Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Ganas, Legislator Jatim: Jangan Sampai Lumbung Pangan Nasional Goyah

- Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim Chusni Mubarok meminta Dinas Pertanian Jawa Timur bersiap menghadapi ancaman El Nino dan kemarau ekstrem 2026 yang diprediksi datang lebih awal, dengan fokus pada perbaikan sistem irigasi demi menjaga Jatim sebagai lumbung pangan nasional.
- Chusni menekankan pentingnya kolaborasi antara eksekutif dan legislatif serta sosialisasi menyeluruh kepada petani, agar mereka bisa mengakses informasi dan dukungan dalam menghadapi cuaca ekstrem tanpa harus kehilangan produktivitas.
- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 dimulai April dengan puncak pada Agustus, dan fenomena El Nino berpotensi memperluas kekeringan ke berbagai wilayah Indonesia termasuk Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku.
, Surabaya – Ancaman El Nino bukan kabar baru, tapi kali ini waktunya lebih mepet dari yang dibayangkan. Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia, dan Jawa Timur masuk dalam radar kekhawatiran paling serius.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Chusni Mubarok menyatakan pihaknya akan memanggil Dinas Pertanian Jatim selaku mitra kerja untuk membahas langkah antisipasi menghadapi ancaman kemarau ekstrem tersebut.
“Jawa Timur sebagai lumbung pangan tentunya ini menjadi perhatian khusus mengingat kita sebagai buffer stock pangan nasional,” kata Chusni Mubarok, politisi Gerindra asal Malang itu, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, kemarau ekstrem yang diperkirakan BMKG harus direspons sejak sekarang, terutama melalui penataan dan mekanisasi sistem irigasi agar tata kelola pertanian tidak terganggu saat cuaca memburuk. Keterlambatan antisipasi, kata Chusni, berpotensi merusak capaian produktivitas pangan yang selama ini sudah tumbuh positif.
“Jika tidak diantisipasi tentunya akan menghambat produktivitas pangan yang selama ini sudah meningkat dan sejalan dengan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada pangan,” jelasnya.
Meski situasinya mendesak, Chusni masih melihat ada jendela waktu yang cukup untuk bergerak. Yang ia tekankan bukan kecepatan semata, melainkan kualitas koordinasi antara eksekutif dan legislatif.
“Kita sudah pernah melewati berbagai dinamika yang ekstrim. Kuncinya adalah kolaborasi, kerjasama antara eksekutif dan legislatif, komunikasi yang baik, sosialisasi yang baik. Harapannya nanti petani mendapatkan informasi serta akses terhadap dukungan untuk menghadapi cuaca ekstrim tersebut sehingga produktivitas pangan di Jawa Timur tetap bisa kita maksimalkan,” tandasnya.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 mulai terjadi pada April dengan puncaknya di bulan Agustus. Fenomena El Nino yang menyertai akan membuat kondisi cuaca lebih panas dan kering secara bersamaan, sehingga potensi kekeringan diperkirakan meluas di berbagai wilayah, mulai Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: