Donald Trump Umumkan Perang Besar Lawan Iran, AS-Israel Luncurkan Operasi “Epic Fury”

- Presiden AS Donald Trump mengumumkan perang besar terhadap Iran melalui operasi militer bertajuk “Epic Fury” bersama Israel, dengan target menghancurkan sistem rudal dan kekuatan laut Iran.
- Iran membalas dengan menyerang Israel serta tujuh negara yang menjadi basis militer AS di Timur Tengah, memicu eskalasi serius di kawasan.
- Meski ada kritik dari Kongres dan upaya diplomasi sebelumnya, Trump tetap melanjutkan serangan dan bahkan menyerukan warga Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka.
, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mengumumkan perang besar-besaran terhadap Iran. Langkah itu ditandai dengan rangkaian serangan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target strategis di wilayah Iran.
Serangan tersebut langsung dibalas Teheran dengan menggempur Israel serta tujuh negara yang menjadi basis militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, Minggu (1/3/2026), Trump telah memperingatkan sehari sebelumnya bahwa kemungkinan akan ada korban jiwa dari pihak militer AS dalam konflik kali ini.
Menurut Trump, serangan terhadap Iran tetap diperlukan meski risikonya adalah nyawa pasukan Amerika. Ia menegaskan, operasi tersebut bertujuan menghancurkan sistem rudal Iran dan melumpuhkan kekuatan angkatan lautnya.
“Pemerintahan saya telah mengambil setiap langkah yang mungkin untuk meminimalkan risiko terhadap pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun demikian, dan saya tidak mengatakan ini dengan enteng, rezim Iran berupaya untuk membunuh,” kata Trump dalam video yang dibagikan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
“Nyawa para pahlawan AS yang gagah berani mungkin akan hilang dan mungkin korban jiwa akan berjatuhan. Itu sering terjadi dalam perang, tetapi kita melakukan ini, bukan untuk sekarang. Kita melakukan ini untuk masa depan, dan ini adalah misi yang mulia,” lanjutnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Gedung Putih siap menghadapi eskalasi. Namun, Gedung Putih menyatakan belum ada rencana pidato lanjutan dari Trump dalam waktu dekat.
Operasi “Epic Fury”
Militer AS menamai operasi tersebut “Epic Fury”. Pengumuman itu disampaikan Pentagon melalui akun resmi di platform X milik X.
Ini menjadi serangan kedua terhadap Iran sejak Trump kembali menjabat tahun lalu. Sebelumnya, pada Juni 2025, Washington melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Serangan terbaru yang dimulai Sabtu (28/2) diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan. Seorang pejabat AS kepada Reuters menyebut operasi masih terus berjalan sesuai rencana militer.
Di sisi lain, langkah Trump menuai kritik keras dari internal Kongres. Menteri Luar Negeri Marco Rubio diketahui telah memberi pengarahan kepada para pemimpin kongres yang tergabung dalam kelompok intelijen bipartisan yang dikenal sebagai Gang of Eight.
Perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat AS, Jim Himes, Demokrat asal Connecticut, menyatakan kekhawatirannya.
“Semua yang saya dengar dari pemerintah sebelum dan sesudah serangan terhadap Iran ini menegaskan bahwa ini adalah perang tanpa tujuan strategis akhir,” kata Himes.
“Seperti yang saya sampaikan kepada Menteri Rubio ketika dia memberi pengarahan kepada Gang of Eight, aksi militer di wilayah ini hampir tidak pernah berakhir baik bagi AS.
Konflik dengan Iran dapat terus meningkat dengan cara yang tidak dapat kita antisipasi. Tampaknya Donald Trump belum belajar dari pelajaran sejarah,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPR Mike Johnson menyebut kelompok tersebut telah menerima pengarahan rinci sejak awal pekan bahwa aksi militer kemungkinan diperlukan.
Meski begitu, dua sumber menyebut masih ada jalur diplomasi yang sempat diupayakan Washington untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Namun hingga pembicaraan terakhir Kamis (26/2), tidak tercapai kesepakatan soal ambisi nuklir Iran.
“Iran menolak, seperti yang telah mereka lakukan selama beberapa dekade. Mereka menolak setiap kesempatan untuk melepaskan ambisi nuklir mereka, dan kita sudah tidak tahan lagi,” ujar Trump.
Operasi “Epic Fury”
Dalam pesan videonya, Trump juga menyerukan anggota Korps Garda Revolusi Islam untuk meletakkan senjata, dengan janji kekebalan. Jika tidak, ia memperingatkan akan ada “kematian yang pasti”.
Tak hanya itu, Trump bahkan mendorong warga Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.
“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi,” katanya.
Pernyataan tersebut diperkirakan akan memperkeruh situasi geopolitik kawasan. Dengan saling balas serangan yang telah dimulai, dunia kini menanti sejauh mana konflik ini akan berkembang dan apakah jalur diplomasi benar-benar telah tertutup.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: