Gara-Gara Perang Iran, Harga Minyak Dunia Lampaui US$100, APBN Indonesia Ikut Terguncang

- Harga minyak mentah Brent melonjak ke US$104 per barel, tertinggi sejak 2022, dipicu perang AS-Israel ke Iran dan ancaman blokade Selat Hormuz oleh Teheran.
- Bursa saham AS ikut terpukul, dengan Dow Jones anjlok lebih dari 850 poin di tengah kekhawatiran inflasi yang bisa memperlemah posisi politik Trump menjelang pemilu paruh waktu.
- Pemerintah Indonesia mencatat defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari PDB jika harga minyak rata-rata menyentuh US$92 sepanjang 2026, jauh di bawah harga aktual saat ini.
, JAKARTA – Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, harga minyak mentah dunia menembus angka US$100 per barel, Minggu (8/3). Pemicunya satu: perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Minyak mentah jenis Brent, acuan harga global, melonjak lebih dari 12 persen ke level US$104 per barel. Minyak mentah AS menyusul dengan kenaikan sekitar 14,7 persen. Angka-angka itu bukan sekadar statistik energi, melainkan sinyal kegelisahan pasar terhadap seberapa panjang konflik Timur Tengah ini akan berlangsung.
Guncangan langsung terasa di pasar saham New York. Indeks Dow Jones amblas 851,6 poin atau sekitar dua persen. S&P 500 turun 1,73 persen, sementara Nasdaq melemah 1,65 persen. Investor berhitung: jika harga energi tidak kunjung reda, inflasi AS bisa kembali bergerak naik.
Di titik inilah tekanan politik mulai menghantui Donald Trump.
Lonjakan harga bensin di pompa bahan bakar Amerika adalah bahan bakar tersendiri bagi lawan politiknya, terutama menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini. Trump mencoba mengelola ekspektasi publik dengan menyebut kenaikan harga minyak saat ini sebagai “gangguan kecil” dan menyebutnya sebagai “detour” yang sudah diperhitungkan sebelumnya.
Menteri Energi AS Chris Wright menambahkan dalam program State of the Union di CNN bahwa Washington tidak berniat menyerang fasilitas minyak Iran atau infrastruktur energi lainnya. Pernyataan itu terasa seperti upaya meyakinkan pasar, meski efeknya belum terlihat.
Iran memberi jawaban yang berbeda. Seorang pejabat senior Teheran memperingatkan konflik telah memasuki fase baru, dan memberi isyarat bahwa Iran mungkin akan membalas dengan menyasar infrastruktur energi di kawasan dalam waktu dekat.
“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai,” ujar pejabat tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur sempit yang berada di bawah kendali Iran, tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Sejak ancaman Iran membuat tanker-tanker enggan melewati selat itu, para produsen minyak kehilangan saluran distribusi. Akibatnya, banyak yang kini mengurangi produksi karena tidak ada ruang untuk menyimpan hasil tambang mereka.
Lonjakan ini bukan sekadar masalah pasar global. Di dalam negeri, pemerintah Indonesia sudah mulai menghitung ulang skenario terburuknya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pihaknya telah menjalankan stress test terhadap APBN 2026. Asumsi harga minyak dalam anggaran saat ini ditetapkan di kisaran US$60 per barel. Jika rata-rata harga minyak sepanjang tahun menyentuh US$92, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari produk domestik bruto. Angka itu mendekati batas aman yang ditetapkan undang-undang sebesar tiga persen.
Angka US$104 yang kini menjadi kenyataan jelas melampaui skenario tersebut.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: