Bukan Orang Sembarangan: Ini Sosok Joe Kent yang Berani Menentang Trump soal Perang Lawan Iran

- Joe Kent adalah veteran Green Berets dan mantan paramilitary officer CIA dengan lebih dari 11 penugasan tempur, yang ditunjuk Trump memimpin National Counterterrorism Center pada 2025 sebelum akhirnya mengundurkan diri karena menolak kebijakan perang terhadap Iran.
- Karier panjang Kent di operasi khusus militer dan unit rahasia CIA membentuk pandangannya yang kritis terhadap intervensi militer Amerika di luar negeri, yang diperkuat oleh kematian istrinya, Shannon Kent, dalam serangan bom di Suriah pada 2019.
- Trump merespons pengunduran diri Kent dengan menyebut mantan pejabat seniornya itu "lemah," mencerminkan pecahnya kesatuan di lingkaran dalam pemerintahan AS atas kebijakan perang melawan Iran.
, Jakarta – Di tengah konflik AS-Iran yang kian memanas, nama Joe Kent tiba-tiba menjadi perbincangan luas setelah ia memilih mundur dari jabatannya sebagai Direktur National Counterterrorism Center (NCTC). Pengunduran dirinya bukan sekadar perpindahan karier biasa. Kent secara terbuka menolak kebijakan perang yang dijalankan Presiden Donald Trump terhadap Iran, dan Trump pun membalasnya dengan menyebut Kent “lemah” secara publik.
Tapi siapa sebenarnya Joe Kent?
Nama lengkapnya Joseph Clay Kent. Lahir pada 11 April 1980 di Sweet Home, Oregon. Ia menghabiskan hampir dua dekade di Angkatan Darat AS, menempuh pendidikan di Norwich University dengan jurusan Strategic Defense Analysis, sebelum akhirnya masuk ke dunia operasi militer yang jauh dari sorotan publik.
Kent bergabung dengan 75th Ranger Regiment, salah satu unit infanteri elit Angkatan Darat AS, lalu melanjutkan kariernya di Army Special Forces atau lebih dikenal sebagai Green Berets. Dalam perjalanan dinas militernya, ia tercatat menjalani lebih dari 11 kali penugasan tempur, sebagian besar di kawasan Timur Tengah dalam kerangka operasi perang melawan terorisme pascaserangan 11 September. Atas sejumlah operasi berbahaya yang ia jalani, Kent menerima beberapa penghargaan Bronze Star, medali yang diberikan kepada prajurit yang menunjukkan keberanian di medan perang.
Setelah pensiun dari militer pada 2018, ia tidak benar-benar meninggalkan dunia keamanan nasional. Kent bergabung dengan CIA sebagai paramilitary officer di Special Activities Center, unit yang mengelola operasi sensitif dan tidak selalu diumumkan ke publik, mulai dari kontra-terorisme hingga dukungan militer di wilayah konflik aktif.
Pengalaman langsung di medan tempur inilah yang membentuk cara pandang Kent terhadap perang. Bukan dari sudut teori atau dokumen intelijen semata, tapi dari pengalaman yang membayar harga nyata. Pada 2019, istrinya, Shannon Kent, seorang anggota militer aktif, tewas dalam serangan bom di Suriah saat menjalankan misi melawan ISIS. Peristiwa itu disebut sebagai salah satu titik balik dalam hidupnya, yang kemudian mendorongnya semakin kritis terhadap kebijakan keterlibatan militer Amerika di luar negeri.
Orang yang kehilangan istri dalam perang, lantas memilih menentang perang baru, memang mengandung ironi yang berat. Tapi justru itulah yang membuat posisi Kent sulit diabaikan begitu saja oleh siapa pun di Washington.
Setelah keluar dari CIA, Kent terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Republik. Ia mencalonkan diri sebagai anggota Kongres dari negara bagian Washington, dengan kampanye yang memusatkan perhatian pada isu keamanan nasional, hak-hak veteran, dan penolakan terhadap intervensi militer yang berlarut-larut. Pada 2025, Trump menunjuknya untuk memimpin NCTC, lembaga yang bertugas mengkoordinasikan analisis ancaman terorisme dan memberikan rekomendasi langsung kepada presiden.
Tapi kepercayaan itu tidak bertahan lama. Ketika kebijakan perang Iran dijalankan, Kent memilih mundur.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: