Prediksi Goldman Sachs: Harga Emas Global Melesat ke US$5.000 pada Akhir 2026

- Harga emas diprediksi tembus US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026 dengan 70 persen investor institusional optimistis kenaikan akan berlanjut, didorong pembelian bank sentral dan pelemahan dolar AS.
- Goldman Sachs menaikkan target harga emas menjadi US$4.900 dari proyeksi US$4.300 karena lonjakan permintaan ETF berbasis emas dan pembelian bank sentral rata-rata 70-80 ton per tahun hingga 2026.
- Harga emas dalam negeri berpotensi mencapai Rp2,65-2,8 juta per gram pada 2026, naik 23 persen dari level saat ini jika prediksi Goldman Sachs terbukti.
, JAKARTA – Harga emas diproyeksikan akan terus mencetak rekor tertinggi atau all time high. Pada Kamis (4/12/2025) pukul 18.15 WIB, harga emas spot berada di level US$4.203, turun 0,15 persen. Secara year to date, pergerakan harga emas global sudah melonjak hingga 59,20 persen dan naik 5,66 persen dalam sebulan terakhir.
Harga emas logam mulia Aneka Tambang atau Antam kini juga sudah mencapai Rp2,40 juta per gram. Sementara harga pembelian kembali atau buyback berada di Rp2,26 juta per gram.
Chief Economist Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, mengatakan resiliensi reli melonjaknya harga emas bahkan ketika ketidakpastian global mulai mereda didorong oleh melemahnya dolar Amerika Serikat. Kenaikan harga emas juga ditopang dari penurunan imbal hasil obligasi dan pembelian emas yang berkelanjutan oleh bank sentral.
“Kita melihat memang sampai dengan tahun depan itu masih akan ada pembelian terhadap emas oleh bank sentral, maupun untuk investasi didorong oleh kelemahan dolar AS,” kata Banjaran dalam BSI Sharia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Banjaran mengaku emas saat ini tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai aset lindung nilai yang ideal seperti sebelumnya. Hal yang menarik adalah justru terjadi kenaikan pembelian emas untuk tujuan investasi, terutama melalui instrumen Exchange Traded Fund berbasis emas.
Menurutnya, aliran dana ke instrumen investasi emas melalui pasar saham terus meningkat di Eropa dan Amerika Utara. Pada Oktober 2025, aliran dana di Asia dan Amerika Utara juga masih tergolong tinggi. Meski begitu, ia menyebut kenaikan harga emas mungkin mulai melandai karena ada faktor siklus, terutama dari investor institusi, baik hedge fund maupun investor ekuitas yang melakukan profit taking.
“Itu biasanya dilakukan karena ada aksi ambil untung, tapi masih ada potensi naik,” ucap Banjaran.
Di sisi lain, survei Goldman Sachs menunjukkan banyak investor memperkirakan harga emas dapat mencapai rekor baru di US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026. Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak 58,6 persen year-to-date, bahkan untuk pertama kalinya menembus level US$4.000 pada 8 Oktober 2025.
Dalam survei terhadap lebih dari 900 klien institusional di platform Marquee Goldman Sachs, sebanyak 36 persen responden kelompok terbesar memperkirakan harga emas akan tetap melaju dan menembus US$5.000 pada tahun depan.
Sementara itu, 33 persen responden memprediksi harga akan berada di kisaran US$4.500 hingga US$5.000. Secara keseluruhan, lebih dari 70 persen investor institusional optimistis harga emas akan terus naik tahun depan. Hanya sekitar 5 persen responden yang memprediksi harga bisa turun ke rentang US$3.500 hingga US$4.000 dalam 12 bulan ke depan.
Harga emas sempat menyentuh level tertinggi dua minggu pada perdagangan Jumat sebelumnya, terdorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Harga emas spot naik 0,45 persen ke posisi US$4.175,50, sementara kontrak berjangka menguat 0,53 persen ke US$4.187,40.
Dalam survei yang sama, 38 persen responden menilai pembelian emas oleh bank sentral menjadi pendorong utama kenaikan harga, sedangkan 27 persen lainnya menyebut kekhawatiran fiskal sebagai faktor dominan. Investor ritel hingga hedge fund juga semakin banyak masuk ke komoditas ini sebagai aset safe haven, di tengah risiko inflasi, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar AS.
Bank sentral global pun aktif melakukan pembelian, tertarik pada likuiditas tinggi, minim risiko gagal bayar, serta status netral emas sebagai aset cadangan. Menurut Phil Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, tren kenaikan harga emas diperkirakan akan berlanjut hingga 2026.
“Prospek ekonomi global terus mendukung emas,” kata Streible dikutip CNBC, Kamis (4/12/2025).
Goldman Sachs dalam laporan terpisah juga menaikkan target harga emas menjadi US$4.900 per troy ounce dari proyeksi sebelumnya US$4.300. Kenaikan target ini didorong oleh lonjakan permintaan emas dari bank sentral serta arus masuk besar ke produk investasi berbasis emas seperti ETF di pasar Barat.
Bank investasi asal AS itu memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan mencapai rata-rata 80 ton pada 2025 dan 70 ton pada 2026, terutama dari negara berkembang yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa ke emas.
Selain itu, Goldman juga memprediksi kepemilikan ETF negara-negara Barat akan meningkat seiring perkiraan Federal Reserve akan menurunkan suku bunga acuan 100 basis poin hingga pertengahan 2026. Penurunan suku bunga ini membuat emas semakin menarik karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di Indonesia, kenaikan harga emas global berdampak langsung pada harga emas dalam negeri. Dengan asumsi kurs Rp16.554 per dolar AS, jika prediksi Goldman Sachs terbukti dengan harga emas mencapai US$4.900 per ons pada 2026, maka harga emas spot global bisa mencapai sekitar Rp2,6 juta per gram.
Mengacu pada selisih harga emas dalam negeri saat ini yang berkisar 1,9 hingga 7,9 persen lebih tinggi dari harga spot global, maka harga emas lokal berpotensi berada di kisaran Rp2,65 juta hingga Rp2,8 juta per gram pada 2026. Ini berarti kenaikan sekitar 23 persen dari posisi harga saat ini.
Perbedaan harga emas dalam negeri yang lebih tinggi disebabkan oleh adanya biaya produksi, pajak, margin penjual, pengaruh kurs rupiah, dan premi likuiditas akibat tingginya permintaan emas fisik di pasar domestik.
Analis dari Citigroup Inc. menilai bahwa permintaan menguat untuk emas dari berbagai segmen pasar, termasuk bank sentral, fund manajer aset jangka panjang, dana makro, kekayaan pribadi, dan investor ritel. Perubahan perdagangan global dan latar belakang geopolitik memperkuat kebutuhan para pemilik dana untuk mengalokasikan ke aset-aset yang aman.
Kondisi likuiditas yang lebih tipis sebagian karena pertumbuhan pasokan tambang yang terbatas, ditambah sejumlah besar emas juga terikat sebagai cadangan bank sentral serta ETF, bisa membuat pergerakan harga lebih tinggi.
Bank sentral di negara berkembang terus melanjutkan strategi diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS ke emas. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran akan stabilitas mata uang dolar dan kebijakan fiskal Amerika Serikat yang semakin agresif.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, prospek emas tetap positif hingga 2026. Jika prediksi Goldman Sachs terbukti, harga emas berpotensi mencetak rekor baru mendekati US$5.000 per troy ounce, menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.
Para investor di Indonesia disarankan untuk mempertimbangkan alokasi portofolio ke emas sebagai lindung nilai terhadap volatilitas pasar dan kebijakan ekonomi. Namun, tetap perlu memperhatikan diversifikasi investasi dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen saja.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: