Israel Gempur Lebanon Hanya Beberapa Jam Setelah Gencatan Senjata AS-Iran Diumumkan, 254 Orang Tewas

- Israel menewaskan 254 orang di Lebanon hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada 7-8 April 2026, menjadikannya serangan paling mematikan sejak konflik pecah Maret lalu.
- Ketegangan diplomatik memuncak setelah Israel dan AS menegaskan Lebanon tidak termasuk cakupan gencatan senjata, bertentangan dengan pernyataan mediator Pakistan; Iran merespons dengan menutup kembali Selat Hormuz.
- Perundingan damai di Islamabad terancam setelah ketua parlemen Iran menyebut gencatan senjata sudah tidak relevan, sementara PBB mengecam keras serangan Israel yang dinilai melanggar norma hukum internasional.
, Militer Israel melancarkan serangan udara besar- besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan. Serangan yang oleh banyak pihak disebut sebagai yang terbesar sejak konflik kembali memanas ini langsung memicu gelombang kecaman internasional.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka. Korban terbanyak berpusat di ibu kota Beirut, dengan 91 orang dilaporkan meninggal dunia.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut operasi itu sebagai serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulainya operasi militer baru pada 2 Maret, yang menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah.
“Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan,” kata Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine kepada Al Jazeera.
“Ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” tambahnya.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan Israel menyerang daerah padat penduduk dan membunuh warga sipil tak bersenjata, serta menilai militer Israel mengabaikan upaya mengakhiri perang dengan menyerang Lebanon dan mengabaikan prinsip hukum internasional.
“Semua sahabat Lebanon diminta untuk membantu kami mengakhiri agresi ini dengan segala cara yang tersedia,” ujar Salam.
Serangan ini langsung mengguncang stabilitas gencatan senjata yang baru saja dicapai. Perbedaan mendasar antara berbagai pihak segera mencuat: Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif selaku mediator menyatakan gencatan senjata juga mencakup Lebanon, namun baik Israel maupun AS membantahnya.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan pihak Iran keliru memahami cakupan kesepakatan. “Saya kira pihak Iran mengira gencatan senjata itu mencakup Lebanon, padahal tidak,” ujarnya kepada wartawan di Budapest.
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk mengecam keras situasi tersebut. “Skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon hari ini sungguh mengerikan. Pembantaian seperti ini, hanya beberapa jam setelah menyetujui gencatan senjata dengan Iran, sungguh di luar nalar,” ujar Turk.
Ketua parlemen Iran Mohammed Bager Qalibaf menegaskan Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap Hizbullah. Ia juga menilai AS melanggar kesepakatan dengan tetap menuntut Iran menghentikan ambisi nuklirnya.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak masuk akal,” ujar Qalibaf.
Sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, Iran menutup kembali Selat Hormuz yang sebelumnya telah dibuka pasca-pengumuman gencatan senjata. Gedung Putih kemudian menuntut agar selat tersebut segera dibuka kembali dan berupaya menjaga kelangsungan pembicaraan perdamaian yang dijadwalkan di Islamabad pada Jumat (10/4).
Sejak konflik kembali memanas pada 2 Maret lalu, lebih dari 1.500 orang telah tewas di Lebanon dan sekitar 1,2 juta lainnya terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: