TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

Trump Larang 75 Negara Masuk AS, Piala Dunia 2026 Terancam Dipindah ke Inggris!

Resolusi.co, Jakarta – Tekanan internasional terhadap Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 terus meningkat menyusul kebijakan pembatasan visa kontroversial yang dikeluarkan Presiden Donald Trump. Kebijakan ini dinilai berpotensi mengganggu mobilitas peserta dan pendukung turnamen sepak bola terbesar dunia.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dengan tiga negara sebagai tuan rumah bersama yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari total 104 pertandingan, Amerika Serikat mendapat porsi terbesar dengan menggelar 78 laga di 11 kota termasuk Atlanta, Dallas, Los Angeles, New York, hingga San Francisco.

Situasi menjadi sorotan karena kebijakan visa tersebut menyentuh sejumlah negara yang tercatat sebagai peserta Piala Dunia 2026. Hingga pertengahan Januari 2026, pemerintah AS mengumumkan penangguhan pemrosesan visa imigran tanpa batas waktu bagi 75 negara di antaranya Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Maroko, Tunisia, dan Uruguay.

Desakan pencabutan status tuan rumah Amerika Serikat pun mengemuka dari berbagai pihak. Sebanyak 23 anggota parlemen Inggris dari empat partai politik menyampaikan mosi resmi yang menyerukan agar badan olahraga internasional mempertimbangkan ulang keterlibatan AS dalam ajang olahraga besar, termasuk Piala Dunia.

Kekhawatiran juga muncul di kalangan penggemar sepak bola dunia. Sejumlah suporter mempertanyakan kepastian akses masuk ke Amerika Serikat, terutama bagi mereka yang berasal dari negara terdampak kebijakan pembatasan perjalanan yang diumumkan pemerintahan Trump.

Pembekuan pemrosesan visa imigran itu dijadwalkan mulai berlaku secara resmi pada 21 Januari 2026. Di tengah meningkatnya desakan internasional, pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya tetap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 sesuai jadwal dengan memastikan akses bagi atlet, ofisial, dan pihak terkait tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Menanggapi polemik tersebut, pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan bahwa kebijakan visa tidak akan memengaruhi pelaksanaan Piala Dunia 2026.

“Larangan tersebut hanya berlaku untuk penerbitan visa imigran dan tidak berlaku untuk visa non-imigran, seperti visa turis, atlet dan keluarga mereka, serta profesional media,” ucapnya seperti dikutip dari Kompas, Senin (19/1/2026).

Penjelasan serupa disampaikan Wakil Juru Bicara Utama Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott. Ia mengatakan pembekuan visa dilakukan sebagai langkah pengamanan sistem nasional.

“Kebijakan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan sistem kesejahteraan dan manfaat publik oleh warga negara asing,” ujarnya.

Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menyebutkan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk mengakhiri praktik pengambilan manfaat publik yang bersumber dari pajak warga Amerika.

Mantan presenter Sky Sports Jeff Stelling turut menyuarakan pandangannya melalui platform X. Menanggapi unggahan seorang pengguna yang menyebut tidak bertanggung jawab bagi FIFA membiarkan AS tetap menjadi tuan rumah, Stelling menyatakan dukungannya terhadap pemindahan turnamen ke Inggris.

Inggris terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1966 saat The Three Lions menjuarai turnamen dengan mengalahkan Jerman Barat 4-2 di final Wembley. Kendati sudah lama tidak menggelar Piala Dunia, Inggris tetap berpengalaman menjadi tuan rumah turnamen besar seperti Euro 1996 dan Euro 2020.

Dalam sejarah Piala Dunia, Kolombia tercatat sebagai satu-satunya negara yang pernah ditunjuk sebagai tuan rumah tetapi akhirnya batal menggelar turnamen. Negara Amerika Selatan itu mundur secara sukarela dari Piala Dunia 1986 karena keterbatasan ekonomi sebelum FIFA memindahkan penyelenggaraan ke Meksiko.

Kebijakan pembatasan visa juga menyentuh negara-negara peserta Piala Dunia 2026 seperti Haiti dan Iran yang telah memastikan diri lolos ke turnamen. Hal ini menambah kekhawatiran akan kelancaran penyelenggaraan turnamen terbesar di dunia sepak bola.

Hingga saat ini FIFA belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan pencabutan status tuan rumah dari Amerika Serikat. Organisasi sepak bola dunia tersebut masih mengamati perkembangan situasi sambil memastikan bahwa turnamen dapat berjalan sesuai rencana dengan standar keamanan tertinggi.