BMKG: Iklim Indonesia 2026 Diprediksi Normal, Curah Hujan Stabil Sepanjang Tahun

- BMKG memproyeksikan 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan normal 1.500-4.000 mm pada 2026, dengan suhu rata-rata 25-29 derajat Celsius berdasarkan analisis La Niña lemah dan IOD netral.
- La Niña lemah diprediksi bertahan hingga Maret 2026 berpotensi tingkatkan risiko banjir dan longsor, sementara musim kemarau tetap berisiko karhutla sehingga diperlukan mitigasi sistematis dan pengawasan intensif.
- BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim untuk perencanaan lintas sektor, terutama pertanian, kesehatan, dan pengelolaan sumber daya air agar produktivitas meningkat dan risiko bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.
, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memproyeksikan kondisi iklim di sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 akan berada dalam kategori normal. Prediksi ini tertuang dalam dokumen Climate Outlook 2026 yang disusun berdasarkan analisis fisika atmosfer dan pemodelan kecerdasan buatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa proyeksi ini mengacu pada pengamatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik hingga November 2025. Data menunjukkan fenomena La Niña lemah dengan indeks El Niño Southern Oscillation sebesar -0,77.
“Kondisi tersebut diperkirakan bertahan hingga Maret 2026 sebelum berangsur menuju fase netral pada Maret-April dan berlanjut hingga akhir tahun,” ujar Faisal dalam keterangan resminya, Senin (29/12/2025).
Di Samudra Hindia, fenomena Indian Ocean Dipole tercatat masih berada pada fase negatif dengan indeks bulanan -0,83. Namun, BMKG memprediksi IOD akan berada dalam kondisi netral sepanjang 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, BMKG memperkirakan sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dengan kategori normal pada kisaran 1.500 hingga 4.000 milimeter. Sementara sekitar 5,1 persen wilayah lainnya diprediksi berada pada kategori curah hujan di atas normal.
Untuk suhu udara rata-rata tahunan, BMKG memproyeksikan akan berada pada rentang 25 hingga 29 derajat Celsius. Wilayah dengan suhu tahunan di atas 28 derajat meliputi sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, pesisir utara Jawa, serta sebagian Papua Selatan.
Sebaliknya, wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Latimojong di Sulawesi, dan Pegunungan Jayawijaya di Papua diproyeksikan memiliki suhu udara tahunan lebih rendah, berkisar 19 hingga 22 derajat Celsius.
Secara bulanan, anomali suhu udara di Indonesia pada 2026 diperkirakan berada pada kisaran -0,5 hingga +0,3 derajat Celsius. Anomali terendah diprediksi terjadi pada Mei, sedangkan anomali tertinggi pada Juli 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menilai kondisi iklim yang relatif normal berpotensi menjaga kualitas udara secara umum. Curah hujan yang cukup dapat mendukung proses pencucian alami atmosfer melalui deposisi basah.
Namun, ia menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara pada musim kemarau akibat kabut asap dan aktivitas industri.
“Upaya mitigasi yang disarankan meliputi pengawasan kebakaran hutan dan lahan, penguatan program pembasahan gambut atau rewetting, serta pengendalian emisi dari sektor transportasi dan industri,” kata Ardhasena.
Ardhasena juga mengingatkan bahwa aktifnya La Niña lemah pada awal musim hujan perlu diantisipasi karena berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
“Sebaliknya, pada periode kemarau, risiko karhutla tetap ada sehingga diperlukan langkah mitigasi lebih dini dan sistematis,” tambahnya.
BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim secara optimal untuk mendukung perencanaan lintas sektor, khususnya sumber daya air, pertanian, perkebunan, kesehatan, dan energi.
Sektor pertanian dan perkebunan dinilai dapat memanfaatkan kondisi iklim normal untuk meningkatkan produktivitas melalui strategi adaptasi yang tepat, termasuk penggunaan varietas unggul berproduktivitas tinggi. Namun, pelaku usaha diminta mewaspadai potensi hujan pada musim kemarau yang dapat mengganggu komoditas sensitif seperti tebu.
Di sisi infrastruktur, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau memastikan kesiapan jaringan irigasi, terutama di wilayah dengan potensi hujan tinggi. Sementara daerah dengan curah hujan relatif rendah perlu mengantisipasi melalui pengaturan pola tanam dan pengelolaan ketersediaan air.
Dari aspek kesehatan masyarakat, tingginya curah hujan dan kelembapan udara berpotensi meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue. Selain itu, kombinasi suhu yang lebih hangat dan kelembapan tinggi dapat mengurangi kenyamanan termal, sehingga masyarakat diimbau menjaga kondisi kesehatan secara lebih intensif.
Pengelola sumber daya air disarankan menyusun Rencana Alokasi Air Tahunan dengan skenario iklim normal guna menjaga stabilitas pasokan irigasi dan energi listrik sepanjang 2026. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga diminta mengantisipasi ketersediaan air pada musim kemarau agar kebutuhan pengairan pertanian dan pembangkit listrik tetap terpenuhi.
Proyeksi iklim normal pada 2026 menjadi kabar baik bagi berbagai sektor. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih matang menghadapi potensi dampak perubahan iklim di masa mendatang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: