Massa 212 Minta Pemerintah Segera Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatera

- Massa Reuni 212 desak Prabowo tetapkan banjir Aceh, Sumut, Sumbar sebagai bencana nasional agar penanganan terkoordinasi dengan skala lebih besar.
- Rizieq Shihab sesalkan pemerintah belum tetapkan status bencana nasional meski korban capai 712 tewas dan 507 hilang per 2 Desember 2025.
- Panitia Reuni 212 galang dana target Rp10 miliar untuk korban bencana Sumatera, Palestina, dan Sudan dengan melibatkan seluruh ormas peserta.
, JAKARTA – Massa Reuni 212 mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera menetapkan bencana banjir dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera sebagai bencana nasional. Desakan ini disampaikan dalam acara Reuni 212 yang digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (2/12) malam.
Ketua Steering Committee Reuni 212, Ahmad Sobri Lubis, menyampaikan permintaan ini di hadapan ribuan massa yang hadir. Ia menekankan pentingnya penetapan status bencana nasional agar seluruh elemen masyarakat dapat bahu-membahu membantu korban.
“Kami mendukung supaya bencana di Aceh dan Sumatera ini dijadikan sebagai bencana, statusnya sebagai bencana nasional. Sehingga kita semuanya bisa bahu-membahu dalam meringankan dan memudahkan pembangunan kembali negeri yang telah terdampak bencana alam,” kata Sobri kepada wartawan.
Sobri menjelaskan bahwa penetapan status bencana nasional sangat penting untuk memastikan penanganan dan pemulihan dapat dilakukan secara terkoordinasi dan berskala lebih besar. Menurutnya, laporan situasi dari lapangan menunjukkan besarnya kebutuhan dan tingkat keparahan dampak.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat di daerah bencana secara aktif meminta bantuan dan membutuhkan percepatan penanganan. Permintaan bantuan terus berdatangan dari berbagai wilayah terdampak.
“Setiap waktu datang informasi dari daerah ‘Tolong bantu kami, tolong bantu kami’. Apalah daya kami,” katanya.
Sobri menegaskan bahwa organisasi-organisasi yang tergabung dalam Reuni 212 siap membantu pemerintah dalam penanganan bencana di Sumatera. Mereka siap mengerahkan relawan untuk turun langsung ke lapangan.
“Apapun yang bisa kita lakukan, kita siap juga menerjunkan relawan-relawan kami ke daerah-daerah yang memerlukan,” ujar dia.
Pentolan Front Persaudaraan Islam Rizieq Shihab turut menyesalkan langkah pemerintah yang belum menetapkan bencana ini dengan status tanggap darurat bencana nasional. Ia menyampaikan hal ini dalam sambutannya pada acara Reuni 212 dini hari Rabu (3/12).
“Maka itu saya sesalkan kalau sampai hari ini pemerintah belum mau untuk menyatakan bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional,” kata Rizieq.
Rizieq lalu mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana terkait korban meninggal dunia, korban luka, orang hilang, hingga mengungsi akibat bencana tersebut. Pada kesempatan itu, ia juga mengajak massa yang datang untuk bersama-sama membantu korban bencana.
Rizieq meminta organisasi massa yang hadir di Reuni 212 untuk menggalang dana kemanusiaan guna membantu para korban terdampak banjir bandang hingga longsor di Sumatera. Ia menyebutkan bahwa Front Pembela Islam telah membuka posko-posko bantuan sejak hari pertama bencana terjadi.
“Seluruh cabang FPI yang ada di Aceh, maupun Sumatera Utara, begitu juga Sumatera Barat, sejak hari pertama terjadi gempa, semua sudah membuka posko-posko, dapur-dapur umum untuk membantu saudara-saudara kita,” ujar dia.
BNPB mencatat korban tewas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bertambah menjadi 712 orang per Selasa (2/12) sore. Berdasarkan data BNPB yang ditampilkan dalam situs resmi mereka, jumlah korban hilang sebanyak 507 orang di tiga provinsi terdampak tersebut.
Dalam acara Reuni 212, massa sempat menggelar salat gaib untuk korban bencana. Panitia juga melakukan penggalangan dana untuk membantu korban di Sumatera dan juga untuk Palestina serta Sudan.
“Penggalangan dana untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Aceh, di Sumatera Utara, Sumatera Barat. Kemudian juga kita melaksanakan penggalangan dana juga untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina, di Sudan,” kata Sobri.
Panitia menargetkan penggalangan dana sebesar Rp10 miliar untuk korban bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dana tersebut rencananya juga akan disalurkan untuk masyarakat Palestina dan Sudan.
“Penggalangan dana Insyaallah Ta’ala hari ini semoga bisa dapat Rp10 miliar. Rp10 miliar ini Insyaallah Ta’ala kita bisa bagi-bagi kepada saudara-saudara kita yang ada di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan juga Palestina dan di tempat lainnya,” kata Sobri.
Ia menjelaskan bahwa penggalangan dana dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Menurutnya, musibah banjir di Sumatera membutuhkan penanganan cepat dan dukungan luas dari masyarakat.
Sobri kemudian mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jakarta yang telah memberikan izin untuk kegiatan Reuni 212 di Monas. Ia mengapresiasi dukungan luar biasa dari Gubernur Jakarta Pramono Anung.
“Kami selaku panitia OC dan SC sangat mengapresiasi dukungan yang begitu luar biasa dari Pak Pramono Anung selaku Gubernur DKI. Karena baru tahun ini dukungan dari Pemprov yang luar biasa. Mudah-mudahan kerja sama ini kerja sama yang bukan pertama dan terakhir tapi selamanya,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, pemerintah belum menetapkan bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera bagian utara berstatus bencana nasional. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Tito Karnavian menjelaskan bahwa pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait mengoptimalkan penanganan bencana.
Menurut Tito, hal terpenting adalah tindakan untuk penanganan dilakukan sebaik-baiknya. Ia menegaskan bahwa yang paling utama adalah perlakuan dan tindakan, bukan sekadar status.
“Jadi masalah status itu menurut saya penting, tapi yang paling utama itu kan perlakuan. Tindakannya itu yang lebih penting, tindakan nasional,” ucapnya.
Selain desakan terkait bencana nasional, pada momen yang sama, menantu Rizieq Shihab, Muhammad bin Husein Alatas yang juga Ketua Organizing Committee Reuni 212, mengusulkan tanggal 2 Desember dijadikan sebagai Hari Ukhuwah Indonesia dan menjadi libur nasional.
Usulan tersebut disampaikan kepada Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang hadir dalam acara. Wamenag menyatakan akan menyampaikan usulan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Usulan dari ketua OC tadi, saya belum bisa jawab hari ini. Tapi paling tidak sudah saya catat usulan untuk menjadikan libur nasional. Tapi apakah bisa atau tidak, itu harus saya sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto,” ujar Wamenag yang juga politikus Gerindra.
Acara Reuni 212 tahun ini mengangkat tema “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Merdekakan Palestina dari Penjajah serta Duka Sumatera Duka Kita Semua”. Kegiatan dimulai sejak pukul 17.00 WIB dengan agenda doa, zikir, salat gaib, dan sambutan berbagai tokoh.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: