Marak Kasus OTT Kepala Daerah, Puan Maharani: Biaya Politik Terlalu Mahal!

- Ketua DPR Puan Maharani meminta DPR dan pemerintah melakukan evaluasi bersama menyusul maraknya OTT kepala daerah, terbaru terhadap Bupati Rejang Lebong Fikri Thobari yang menjadi OTT kedua di bulan Maret 2026
- Puan mengungkit dua isu utama: biaya politik yang terlalu mahal serta perlunya pendidikan akuntabilitas bagi kepala daerah agar memiliki kesadaran untuk saling menjaga, bukan hanya karena pengawasan
- KPK mengamankan 13 orang dalam OTT Bupati Rejang Lebong pada Senin (9/3) terkait dugaan suap proyek di lingkungan Pemkab Rejang Lebong, setelah sebelumnya Bupati Pekalongan Fadia Arafiq juga terkena OTT
, Jakarta – KPK kembali melakukan operasi tangkap tangan kepala daerah, terbaru terhadap Bupati Rejang Lebong Fikri Thobari. Ketua DPR Puan Maharani menyebut harus ada evaluasi dari DPR dan pemerintah mengenai fenomena ini.
“Kita harus sama-sama evaluasi antara DPR dengan pemerintah terkait dengan hal tersebut,” kata Puan usai rapat paripurna DPR di gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Puan mengungkit biaya politik mahal yang sering dikaitkan dengan permasalahan korupsi oleh kepala daerah. Di sisi lain, dia juga mendorong pentingnya kepala daerah diberikan pendidikan mengenai akuntabilitas pemerintahan.
“Apakah kemudian mungkin biaya politik terlalu mahal atau kemudian bagaimana memberikan pendidikan akuntabilitas kepada seluruh kepala daerah,” ucap Puan.
“Juga bagaimana memberikan kesadaran kepada seluruh kepala daerah bahwa akuntabilitas itu penting bukan hanya untuk pengawasan akuntabilitas, tapi bagaimana kesadaran untuk sama-sama saling menjaga,” sambungnya.
Penangkapan Fikri Thobari menjadi OTT kepala daerah kedua pada bulan ini. Sebelumnya, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq juga terkena OTT dan ditetapkan sebagai tersangka.
KPK menyebut OTT ini terkait kasus dugaan suap proyek di lingkungan Pemkab Rejang Lebong. KPK mengatakan, ada 13 orang yang diamankan dalam OTT yang digelar Senin (9/3). Mereka sempat diperiksa di Polres setempat.
“Dalam peristiwa tertangkap tangan ini, diduga terkait dengan suap proyek di lingkungan Pemkab Rejang Lebong,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (10/3).
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: