Tantang Dominasi Elon Musk, Rusia Luncurkan 300 Satelit Rassvet dengan Teknologi 5G NTN

- Rusia menargetkan peluncuran 300 satelit LEO Rassvet dimulai Desember 2025 dengan roket Soyuz-2, berencana mencapai 900 satelit hingga 2035 dengan investasi US$57 miliar yang disetujui Putin
- Keunggulan Rassvet ada pada integrasi teknologi 5G NTN yang memungkinkan satelit berfungsi sebagai stasiun pemancar 5G di orbit, berbeda dari Starlink yang saat ini punya 8.000+ satelit aktif dengan 9 juta pengguna di 150 negara
- Proyek ini bagian dari upaya kemandirian teknologi Rusia setelah sanksi membatalkan proyek Sfera (2018), dipicu juga oleh penyesalan menolak Elon Musk tahun 2002 yang akhirnya membangun SpaceX sendiri
, Jakarta- Rusia bergerak cepat membangun jaringan satelit internet orbit rendah untuk menantang dominasi Starlink milik Elon Musk. Badan Antariksa Rusia (Roscosmos) menargetkan peluncuran konstelasi satelit Rassvet dimulai akhir tahun 2025 dan berlanjut sepanjang 2026.
Kepala Roscosmos Dmitry Bakanov menyatakan Rusia tengah bergerak cepat untuk membangun alternatif satelit orbit rendah. Sistem ini diharapkan dapat mengungguli kecepatan Starlink yang saat ini mendominasi pasar internet satelit global.
“Beberapa satelit uji sudah ditempatkan di orbit dan versi produksi telah dimodifikasi sesuai kebutuhan. Kami melangkah dengan cepat ke arah ini,” ujar Bakanov dalam wawancara dengan presenter televisi Rusia, Vladimir Solovyov.
Rassvet merupakan satelit orbit rendah yang dikembangkan oleh perusahaan kedirgantaraan Rusia Bureau 1440. Sistem ini dirancang khusus untuk menyediakan cakupan internet broadband berkecepatan tinggi.
Roscosmos berencana meluncurkan konstelasi dengan sekitar 300 satelit LEO pada tahap awal. Konstelasi ini akan memastikan sistem Rassvet sepenuhnya beroperasi dan siap digunakan pada tahun 2026.
Dalam jangka panjang, target lebih ambisius telah ditetapkan Moskow. Lebih dari 900 satelit diperkirakan akan diluncurkan hingga 2035, dengan layanan komersial yang melibatkan lebih dari 250 satelit dimulai pada 2027.
Bakanov mengungkapkan Roscosmos akan secara rutin meluncurkan satelit-satelit tersebut mulai Desember 2025. Misi pertama direncanakan akan mengangkut 16 satelit menggunakan roket Soyuz-2.
Keunggulan utama Rassvet terletak pada integrasi teknologi 5G NTN (Non-Terrestrial Network). Satelit-satelit Rassvet akan berfungsi sebagai stasiun pemancar 5G di orbit.
Konsep ini memungkinkan konektivitas yang lancar dengan perangkat 5G yang sudah ada di darat. Teknologi ini berpotensi menjadi keunggulan dalam interoperabilitas dan kecepatan dibandingkan kompetitor.
Setiap satelit Rassvet akan dilengkapi dengan perangkat keras yang berfungsi sebagai stasiun pemancar 5G. Perangkat ini dapat menerima dan mengirim sinyal dengan frekuensi dan protokol yang sesuai dengan standar 5G, dirancang khusus untuk komunikasi satelit.
Pada hari Jumat, Bakanov menunjukkan kepada wartawan Channel One sebuah terminal rancangan Rusia untuk akses internet broadband satelit. Terminal tersebut akan memungkinkan pengguna di mana pun di seluruh dunia untuk tetap terhubung.
Kepala badan antariksa negara itu menambahkan produksi massal perangkat keras akan dimulai sebelum akhir tahun ini. Langkah ini menunjukkan keseriusan Rusia dalam menghadirkan alternatif kompetitif terhadap Starlink.
Rassvet merupakan bagian dari program pengembangan antariksa Rusia yang lebih luas senilai 4,4 triliun rubel atau setara US$57 miliar. Program ambisius ini telah disetujui oleh Presiden Vladimir Putin pekan lalu.
Presiden Putin pertama kali mengumumkan proyek pesaing Starlink bernama Sfera pada tahun 2018. Namun, proyek tersebut dibatalkan akibat sanksi internasional terhadap Roscosmos.
Roscosmos sebelumnya telah meluncurkan tiga satelit di bawah proyek Rassvet-1 pada Juni 2023. Peluncuran tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan direktur sebelumnya Yury Borisov, yang diberhentikan pada Februari 2025 menyusul serangkaian kegagalan program.
Bakanov mengakui ketertinggalan Rusia dalam teknologi satelit tidak lepas dari kesalahan masa lalu. Ia menyinggung kisah tahun 2002 ketika Elon Musk datang ke Moskow untuk membeli rudal balistik antarbenua sebagai kendaraan peluncur.
Namun saat itu, Musk dianggap tidak serius oleh pejabat Rusia. Penolakan tersebut justru memicu Musk mencari cara sendiri dan akhirnya menurunkan biaya peluncuran roket secara drastis, merugikan Rusia dalam jangka panjang.
Starlink saat ini memiliki lebih dari 8.000 satelit aktif dan menjadi penyedia internet berbasis satelit terbesar di dunia. Layanan ini mulai diluncurkan pada tahun 2020 dan telah berkembang hingga lebih dari 9 juta pengguna di lebih dari 150 negara dan wilayah.
Teknologi Starlink banyak dimanfaatkan, termasuk oleh pasukan Ukraina di medan perang sejak invasi Rusia tahun 2022. Kyiv menuduh pasukan Rusia menggunakan perangkat Starlink yang diperoleh secara ilegal dari negara ketiga.
Namun layanan Starlink belum tersedia secara resmi di Rusia. Kondisi ini mendorong Moskow untuk mengembangkan sistem satelit komunikasi sendiri demi kemandirian teknologi.
Dengan dukungan anggaran besar dari negara, proyek Rassvet menjadi prioritas strategis Rusia. Moskow berupaya mencapai kemandirian dan kedaulatan akses komunikasi data berbasis satelit nasional.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: