Tak Dibelikan Buku, Bocah SD di Ngada Tutup Usia dengan Surat: Mama Pelit

- Siswa kelas IV SD berinisial YBR (10 tahun) ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih di kebun neneknya di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, pada Kamis (29/1/2026).
- Korban meninggalkan surat wasiat untuk ibunya yang berisi kekecewaan karena tak dibelikan buku tulis dan pulpen, serta menyebut ibunya pelit.
- Ibu korban adalah orang tua tunggal yang menghidupi lima anak dengan kondisi ekonomi sangat terbatas setelah ditinggal suami sejak 10 tahun lalu.
, NGADA – Seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, ditemukan tewas gantung diri di kebun neneknya pada Kamis (29/1/2026). Bocah berinisial YBR berusia 10 tahun itu diduga nekat mengakhiri hidupnya lantaran kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
Korban meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk ibunya. Kalimat-kalimat kekecewaan sekaligus perpisahan ditulis dengan bahasa sederhana menggunakan bahasa daerah Bajawa.
YBR ditemukan tergantung di pohon cengkih setinggi sekitar 15 meter dengan ikatan tali di ketinggian lima meter. Pohon tersebut hanya berjarak sekitar tiga meter dari pondok milik nenek korban.
“Omanya bantu pecah kemiri di rumah tetangga. Nginap di rumah tetangga. Korban ini malamnya tidur di rumah orang tuanya,” jelas Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, Jumat (31/1/2026).
Korban ditemukan oleh warga yang pergi mengikat ternaknya di kebun. Setelah mengikat ternak, warga tersebut hendak memberitahu nenek YBR untuk memerhatikan ternaknya. Saat itulah warga menemukan YBR sudah tak bernyawa.
Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jenazah. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya yang disebutnya pelit. Selebihnya berisi perpisahan dan diakhiri gambar anak menangis.
Isi surat YBR kepada ibunya berbunyi:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat tersebut ditulis korban sendiri.
“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” kata Benediktus, Selasa (3/2/2026).
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, YBR meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi yang susah.
YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa.
Dion menyebut kondisi ekonomi keluarga korban memang cukup berat. Ibu YBR merupakan orang tua tunggal yang harus menghidupi lima anak. Ayah YBR telah berpisah dari keluarganya sekitar 10 tahun lalu.
“Hidupnya susah,” ujar Dion.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan bunuh diri, segera konsultasikan ke psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: