Fadli Zon Beberkan Strategi Jitu Jadikan RI Pusat Diplomasi Budaya Dunia!

- Kemenbud gelar Indonesian Cultural Outlook 2026 dengan tema Living Heritage Shared Future untuk perkuat diplomasi budaya di tengah konflik global dan krisis iklim
- Fadli Zon canangkan lima pilar arah nasional: fondasi UUD 1945, tata kelola digital, ekonomi budaya strategis, perlindungan warisan dinamis, dan transformasi diplomasi global
- Indonesia miliki mega diversity budaya dengan ribuan warisan tak benda, 60% fosil Homo erectus 1,8 juta tahun, dan lukisan gua tertua 52.000 tahun sebagai soft power diplomasi
, Jakarta – Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Indonesian Cultural Outlook 2026 sebagai forum strategis diplomasi budaya yang mempertemukan pimpinan kementerian dengan para duta besar negara sahabat, perwakilan organisasi internasional, serta kementerian dan lembaga terkait. Acara ini digelar di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Mengusung tema Living Heritage, Shared Future, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa acara ini dilatarbelakangi oleh maraknya era yang penuh konflik, krisis iklim, dan disrupsi teknologi. Menurutnya, budaya merupakan pilar pertahanan yang dapat memperkuat komunitas dunia.
“Saat ini, kita tahu bahwa dunia memasuki era yang berat, di mana hal ini juga tercermin dalam program kebudayaan global,” kata Fadli.
Fadli menegaskan bahwa budaya merupakan unsur perekat dalam mencegah polarisasi, memelihara dialog, dan membangun rasa kebersamaan antarnegara. Ia menilai kekayaan budaya Indonesia belum dimaksimalkan sebagai soft power dalam membangun pengaruh global.
Menteri mengungkapkan lima pilar yang menjadi arah nasional Kementerian Kebudayaan. Pertama, fondasi peradaban berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, tata kelola budaya yang terintegrasi serta berbasis digital dan data. Ketiga, ekonomi budaya sebagai sumber daya strategis. Keempat, perkuatan pelindungan warisan budaya yang dinamis dan tangguh. Kelima, pemajuan transformasi digital dan diplomasi budaya global.
“Pencapaian Kementerian Kebudayaan di tahun 2025 memberikan sebuah garis dasar yang jelas. Di tahun 2026 ini, kami berupaya untuk mengubah capaian tersebut menjadi arah nasional di bawah lima pilar. Dari pilar-pilar tersebut, kita bisa melihat bagaimana kebijakan budaya menjadi instrumen penyampaian prioritas nasional yang terukur, praktis, dan selaras dengan agenda pemerintah Indonesia,” sambung Fadli.
Fadli menyampaikan rencana aksi budaya yang dicanangkan Kementerian Kebudayaan selama satu tahun ke depan melalui direktorat jenderal masing-masing. Program prioritas Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, Kerja Sama Budaya adalah diplomasi budaya dan kerja sama dengan institusi budaya internasional, repatriasi, memperkuat kerja sama budaya regional dan lintas regional, serta aktivasi pusat kebudayaan Indonesia dan memajukan promosi budaya.
Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi memiliki program penguatan museum dan literasi sejarah, Gerakan Pangan Lokal Nusantara, memperkuat advokasi dan memfasilitasi layanan publik bagi komunitas kepercayaan adat, serta mempercepat transmisi nilai budaya dan keberlanjutan talenta.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan mencanangkan penguatan ekosistem budaya di bidang sastra, film, musik, seni pertunjukan, dan seni rupa serta mendorong film dan musik sebagai industri budaya strategis.
“Selain itu, kami terbuka untuk kolaborasi dalam penelitian dan program museum, situs warisan budaya, dan konservasi koleksi,” ujar Fadli.
Melalui acara ini, Fadli berharap terbangun dialog yang produktif, pemahaman bersama, serta komitmen awal kerja sama kebudayaan yang konkret dengan mitra internasional. Forum ini diharapkan dapat memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi budaya global sekaligus mendorong terciptanya kolaborasi lintas sektor dan lintas negara yang berkelanjutan.
“Jika kita semua menyelaraskan sumber daya, keahlian, dan jaringan, maka akan tercipta warisan budaya yang lebih tangguh, komunitas yang lebih berdaya, industri budaya yang lebih kompetitif, serta kehadiran budaya Indonesia yang berkontribusi pada perdamaian dan pembangunan global,” tutup Fadli.
Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa yang disebut Fadli sebagai mega diversity, bukan sekadar diversitas biasa. Dari Aceh hingga Papua, Indonesia memiliki ekspresi budaya yang sangat beragam mulai dari seni pertunjukan, teater, musik, tarian, hingga warisan budaya tak benda yang jumlahnya mencapai ribuan.
Fadli menjelaskan konsep soft power sebagai kekuatan lunak yang mampu mempengaruhi pikiran dan hati orang lain tanpa menggunakan kekerasan atau paksaan. Berbeda dengan hard power yang mengandalkan kekuatan fisik seperti senjata atau militer, soft power justru mengandalkan daya tarik budaya, nilai-nilai, dan ideologi.
Beberapa negara seperti Amerika Serikat melalui Disney, Korea Selatan melalui Korean Wave, India melalui Bollywood, dan Jepang melalui pop culture telah lama memanfaatkan soft power ini untuk mempengaruhi dunia. Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar karena selain kaya budaya, juga memiliki peradaban yang sangat tua.
Fadli menyebutkan bahwa 60 persen penemuan fosil manusia purba Homo erectus ditemukan di Indonesia dengan usia mencapai 1,8 juta tahun. Selain itu, lukisan gua purba di Sulawesi yang berusia 52.000 tahun menjadi bukti nyata betapa tua dan kaya peradaban Nusantara.
Meski potensi budaya Indonesia sangat besar, Fadli mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari masalah administrasi, pendataan, hingga minimnya anggaran untuk mempromosikan budaya Indonesia di kancah global.
Fadli mengajak generasi muda untuk lebih mencintai dan mempelajari budaya sendiri serta tidak terpengaruh oleh budaya asing. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa masyarakat Indonesia dirasuki oleh budayanya sendiri sebagai fondasi karakter bangsa.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: