Tekan Dolar AS, Iran Tawarkan “Tiket” Lewat Hormuz: Bayar Pakai Yuan, Kapal Boleh Lewat

- Iran mempertimbangkan mengizinkan sejumlah kecil tanker minyak melintas kembali melalui Selat Hormuz dengan syarat transaksi dilakukan dalam yuan China, bukan dolar AS, sebagai bagian dari rencana baru pengelolaan arus kapal tanker di perairan tersebut.
- Selat Hormuz telah lumpuh sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Khamenei, gangguan ini telah mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak Juli 2022 dan mempersulit pengiriman pangan, obat-obatan, dan kebutuhan kemanusiaan global.
- PBB memperingatkan konsekuensi pemblokiran Hormuz meluas jauh melampaui energi, sementara AS mengancam menyerang infrastruktur minyak Pulau Kharg jika Iran terus memblokir jalur tersebut.
, TEHERAN – Iran sedang mempertimbangkan skema baru yang memungkinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melintas kembali melalui Selat Hormuz, namun dengan syarat yang sarat muatan geopolitik kargo minyak tersebut harus diperdagangkan dalam mata uang yuan China, bukan dolar Amerika Serikat.
Informasi itu disampaikan seorang pejabat senior kepada CNN dan dilaporkan pada Minggu (15/3/2026). Menurut pejabat tersebut, Iran tengah mengerjakan rencana baru untuk mengelola arus lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz di tengah konflik yang masih berlangsung.
Langkah ini muncul setelah hampir tiga pekan Selat Hormuz lumpuh sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan memblokir jalur perairan tersebut dan menyerang pangkalan AS di kawasan Teluk. Sebelumnya Iran sempat membuka syarat lain, kapal boleh melintas jika negara asal mengusir duta besar AS dan Israel dari wilayahnya.
Minyak internasional hampir seluruhnya diperdagangkan dalam dolar, kecuali minyak Rusia yang terkena sanksi dan menggunakan rubel atau yuan. Persyaratan pembayaran yuan dari Iran ini dapat dibaca sebagai upaya Tehran menggeser dominasi dolar sekaligus memperdalam ketergantungannya pada China di tengah tekanan Barat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran, jika pemblokiran Selat Hormuz terus berlanjut. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Tom Fletcher memperingatkan konsekuensinya meluas jauh melampaui minyak.
“Ketika kapal berhenti bergerak melalui Selat itu, konsekuensinya menyebar dengan cepat. Makanan, obat-obatan, pupuk, dan persediaan lainnya menjadi lebih sulit untuk dipindahkan dan lebih mahal untuk dikirim,” kata Fletcher.
Syarat yuan ini menempatkan China pada posisi yang sangat strategis. Jika skema ini berjalan, Beijing de facto menjadi pihak yang menentukan siapa yang boleh mengakses energi global dari Teluk Persia. Bagi Indonesia yang menggantungkan sebagian impor minyaknya pada jalur ini, setiap perkembangan di Hormuz berdampak langsung pada harga BBM domestik dan ketahanan energi nasional.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: