TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

The Fed Pangkas Suku Bunga Jadi 3,50-3,75 Persen, Tiga Pejabat Nyatakan Dissent

Poin Penting (3)
  • The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin ke 3,50-3,75 persen dengan suara 9-3, tiga pejabat menyatakan dissent dari dua arah berbeda—dua menolak pemangkasan, satu menginginkan pemangkasan 50 basis poin.
  • Proyeksi 2026 hanya satu kali pemangkasan 25 basis poin, dengan inflasi diprediksi turun ke 2,4 persen, pertumbuhan ekonomi naik ke 2,3 persen, dan tingkat pengangguran bertahan di 4,4 persen.
  • Trump mengkritik keputusan sebagai terlalu kecil dan mencari calon ketua The Fed baru, dengan Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Powell yang masa jabatannya berakhir Mei 2026.

Resolusi.co, Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen ke level 3,50-3,75 persen pada Rabu (10/12/2025) waktu setempat. Keputusan ini menjadi pemangkasan ketiga secara berturut-turut sepanjang tahun ini, namun diwarnai perpecahan internal yang mencerminkan dilema kebijakan di tengah inflasi yang masih membandel dan pasar tenaga kerja yang mendingin.

Komite Pasar Terbuka Federal memutuskan dengan suara 9 banding 3 untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran target 3,5-3,75 persen. Posisi itu menjadi yang terendah sejak Oktober 2022.

“Meskipun data penting dari pemerintah federal untuk beberapa bulan terakhir belum dirilis, data yang tersedia dari sektor publik dan swasta menunjukkan bahwa prospek untuk lapangan kerja dan inflasi belum banyak berubah sejak pertemuan kami pada bulan Oktober,” ujar Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers, Kamis (11/12/2025) dini hari waktu Indonesia.

Keputusan tersebut menjadi yang pertama sejak 2019 ketika tiga pejabat memilih untuk tidak sejalan dengan keputusan mayoritas, dengan penolakan datang dari dua arah berbeda dalam spektrum kebijakan moneter.

Dua presiden Fed regional, yakni Austan Goolsbee dari Chicago dan Jeff Schmid dari Kansas City, menolak keputusan pemangkasan dan memilih mempertahankan suku bunga. Di sisi lain, Gubernur The Fed Stephen Miran, yang ditunjuk Presiden Donald Trump pada September 2025, kembali menyatakan dissent karena menginginkan pemangkasan lebih besar, yakni 50 basis poin.

Perbedaan pandangan kembali mencuat di internal Federal Reserve setelah tiga pejabat menyatakan hal tersebut dalam keputusan rapat kebijakan terbaru. Perpecahan tersebut mencerminkan perbedaan penilaian mengenai apakah pelemahan pasar tenaga kerja atau inflasi yang masih membandel menjadi risiko terbesar bagi perekonomian Amerika Serikat.

Dalam pernyataan Oktober 2025 lalu, FOMC menyebutkan faktor-faktor yang akan dipertimbangkan dalam menilai penyesuaian tambahan atas suku bunga acuan. Namun, pada pernyataan Rabu (10/12/2025) ini, FOMC kembali menggunakan redaksi yang pertama kali dipakai Desember 2024, tepat sebelum jeda pemangkasan suku bunga, yakni mempertimbangkan sejauh mana dan waktu penyesuaian kebijakan selanjutnya.

Dalam proyeksi terbaru yang dirilis usai pertemuan FOMC, median pembuat kebijakan hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026—tidak berubah dari proyeksi September 2025. Proyeksi tersebut menunjukkan sikap kehati-hatian The Fed terhadap pelonggaran lebih lanjut.

Inflasi diproyeksikan melandai ke sekitar 2,4 persen pada akhir 2026, seiring pertumbuhan ekonomi AS diprediksi menguat di atas tren menjadi 2,3 persen, sementara tingkat pengangguran bertahan moderat di kisaran 4,4 persen.

“Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian lanjutan atas target suku bunga federal funds, Komite akan menilai secara cermat seluruh data yang masuk,” tulis FOMC dalam pernyataan resminya.

Proyeksi terbaru menunjukkan enam pembuat kebijakan memilih tidak memangkas suku bunga pada tahun ini, sementara tujuh lainnya memperkirakan tidak ada pemangkasan tambahan pada 2026. Median proyeksi juga memasukkan satu kali pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada 2027, seiring inflasi terus bergerak mendekati target 2 persen bank sentral.

Secara umum, proyeksi Fed terbilang optimistis. Meski suku bunga diperkirakan bertahan lebih tinggi daripada ekspektasi sebelumnya, perekonomian AS diproyeksikan tumbuh lebih cepat sementara inflasi menurun dan tingkat pengangguran sedikit membaik.

Namun, pernyataan kebijakan dan proyeksi terbaru ini disusun tanpa didukung laporan tenaga kerja dan inflasi terkini. The Fed mengandalkan indikator yang tersedia, termasuk survei internal, masukan dari komunitas, serta data swasta.

Data resmi terakhir pada September menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen dari 4,3 persen. Sementara itu, indikator inflasi pilihan Fed naik tipis dari 2,7 persen menjadi 2,8 persen, masih berada di atas target 2 persen. Inflasi tercatat meningkat konsisten sejak April, dari 2,3 persen, yang sebagian dikaitkan dengan naiknya tarif impor yang dibebankan kepada konsumen.

Dalam pernyataan kebijakan, The Fed menyebut aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju moderat. Namun, pertumbuhan lapangan kerja melambat sepanjang tahun ini, sementara tingkat pengangguran cenderung meningkat hingga September, tanpa lagi menyebut kondisi pengangguran sebagai rendah.

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga kembali mengundang komentar tajam dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menyebut pemangkasan sebesar 25 basis poin sebagai langkah yang terlalu kecil dan seharusnya bisa digandakan, setidaknya dua kali lipat.

“Kita perlu cara berpikir yang benar. Ketika sebuah negara sedang berkinerja baik, Anda tidak boleh membunuh pertumbuhan. Tapi itulah yang sedang mereka lakukan—membunuh pertumbuhan,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (10/12/2025) waktu setempat.

Trump juga melontarkan kritik terhadap Powell dengan menyebutnya kaku dan tak bernyawa. Selama masa jabatan keduanya, Trump semakin terbuka menunjukkan keinginannya untuk mengendalikan arah kebijakan bank sentral. Dia secara rutin mengungkapkan kekecewaan karena The Fed, di bawah kepemimpinan Powell, dinilai tidak cukup agresif dalam memangkas biaya pinjaman.

Trump juga tengah mencari sosok baru untuk memimpin bank sentral AS. Dia mengindikasikan mengharapkan figur yang bersedia mendorong penurunan suku bunga lebih dalam. Proses pencarian tersebut dikabarkan telah memasuki tahap akhir.

“Kami melihat beberapa kandidat, dan saya sudah punya gambaran cukup jelas siapa yang saya inginkan,” kata Trump kepada wartawan belum lama ini.

Direktur National Economic Council Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menduduki posisi Ketua The Fed. Trump beberapa kali memberi sinyal mengarah ke nama tersebut. Namun demikian, Trump dikenal kerap membuat keputusan personalia yang mengejutkan, sehingga keputusan final masih menunggu pengumuman resmi.

Analis dari Evercore ISI, Krishna Guha, memproyeksikan bahwa jika Federal Reserve memutuskan untuk menurunkan suku bunga pada Desember, sedikitnya empat hingga lima pejabat kemungkinan akan menyatakan ketidaksetujuan atau dissenting vote. Empat suara dissenting akan menjadi kejadian yang sangat tidak biasa bagi The Fed yang terbiasa mencari konsensus.

“Jika Federal Reserve memutuskan untuk menurunkan suku bunga, Presiden Federal Reserve Kansas City Jeff Schmid mungkin akan didukung oleh Collins dan Musalem,” kata Guha dalam analisisnya.

Terakhir kali empat pejabat menyatakan ketidaksetujuan terjadi pada 1992 di bawah kepemimpinan Ketua Alan Greenspan. Sejak 1990, situasi dengan sedikitnya tiga suara dissenting baru terjadi sembilan kali.

Manajer portofolio pendapatan tetap Columbia Threadneedle, Ed Al-Hussainy, menilai perpecahan 7-5 dapat membuat pasar suku bunga kesulitan membaca arah kebijakan 12 hingga 18 bulan ke depan.

Pasar keuangan global bereaksi terhadap keputusan ini dengan beragam. Tiga indeks utama saham Amerika Serikat ditutup menguat setelah pengumuman keputusan The Fed. Indeks Dow Jones naik 0,31 persen, S&P 500 meningkat 0,38 persen, dan Nasdaq menguat 0,40 persen.

Dolar Amerika Serikat melemah terhadap sekeranjang mata uang utama, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun turun ke level 3,68 persen. Harga emas spot naik 0,45 persen ke posisi US$4.175,50, sementara kontrak berjangka menguat 0,53 persen ke US$4.187,40.

Bagi Indonesia, keputusan The Fed Desember akan berdampak signifikan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal. Jika The Fed melanjutkan sikap dovish dengan memangkas suku bunga, hal ini akan memberikan fondasi eksternal yang stabil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Namun, jika proyeksi The Fed untuk 2026 menunjukkan sikap lebih hawkish dengan hanya satu kali pemangkasan, volatilitas dapat kembali menekan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan. Bank Indonesia perlu menyiapkan strategi antisipatif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Ekonom dari J.P. Morgan, Michael Feroli, menyebut pandangan hawkish yang muncul di kalangan presiden bank regional dapat membuat outlook suku bunga 2026 tidak berubah dari September, dengan dukungan untuk pemangkasan minggu ini sempit dan standar lebih tinggi untuk penurunan selanjutnya.

Rapat FOMC Desember 2025 menjadi pertempuran kunci yang menentukan arah harga aset global pada 2026. Bagaimana Powell menyeimbangkan perbedaan internal dan eksternal telah menjadi fokus perhatian pasar finansial di seluruh dunia.

Keputusan yang diambil tidak hanya memengaruhi kebijakan moneter AS, tetapi juga akan memberikan sinyal penting bagi bank sentral negara-negara lain dalam menentukan arah kebijakan mereka di tahun mendatang. Perpecahan suara yang terjadi menunjukkan kompleksitas tantangan yang dihadapi The Fed dalam menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.