekonomi dunia,” kata Teddy.
Selain itu, pemerintah juga berhasil menetapkan tarif dagang nol persen di 27 negara Uni Eropa. Ada pula kesepakatan pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi yang memberi manfaat langsung bagi umat Islam Indonesia.
Indonesia turut mencatat sejarah dengan menandatangani perjanjian perdamaian Palestina yang diinisiasi Amerika Serikat. Pasca-penandatanganan, jumlah konflik dan korban di Gaza berkurang signifikan.
Keterangan Teddy ini muncul di tengah polemik bergabungnya Indonesia ke Board of Peace. Sejumlah ormas Islam sempat mendesak pemerintah mundur dari forum tersebut karena dinilai tidak pro-Palestina. Namun pemerintah meyakini langkah ini justru memberi ruang bagi Indonesia untuk berperan langsung dalam upaya perdamaian.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: