TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Chaos Konser Gratis Valen DA7: Ibu-Ibu Berdesakan, Pedagang Terjatuh, Manajemen Acara Dipertanyakan

Poin Penting (3)
  • Konser gratis Valen DA7 di Stadion Pamelingan berujung chaos dengan desak-desakan massal yang membahayakan ibu-ibu dan anak-anak, dagangan pedagang terjatuh terinjak tanpa ada petugas yang membantu.
  • Bawang Mas Grup gelar acara tanpa melibatkan EO profesional, tidak ada sistem tiket untuk proyeksi pengunjung, jalur masuk wanita justru jadi titik paling berbahaya akibat buruknya crowd control.
  • Niat baik fasilitasi penuh H. Her tidak diimbangi manajemen profesional—tanpa protokol evakuasi, petugas cukup, atau asesmen risiko, berpotensi mengulangi tragedi Kanjuruhan atau GBK jika tidak segera dievaluasi.

Resolusi.co, Pamelingan, Pamekasan—Antusiasme membludak menyambut kepulangan Ach. Valen Akbar, runner-up Dangdut Academy 7, berubah menjadi chaos berbahaya di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP), Kamis (1/1/2026). Konser gratis yang difasilitasi penuh oleh PT Bawang Mas Grup itu justru memunculkan kerumunan tak teratur dengan desakan massa yang membahayakan keselamatan, terutama perempuan dan anak-anak.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan situasi mengerikan. Ratusan ibu-ibu berdesak-desakan di area masuk stadion, saling dorong tanpa pengaturan, sementara pedagang kaki lima terpaksa melihat dagangan mereka terinjak dan berhamburan di tengah arus massa yang tidak terkendali.

“Pintu masuk wanita” yang seharusnya menjadi jalur khusus justru menjadi titik paling berbahaya. Dalam satu rekaman yang viral, terlihat jelas spanduk putih bertuliskan “PINTU MASUK WANITA” tergantung di tiang stadion, namun di bawahnya terjadi desakan massal yang kacau. Puluhan perempuan berjilbab tampak terhimpit, sebagian mengangkat tangan berusaha menjaga keseimbangan, sementara yang lain menundukkan kepala takut terjatuh.

Di lokasi lain, seorang pedagang mengenakan atasan merah tampak kehilangan keseimbangan saat massa bergerak. Dagangan yang dibawanya, tampak seperti kue atau makanan ringan dalam wadah, terjatuh dan terinjak. Tak ada petugas yang membantu. Tak ada pengaturan arus. Yang ada hanya dorongan demi dorongan dari belakang, memaksa orang-orang di depan terus maju tanpa bisa menghindar.

Kondisi semakin mencekam ketika anak-anak ikut terbawa dalam pusaran kerumunan. Dalam salah satu video, terlihat beberapa anak remaja dan anak sekolah dasar terjepit di antara orang dewasa. Wajah-wajah mereka tampak panik, berusaha bertahan di tengah tekanan fisik dari segala arah.

Seorang saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya mengaku menyaksikan langsung betapa berbahayanya situasi tersebut.

“Saya lihat ada ibu-ibu sampai sesak napas karena kedesek. Dagangannya pada jatuh, ada yang menangis. Ini parah, masa acara gratis sampai begini,” ujarnya dengan nada kecewa.

Konser Valen di Stadion Pamelingan ini difasilitasi penuh oleh CEO PT Bawang Mas Grup, H. Khairul Umam atau yang akrab disapa H. Her. Dalam pernyataannya beberapa hari sebelum acara, H. Her menegaskan bahwa konser ini digelar tanpa melibatkan Event Organizer (EO) profesional dan sepenuhnya digratiskan untuk masyarakat.

“Langsung Bawang Mas Grup yang menggelar, dan acara ini tidak ada tiket masuknya atau gratis untuk masyarakat.”

Kata-kata tersebut disampaikan Media Relations BM Grup Khairul Umam kepada Media Jatim, Selasa (30/12/2025). H. Her sebelumnya menyatakan bahwa fasilitas yang diberikan merupakan bentuk dukungan terhadap talenta muda Madura.

“Karena Valen ini masih muda, talenta muda, mengharumkan Pamekasan, Madura dan Jawa Timur. Setiap anak muda berbakat selalu membutuhkan fasilitasi atau pengayoman yang baik dan selalu butuh orang tua.”

Namun, niat baik tersebut tampaknya tidak diimbangi dengan persiapan manajemen acara yang memadai. Tanpa EO profesional, pengelolaan massa sebesar ini menjadi bumerang berbahaya.

Ketiadaan sistem tiket, meski terdengar populis, justru menciptakan ketidakpastian jumlah penonton. Tanpa data proyeksi pengunjung, panitia tidak bisa memperkirakan kebutuhan jalur masuk, petugas pengatur, dan titik-titik rawan yang perlu diawasi ketat.

Lebih parah lagi, pemisahan “pintu masuk wanita” yang seharusnya melindungi perempuan dari risiko pelecehan atau cedera fisik, justru menjadi zona paling berbahaya karena tidak ada petugas yang mengatur arus secara efektif.

Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan memiliki kapasitas terbatas. Ketika massa datang dalam jumlah besar tanpa sistem antrean atau pembatasan, bottle neck atau penyempitan arus di pintu masuk menjadi tidak terelakkan. Ini adalah kesalahan manajemen klasik yang seharusnya bisa dihindari jika ada perencanaan matang.

Dalam dunia event management, prinsip dasar crowd control mencakup sistem tiket atau registrasi untuk proyeksi jumlah, jalur masuk dan keluar yang terpisah dan jelas, petugas keamanan yang cukup di setiap titik kritis, serta tim medis siaga untuk penanganan darurat.

Tidak satupun dari prinsip-prinsip tersebut terlihat diterapkan dengan baik di konser Valen. Yang terlihat justru adalah improvisasi dadakan yang mengabaikan aspek keselamatan.

Konser ini berlangsung di tengah polemik panjang. Awalnya, acara penyambutan Valen direncanakan difasilitasi Pemkab Pamekasan dan akan digelar di Alun-alun Arek Lancor. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari sejumlah elemen masyarakat, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan yang mengajukan 11 syarat jika konser tetap digelar.

Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman sempat menyampaikan permohonan maaf atas dinamika yang terjadi.

“Kami berharap perkembangan ini segera menemukan kejelasan. Berbagai unsur di Pamekasan, mulai dari ulama, Forkopimda, hingga pesantren perlu duduk bersama.”

Akhirnya, pihak keluarga Valen memilih mundur dari perencanaan panitia Pemkab dan mencari sponsor mandiri. Di sinilah Bawang Mas Grup masuk sebagai fasilitator tunggal.

Namun, keputusan untuk menggelar acara tanpa EO profesional di tengah situasi yang sudah penuh tekanan dari berbagai pihak, menunjukkan kurangnya pertimbangan matang terhadap aspek teknis dan keselamatan.

Desakan massa di acara publik bukan hal remeh. Indonesia memiliki sejarah panjang tragedi akibat mismanajemen kerumunan. Tragedi Kanjuruhan di Malang pada 2022 menewaskan 135 orang. Tragedi GBK pada 2024 saat konser musik juga mencatat beberapa korban luka akibat desakan.

Meski konser Valen di Pamelingan belum dilaporkan ada korban jiwa atau luka serius, namun desakan massa yang terekam video menunjukkan bahwa potensi bahaya sangat nyata. Jika ada satu orang terjatuh dan tidak bisa bangun, bisa memicu efek domino yang berujung tragedi.

Anak-anak dan perempuan adalah kelompok paling rentan dalam situasi desak-desakan. Tubuh mereka lebih kecil, kekuatan fisik lebih terbatas, dan lebih mudah terjatuh atau sesak napas akibat tekanan dari berbagai arah.

Pedagang kaki lima yang kehilangan dagangan juga merupakan korban tidak langsung. Mereka datang dengan harapan mendapat rezeki dari keramaian, namun justru mengalami kerugian karena dagangan rusak terinjak massa.

H. Her, sebagai pihak yang mengklaim “mengayomi” Valen dan menyediakan fasilitas penuh, seharusnya juga bertanggung jawab atas keselamatan ribuan orang yang hadir. Niat baik tidak cukup. Komitmen finansial tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah profesionalisme dalam manajemen acara, terutama ketika menyangkut nyawa dan keselamatan manusia.

Tanpa EO profesional, siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan pengunjung? Siapa yang menyusun protokol evakuasi darurat? Siapa yang memastikan jalur keluar masuk aman? Siapa yang mengkoordinasikan petugas keamanan dan medis?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan slogan “pengayoman” atau “fasilitasi penuh.” Yang dibutuhkan adalah sistem, protokol, dan pertanggungjawaban yang jelas.

Konser Valen di Pamelingan adalah cermin dari persoalan lebih besar: bagaimana pemerintah daerah dan pihak swasta mengelola acara massal di era media sosial yang bisa membuat satu pengumuman viral dalam hitungan jam.

Gratisnya tiket memang populis dan menarik massa besar. Namun, tanpa sistem crowd management yang baik, gratis justru berbahaya. Lebih baik ada tiket gratis terbatas dengan sistem registrasi, sehingga panitia bisa memperkirakan jumlah dan mengatur arus secara proporsional.

Pemerintah Daerah Pamekasan, meski sudah mundur dari perencanaan, tidak bisa lepas tangan sepenuhnya. Izin acara, izin keramaian, dan koordinasi keamanan dengan Polres tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. Jika terjadi tragedi, pertanyaan akan mengarah ke sana: di mana pengawasan pemerintah?

Polres Pamekasan dan Satpol PP seharusnya melakukan asesmen risiko sebelum acara dan memastikan standar keamanan terpenuhi. Jika tidak, izin seharusnya tidak diberikan, tidak peduli seberapa populer artis yang tampil atau seberapa kaya sponsornya.

Euforia menyambut Valen, putra daerah yang mengharumkan nama Madura di panggung nasional, adalah hal yang wajar dan patut diapresiasi. Namun, euforia tidak boleh mengorbankan keselamatan.

Konser gratis adalah gestur mulia. Fasilitasi penuh dari pihak swasta adalah bentuk kepedulian yang patut diapresiasi. Tapi semua itu akan sia-sia jika berujung pada chaos, luka, atau bahkan bisa jadi korban jiwa.

Desak-desakan di Stadion Pamelingan adalah peringatan keras: niat baik tanpa persiapan matang adalah resep bencana. Ini bukan hanya soal Valen atau Bawang Mas Grup, tapi soal bagaimana kita sebagai masyarakat dan penyelenggara acara belajar dari kesalahan dan menempatkan keselamatan di atas segalanya.

Video-video yang viral di media sosial bukan untuk mempermalukan. Ia adalah bukti dan pelajaran. Bukti bahwa manajemen acara yang buruk bisa membahayakan nyawa. Pelajaran bahwa konser, betapapun gratisnya, betapapun mulianya niatnya, harus dikelola secara profesional.

Masyarakat Pamekasan berhak merayakan Valen. Valen berhak mendapat sambutan meriah di kampung halamannya. Tapi semua itu harus berlangsung dalam bingkai keselamatan, bukan chaos yang mengancam jiwa.