Gubernur Khofifah Pastikan Super Flu di Jatim Terkendali, 18 dari 62 Kasus Nasional

- Jawa Timur catat 18 dari 62 kasus nasional virus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi Indonesia hingga akhir Desember 2025.
- Khofifah tegaskan kondisi terkendali dan virus tidak mematikan, mengimbau masyarakat tidak panik namun tetap waspada dengan menerapkan PHBS dan menggunakan masker di kerumunan.
- Pemprov Jatim telah siapkan langkah antisipatif termasuk pemantauan surveilans rutin, koordinasi dengan Kemenkes, edukasi masyarakat, dan akan menerbitkan surat edaran kewaspadaan ISPA.
, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan penyebaran virus influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal dengan super flu di provinsinya masih dalam kondisi terkendali. Pernyataan ini disampaikan menyusul temuan 62 kasus di delapan provinsi Indonesia, dengan Jawa Timur mencatat 18 kasus berdasarkan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan pemeriksaan dari 88 sentinel ILI SARI di seluruh Indonesia yang diperiksa di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3), hingga akhir Desember tercatat total 62 kasus di delapan provinsi termasuk Jatim.
“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, kondisi ini masih terkendali dengan baik,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (6/1/2026).
Khofifah menjelaskan kemunculan varian baru merupakan bagian wajar dari perkembangan virus influenza yang terus dipantau secara ilmiah oleh para ahli. Karena itu, masyarakat diminta tidak panik namun tetap waspada.
“Munculnya varian ini merupakan hal yang wajar dalam perkembangan virus influenza dan terus dipantau oleh para ahli melalui pemantauan ilmiah. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” imbuhnya.
Meski kondisi terkendali, pengamatan terhadap virus tetap dilakukan melalui sistem surveilans di fasilitas kesehatan terpilih. Pemantauan dilakukan melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo Kota Malang dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar Kota Malang.
Spesimen hasil pemantauan rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya, lalu diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing. Dari pemeriksaan tersebut, tercatat 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen periode September hingga November 2025.
Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja dengan proporsi relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Data nasional menunjukkan anak usia 1-10 tahun menjadi kelompok dengan proporsi tertinggi, mencapai 35,5 persen dari total kasus.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan telah melakukan sejumlah langkah antisipatif. Langkah tersebut meliputi pemantauan rutin surveilans ILI-SARI, koordinasi intensif dengan Kemenkes dan BBLKM Surabaya, serta pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mingguan.
Pemantauan juga dilakukan melalui pelaporan hasil pemeriksaan spesimen lewat aplikasi New All Record (NAR) sebagai bagian dari upaya deteksi dini berbasis data. Pembaruan dan penyegaran pengetahuan petugas kesehatan terkait penanganan Infeksi Saluran Pernapasan Akut terus dilakukan guna memastikan layanan kesehatan tetap responsif.
Edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat juga terus digencarkan melalui penerapan etika batuk dan PHBS. Vaksin influenza, khususnya bagi kelompok berisiko seperti balita dan individu dengan penyakit penyerta, terus digalakkan.
“Meskipun di Jatim terkendali, saya mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker, terutama di kerumunan dan ruang tertutup, sangat dianjurkan,” kata Khofifah.
Sebagai langkah penguatan pencegahan, Pemprov Jatim juga akan segera menerbitkan surat edaran kewaspadaan ISPA. Khofifah berharap dengan surat edaran tersebut, kewaspadaan masyarakat dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan.
“Ke depan, kami akan menerbitkan surat edaran kewaspadaan ISPA sebagai bagian dari upaya pencegahan. Dengan langkah ini, kami berharap kewaspadaan dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Secara nasional, tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak meliputi Jawa Timur (23 kasus), Kalimantan Selatan (18 kasus) dan Jawa Barat (10 kasus). Sementara Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus, serta masing-masing satu kasus ditemukan di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.
Kementerian Kesehatan menegaskan keberadaan subclade K di Indonesia tidak menunjukkan tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan varian influenza lain. Situasi influenza nasional masih dinilai terkendali dan vaksin influenza tetap efektif mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: