TODAY'S RECAP
Prabowo dan Dialektika “Bapak Pangan Indonesia”•Tuduhan Mahfud MD ‘Perusakan Peradaban’ Tanpa Data: Ketika Opini Dikemas Seolah Fakta•Eskalasi Konflik Saudi-Yaman, Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Minta Pemerintah Siapkan Opsi Penundaan Umrah•Aksi Massa dan Air Mata Siwalan: Ironi Penegakan Hukum di Polresta Sumenep•Merangkul Kritikus, Menjaga Nalar Istana•Catatan Dua Tahun Prabowo: Membedah “Paradoks Indonesia”•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Audit Forensik Keuangan Haji•Prabowo-Dasco Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra•Dorong Kemandirian Warga Binaan, Lapas Pasuruan Berhasil Panen Telur dan Kangkung•Menguji Janji Konstitusi: Nutrisi, Pendidikan Tinggi, dan Generasi Emas•Chusni Mubarok: Lunasnya Utang BLBI Rp640 Triliun Bukti Fondasi Ekonomi Indonesia Semakin Kokoh•Relasi Ulama-Umara Menguat di Gontor, Chusni Mubarok: Fondasi Utama Kerukunan dan Harmoni Bangsa•Prabowo Genjot Koperasi Merah Putih, Chusni Mubarok: Ini Jalan Konkret Putus Kemiskinan Desa•MBG “HARUS” Gagal•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Hotline Pengaduan Mafia Haji dan Umrah•DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak•Era Baru Tata Kelola Haji Khusus Pasca Penghapusan Lunas Tunda Ganti•Prinsip Pengelompokan Desil Sudah Tepat, Chusni Mubarok: Yang Perlu Dibenahi Adalah Akurasi dan Kecepatan Koreksinya•Menjernihkan Makna Monopoli dalam Tata Kelola Haji•GMPK DKI Dorong Penguatan Keamanan Pangan MBG dari Hulu•Masuk Napi Keluar Santri, 63 Warga Binaan Lapas Pasuruan Diwisuda•Tiga Tahun Absen Beli Tembakau, HKTI Probolinggo Sampai Usul Gudang Ditutup•Komentar Nyinyir Berujung Panjang, Suami Dokter di Malang Ikut Kena Getahnya•Baru Sehari Dilantik, Destry Sudah Bongkar Cara Bagi Tugas di Bank Indonesia•Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina•GMPK DKI Desak Tutup Dapur MBG Sidoarjo, Minta BGN Sediakan Alat Tes•Terungkap Usai Korban Cari Perlindungan, Ayah di Sumenep Ini Diduga Aniaya Anak Sendiri Bertahun-tahun•Aksi Mesum Sejoli di Taman Merjosari Malang Resahkan Warga•Semeru Kembali Erupsi Saat Karhutla Masih Membara, Warga Diminta Waspada•Harga Emas Perhiasan Turun, Selasa 1 September 2026•Prabowo dan Dialektika “Bapak Pangan Indonesia”•Tuduhan Mahfud MD ‘Perusakan Peradaban’ Tanpa Data: Ketika Opini Dikemas Seolah Fakta•Eskalasi Konflik Saudi-Yaman, Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Minta Pemerintah Siapkan Opsi Penundaan Umrah•Aksi Massa dan Air Mata Siwalan: Ironi Penegakan Hukum di Polresta Sumenep•Merangkul Kritikus, Menjaga Nalar Istana•Catatan Dua Tahun Prabowo: Membedah “Paradoks Indonesia”•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Audit Forensik Keuangan Haji•Prabowo-Dasco Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra•Dorong Kemandirian Warga Binaan, Lapas Pasuruan Berhasil Panen Telur dan Kangkung•Menguji Janji Konstitusi: Nutrisi, Pendidikan Tinggi, dan Generasi Emas•Chusni Mubarok: Lunasnya Utang BLBI Rp640 Triliun Bukti Fondasi Ekonomi Indonesia Semakin Kokoh•Relasi Ulama-Umara Menguat di Gontor, Chusni Mubarok: Fondasi Utama Kerukunan dan Harmoni Bangsa•Prabowo Genjot Koperasi Merah Putih, Chusni Mubarok: Ini Jalan Konkret Putus Kemiskinan Desa•MBG “HARUS” Gagal•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Hotline Pengaduan Mafia Haji dan Umrah•DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak•Era Baru Tata Kelola Haji Khusus Pasca Penghapusan Lunas Tunda Ganti•Prinsip Pengelompokan Desil Sudah Tepat, Chusni Mubarok: Yang Perlu Dibenahi Adalah Akurasi dan Kecepatan Koreksinya•Menjernihkan Makna Monopoli dalam Tata Kelola Haji•GMPK DKI Dorong Penguatan Keamanan Pangan MBG dari Hulu•Masuk Napi Keluar Santri, 63 Warga Binaan Lapas Pasuruan Diwisuda•Tiga Tahun Absen Beli Tembakau, HKTI Probolinggo Sampai Usul Gudang Ditutup•Komentar Nyinyir Berujung Panjang, Suami Dokter di Malang Ikut Kena Getahnya•Baru Sehari Dilantik, Destry Sudah Bongkar Cara Bagi Tugas di Bank Indonesia•Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina•GMPK DKI Desak Tutup Dapur MBG Sidoarjo, Minta BGN Sediakan Alat Tes•Terungkap Usai Korban Cari Perlindungan, Ayah di Sumenep Ini Diduga Aniaya Anak Sendiri Bertahun-tahun•Aksi Mesum Sejoli di Taman Merjosari Malang Resahkan Warga•Semeru Kembali Erupsi Saat Karhutla Masih Membara, Warga Diminta Waspada•Harga Emas Perhiasan Turun, Selasa 1 September 2026•Prabowo dan Dialektika “Bapak Pangan Indonesia”•Tuduhan Mahfud MD ‘Perusakan Peradaban’ Tanpa Data: Ketika Opini Dikemas Seolah Fakta•Eskalasi Konflik Saudi-Yaman, Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Minta Pemerintah Siapkan Opsi Penundaan Umrah•Aksi Massa dan Air Mata Siwalan: Ironi Penegakan Hukum di Polresta Sumenep•Merangkul Kritikus, Menjaga Nalar Istana•Catatan Dua Tahun Prabowo: Membedah “Paradoks Indonesia”•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Audit Forensik Keuangan Haji•Prabowo-Dasco Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra•Dorong Kemandirian Warga Binaan, Lapas Pasuruan Berhasil Panen Telur dan Kangkung•Menguji Janji Konstitusi: Nutrisi, Pendidikan Tinggi, dan Generasi Emas•Chusni Mubarok: Lunasnya Utang BLBI Rp640 Triliun Bukti Fondasi Ekonomi Indonesia Semakin Kokoh•Relasi Ulama-Umara Menguat di Gontor, Chusni Mubarok: Fondasi Utama Kerukunan dan Harmoni Bangsa•Prabowo Genjot Koperasi Merah Putih, Chusni Mubarok: Ini Jalan Konkret Putus Kemiskinan Desa•MBG “HARUS” Gagal•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Hotline Pengaduan Mafia Haji dan Umrah•DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak•Era Baru Tata Kelola Haji Khusus Pasca Penghapusan Lunas Tunda Ganti•Prinsip Pengelompokan Desil Sudah Tepat, Chusni Mubarok: Yang Perlu Dibenahi Adalah Akurasi dan Kecepatan Koreksinya•Menjernihkan Makna Monopoli dalam Tata Kelola Haji•GMPK DKI Dorong Penguatan Keamanan Pangan MBG dari Hulu•Masuk Napi Keluar Santri, 63 Warga Binaan Lapas Pasuruan Diwisuda•Tiga Tahun Absen Beli Tembakau, HKTI Probolinggo Sampai Usul Gudang Ditutup•Komentar Nyinyir Berujung Panjang, Suami Dokter di Malang Ikut Kena Getahnya•Baru Sehari Dilantik, Destry Sudah Bongkar Cara Bagi Tugas di Bank Indonesia•Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina•GMPK DKI Desak Tutup Dapur MBG Sidoarjo, Minta BGN Sediakan Alat Tes•Terungkap Usai Korban Cari Perlindungan, Ayah di Sumenep Ini Diduga Aniaya Anak Sendiri Bertahun-tahun•Aksi Mesum Sejoli di Taman Merjosari Malang Resahkan Warga•Semeru Kembali Erupsi Saat Karhutla Masih Membara, Warga Diminta Waspada•Harga Emas Perhiasan Turun, Selasa 1 September 2026•Prabowo dan Dialektika “Bapak Pangan Indonesia”•Tuduhan Mahfud MD ‘Perusakan Peradaban’ Tanpa Data: Ketika Opini Dikemas Seolah Fakta•Eskalasi Konflik Saudi-Yaman, Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Minta Pemerintah Siapkan Opsi Penundaan Umrah•Aksi Massa dan Air Mata Siwalan: Ironi Penegakan Hukum di Polresta Sumenep•Merangkul Kritikus, Menjaga Nalar Istana•Catatan Dua Tahun Prabowo: Membedah “Paradoks Indonesia”•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Audit Forensik Keuangan Haji•Prabowo-Dasco Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra•Dorong Kemandirian Warga Binaan, Lapas Pasuruan Berhasil Panen Telur dan Kangkung•Menguji Janji Konstitusi: Nutrisi, Pendidikan Tinggi, dan Generasi Emas•Chusni Mubarok: Lunasnya Utang BLBI Rp640 Triliun Bukti Fondasi Ekonomi Indonesia Semakin Kokoh•Relasi Ulama-Umara Menguat di Gontor, Chusni Mubarok: Fondasi Utama Kerukunan dan Harmoni Bangsa•Prabowo Genjot Koperasi Merah Putih, Chusni Mubarok: Ini Jalan Konkret Putus Kemiskinan Desa•MBG “HARUS” Gagal•Angkatan Puteri Al Washliyah Banten Dukung Hotline Pengaduan Mafia Haji dan Umrah•DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak•Era Baru Tata Kelola Haji Khusus Pasca Penghapusan Lunas Tunda Ganti•Prinsip Pengelompokan Desil Sudah Tepat, Chusni Mubarok: Yang Perlu Dibenahi Adalah Akurasi dan Kecepatan Koreksinya•Menjernihkan Makna Monopoli dalam Tata Kelola Haji•GMPK DKI Dorong Penguatan Keamanan Pangan MBG dari Hulu•Masuk Napi Keluar Santri, 63 Warga Binaan Lapas Pasuruan Diwisuda•Tiga Tahun Absen Beli Tembakau, HKTI Probolinggo Sampai Usul Gudang Ditutup•Komentar Nyinyir Berujung Panjang, Suami Dokter di Malang Ikut Kena Getahnya•Baru Sehari Dilantik, Destry Sudah Bongkar Cara Bagi Tugas di Bank Indonesia•Lebih dari 1.000 Warga Giliraja Antusias Saksikan Kerapan Sapi Betina•GMPK DKI Desak Tutup Dapur MBG Sidoarjo, Minta BGN Sediakan Alat Tes•Terungkap Usai Korban Cari Perlindungan, Ayah di Sumenep Ini Diduga Aniaya Anak Sendiri Bertahun-tahun•Aksi Mesum Sejoli di Taman Merjosari Malang Resahkan Warga•Semeru Kembali Erupsi Saat Karhutla Masih Membara, Warga Diminta Waspada•Harga Emas Perhiasan Turun, Selasa 1 September 2026

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

19 Oktober 2026

Cari berita

Ribuan Jamaah dan Tokoh Nasional Padati Haul Ke-16 Gus Dur di Tebuireng

Poin Penting (3)
  • Haul Bersejarah: Puncak haul ke-16 Gus Dur di Tebuireng Jombang dihadiri ribuan jamaah dan tokoh nasional termasuk Wamen Agama, Gubernur Jatim, ulama kharismatik, hingga Konsul Jenderal AS.
  • Pertama Sejak Jadi Pahlawan: Peringatan tahun ini istimewa karena pertama kali digelar sejak Gus Dur resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.
  • Warisan Toleransi dan Kemanusiaan: Acara menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai Gus Dur seperti pluralisme, toleransi, dan pembelaan terhadap kelompok minoritas.

Resolusi.co, JOMBANG – Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menjadi pusat perhatian pada Rabu malam, 17 Desember 2025, saat ribuan jamaah memadati kompleks pesantren untuk mengikuti puncak peringatan haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Acara yang berlangsung khidmat ini menampilkan kehadiran tokoh-tokoh besar dari dunia politik, agama, hingga diplomasi.

Peringatan tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025 lalu. Pengakuan negara ini menjadi momen bersejarah bagi keluarga dan seluruh pengagum mantan Presiden ke-4 RI tersebut.

Antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga jalan provinsi jurusan Jombang-Malang harus ditutup total demi kelancaran acara. Jamaah berdatangan tidak hanya dari Jombang, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, hingga Bangkalan.

Deretan tokoh nasional yang hadir antara lain Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Kehadiran para ulama kharismatik seperti KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) dari Tulangan Sidoarjo, dan KH Masduqi Abdurrahman dari Perak Jombang semakin memperkuat makna spiritualitas acara.

Yang cukup mengejutkan, Konsul Jenderal Amerika Serikat Chris Green turut hadir dalam acara tersebut. Kehadirannya menunjukkan pengakuan internasional terhadap sosok Gus Dur sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan.

Rangkaian acara haul dimulai sejak Selasa, 16 Desember 2025, dengan agenda Lailatul Hadrah di Masjid Ulil Albab. Ribuan anggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) dari berbagai kabupaten di Jawa Timur memenuhi masjid dengan lantunan shalawat yang merdu.

Muhammad Shobirin, perwakilan panitia haul, mengungkapkan antusiasme luar biasa dari masyarakat terhadap rangkaian acara ini. Para jamaah menunjukkan kecintaan mendalam pada almarhum Gus Dur.

KH Lukman Hakim, Mudir Pondok dan Diniyah Tebuireng, menekankan bahwa acara Ishari bukan sekadar seremonial belaka.

“Ini adalah ekspresi cinta dan penghormatan pada nilai-nilai luhur yang diwariskan Gus Dur. Ke depan, kami berkomitmen untuk mengembangkan kegiatan Ishari ini ke skala yang lebih besar, bahkan nasional, agar lebih membumi di Tebuireng,” paparnya.

Pada Rabu pagi, 17 Desember 2025, rangkaian acara dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an di Maqbarah Masyayikh Pesantren Tebuireng mulai pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. Acara kemudian berlanjut dengan pengajian alumni dan peluncuran kitab “Hadhorotus Syeikh KH Hasyim Asy’ari” di Masjid Pesantren Tebuireng.

Menjelang malam, masyarakat mengikuti pembacaan maulid bersama ribuan jamaah shalawat di halaman pesantren. Lantunan shalawat Nabi dibawakan oleh seribu rebana di bawah pimpinan KH Nur Hadi, yang akrab disapa Mbah Bolong, menciptakan atmosfer spiritual yang menyentuh hati.

Puncak acara haul ke-16 dimulai pada Rabu malam pukul 20.00 WIB. Acara dibuka dengan pembacaan Surat Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Ustaz Syamsul Anam dan KH Masduqi Abdurrahman. Suasana semakin khusyuk saat ribuan jamaah bersama-sama membaca doa untuk almarhum Gus Dur dan para masyayikh Tebuireng.

Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, putri Gus Dur, menyampaikan kebanggaannya atas penetapan ayahnya sebagai Pahlawan Nasional.

“Dari sudut pandang kami, Gus Dur adalah sosok yang ikhlas berjuang untuk kepentingan orang banyak, terutama mereka yang terdzalimi,” ujarnya.

Tausiyah dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menjadi momen paling berkesan dalam acara tersebut. Gus Mus menggambarkan Gus Dur sebagai sosok yang telah selesai dengan dirinya sendiri dan memiliki keberanian luar biasa dalam membela kebenaran dan keadilan.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh hadirin untuk meneladani perjuangan Gus Dur.

“Hari ini kita hadir karena hati kita melekat pada sosok perjuangan, pemikiran dan keteladanan Gus Dur yang penuh nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa Gus Dur merupakan simbol perjuangan toleransi di Indonesia. Kepemimpinannya yang inklusif dan pembelaannya terhadap kelompok minoritas menjadi warisan berharga bagi bangsa.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menekankan esensi sejati dari haul Gus Dur adalah menggali kembali khazanah pemikirannya.

“Warisan terbesar Gus Dur adalah pemikiran keagamaannya yang mendalam, yang bersumber dari keilmuan kakeknya, KH Hasyim Asy’ari. Dari sanalah terpancar sikap rahmatan lil ‘alamin,” ungkap Gus Kikin.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren di tengah arus modernisasi. Berbagai agenda keilmuan terus digalakkan di lingkungan Tebuireng untuk menjaga warisan intelektual para masyayikh.

Koordinator GUSDURian Jombang, Ema Rahmawati atau Neng Ema, menilai gelar Pahlawan Nasional merupakan bentuk peneguhan negara terhadap perjuangan panjang Gus Dur membela kelompok rentan.

“Gus Dur sudah lama dipandang sebagai pahlawan oleh masyarakat. Gelar ini hanyalah penegasan negara atas realitas itu,” ujarnya.

Menurutnya, jejak Gus Dur melampaui batas jabatan politik. Kebijakan-kebijakannya, terutama terkait penghapusan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan berbagai kelompok minoritas lainnya, menjadi bukti bahwa perjuangannya berpijak pada prinsip kemanusiaan yang universal.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH Agoes Ali Masyhuri. Ribuan jamaah mengangkat tangan, berdoa agar nilai-nilai luhur yang ditinggalkan Gus Dur tetap lestari dan menjadi panduan bagi generasi penerus bangsa.

Gus Dur wafat pada Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, berdampingan dengan makam kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta ayahnya, KH Wahid Hasyim, yang juga seorang Pahlawan Nasional.

Penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 yang diumumkan pada 10 November 2025. Gus Dur menjadi salah satu dari 10 tokoh yang menerima gelar tersebut bersama tokoh-tokoh lain seperti Jenderal Besar TNI Soeharto, Marsinah, dan Mochtar Kusumaatmadja.

Peringatan haul ke-16 ini bukan sekadar mengenang tokoh yang telah wafat, tetapi juga menjadi ajang untuk meneruskan semangat perjuangan dan pemikiran Gus Dur. Nilai-nilai pluralisme, toleransi, dan kemanusiaan yang diajarkannya tetap relevan untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan dalam keberagaman Indonesia.

Melalui acara ini, masyarakat kembali diingatkan untuk selalu meneladani nilai-nilai luhur Gus Dur yang abadi: toleransi, perjuangan kemanusiaan, dan pengabdian tanpa pamrih. Warisan pemikirannya menjadi kompas moral bagi bangsa dalam menghadapi tantangan zaman.