Stok Beras Melimpah! Bulog Siap Ekspor 1 Juta Ton ke Negara Tetangga Tahun Ini

, JAKARTA – Perum Bulog membuka kemungkinan untuk mengekspor beras ke luar negeri setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan. Rencana ekspor ini akan dilaksanakan jika target cadangan beras pemerintah sebesar 4 juta ton terpenuhi pada tahun 2026.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan bahwa stok beras nasional saat ini berada pada level yang cukup tinggi. Per 8 Januari 2026, stok beras Bulog secara nasional telah mencapai 3,35 juta ton.
“Jadi total stok beras Bulog di tanah air adalah 3.351.900 ton. Dan kesiapan stok ini untuk menghadapi pertama Imlek dalam waktu dekat, kemudian menghadapi Ramadan, kemudian menghadapi Lebaran,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantor pusat BNPB, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Rizal menjelaskan bahwa stok tersebut masih akan terus bertambah secara signifikan sepanjang tahun ini. Hal ini didukung oleh potensi hasil panen yang tinggi dan target penyerapan Bulog yang mencapai 4 juta ton setara beras pada 2026.
“Insyaallah dengan stok ini akan terus bertambah, karena potensi hasil panen dari Kementerian Pertanian, kami Bulog ditargetkan di tahun 2026 ini targetnya serapannya adalah 4 juta ton,” jelasnya.
Dengan penambahan stok dari penyerapan baru, Rizal memperkirakan total cadangan beras Bulog berpotensi mendekati 7 juta ton. Jika kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi, pemerintah akan membuka peluang ekspor ke sejumlah negara.
Mengenai volume ekspor, Rizal mengungkapkan sudah ada arahan awal dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk menyiapkan ekspor sebesar 1 juta ton beras premium.
“Kalau tadi pagi arahan dari Pak Mentan, kita siapkan untuk ekspor 1 juta ton,” ungkap Rizal.
Bulog saat ini tengah melakukan penjajakan dengan perwakilan perdagangan negara mitra untuk membuka peluang ekspor. Pihaknya memprioritaskan ekspor ke negara-negara tetangga serta negara yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan.
“Kami akan berkomunikasi ketat dengan beliau, supaya kalau memang ada peluang kita akan kirim beras-beras Bulog untuk ekspor ke negara-negara tetangga terutama. Yang kedua, adalah negara-negara yang betul-betul membutuhkan, apalagi daerah konflik dan lain sebagainya,” kata Rizal.
Bulog telah mulai menawarkan produk berasnya kepada atase perdagangan dari negara-negara tetangga. Beberapa negara yang menjadi target potensial antara lain Timor Leste, Papua Nugini, dan bahkan Malaysia.
“Kami juga sudah tawarkan ke atase perdagangan masing-masing negara-negara tetangga, kita coba mulai lobi. Mungkin ada yang berkenan, nanti kita koordinasikan harganya berapa,” ujar Rizal.
Namun, ia menegaskan bahwa negara tujuan ekspor saat ini masih dalam tahap proyeksi awal dan belum ada keputusan final.
“Nah ini sedang proyeksi penjajakan, nanti kalau ada hasilnya pasti kami laporkan segera,” pungkasnya.
Rencana ekspor ini menjadi salah satu agenda penting yang dibahas dalam Rapat Kerja Nasional Seluruh Indonesia (Rakernas Selindo) Bulog bertajuk “Evaluasi Kinerja 2025 dan Rencana Kerja 2026” yang berlangsung pada 11-12 Januari 2026 di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta.
Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa Rakernas ini menjadi momentum konsolidasi nasional bagi Bulog untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto pasca capaian swasembada pangan nasional pada 2025.
“Rakernas Selindo ini menjadi momentum konsolidasi nasional bagi Bulog untuk menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia pasca capaian swasembada pangan nasional tahun 2025,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026).
Selain rencana ekspor, Bulog juga merumuskan strategi penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1,5 juta ton yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan sepanjang 2026. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang sempat terputus di tengah jalan.
Bulog juga menargetkan penjualan beras premium dan medium ke pasar umum sebesar 2,5 juta ton. Semua strategi ini dilakukan dengan tetap menjaga kecukupan stok nasional dan memastikan kemandirian pangan berjalan secara berkelanjutan.
Rizal menegaskan bahwa penyerapan 4 juta ton beras tersebut sepenuhnya berasal dari produksi dalam negeri tanpa impor.
“Sejak tahun 2025 tidak pernah impor lagi. Kita maksimalkan produk dari para petani lokal, dan kalau memang ada potensi bisa ekspor, kita ekspor, kalau negara lain yang mau menerima ekspor kita,” kata Rizal.
Selain beras, Bulog juga menetapkan target penyerapan jagung sebanyak 1 juta ton dan kedelai sebesar 70.000 ton secara nasional pada 2026. Untuk mendukung target penyerapan yang meningkat, Bulog juga tengah melakukan pencarian gudang-gudang tambahan dan mempersiapkan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen berupa gudang baru dan rice milling unit (RMU) di berbagai sentra produksi padi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: