Presiden Federal Reserve Tegaskan Perlunya Suku Bunga AS Tetap Tinggi untuk Kendalikan Inflasi

- Pejabat The Fed tegaskan suku bunga AS perlu tetap tinggi untuk memastikan inflasi terus menurun dan mencegah lonjakan harga kembali terjadi.
- Jeff Schmid tolak dua pemangkasan suku bunga terakhir karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dinilai berpotensi memicu kembali tekanan inflasi.
- Pasar tidak ekspektasi pemotongan suku bunga hingga pertengahan 2026, sementara tingkat suku bunga saat ini dipandang sudah mendekati level netral.
, AMERIKA SERIKAT – Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, berpendapat bahwa tingkat suku bunga Amerika Serikat perlu dipertahankan pada posisi restriktif. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan laju inflasi terus menurun secara berkelanjutan.
“Dengan tekanan inflasi yang masih terlihat, preferensi saya adalah mempertahankan kebijakan moneter dalam posisi agak ketat,” ujar Schmid dalam pernyataan tertulis yang disiapkan untuk sebuah acara di Kansas City.
Schmid menyebutkan bahwa meskipun pasar ketenagakerjaan mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, proses pendinginan tersebut justru diperlukan. Hal ini untuk mencegah tekanan harga kembali meningkat di masa mendatang.
“Meski pasar tenaga kerja telah mendingin, sebagian pelonggaran itu kemungkinan memang dibutuhkan agar tekanan inflasi tidak kembali meningkat,” katanya.
Otoritas moneter AS telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada akhir tahun 2025. Namun, Schmid tercatat mengambil sikap berbeda dengan menyatakan ketidaksetujuan terhadap dua pemotongan terakhir yang dilakukan pada Oktober dan Desember.
Pejabat The Fed tersebut menilai pertumbuhan ekonomi yang masih solid berpotensi memicu kenaikan inflasi kembali. Karenanya, ia menganggap penurunan suku bunga pada dua bulan tersebut terlalu dini.
Pasar keuangan secara luas memperkirakan bank sentral AS akan menahan tingkat suku bunga acuannya saat pertemuan mendatang akhir bulan ini. Pelaku pasar juga tidak melihat adanya kemungkinan pemotongan tambahan hingga pertengahan tahun 2026.
Saat ini, kisaran suku bunga federal funds berada di level 3,5% hingga 3,75%. Posisi tersebut dianggap mendekati atau sudah berada pada tingkat netral, yakni tidak menekan maupun mendorong aktivitas ekonomi.
Schmid menekankan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut kemungkinan kecil akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang lemah sepanjang tahun 2025. Menurutnya, perlambatan di pasar kerja lebih disebabkan oleh faktor struktural ketimbang faktor siklikal yang biasanya dapat dipengaruhi kebijakan bank sentral.
“Saya khawatir pemangkasan suku bunga justru dapat berdampak lebih panjang terhadap inflasi, seiring komitmen kami terhadap target 2% semakin dipertanyakan,” katanya.
Presiden Fed Kansas City ini juga menyoroti pentingnya independensi The Fed beserta struktur federalnya yang melibatkan pejabat di Washington dan 12 bank sentral regional di berbagai wilayah AS. Belakangan, The Fed mendapat sorotan dari pemerintahan Presiden Donald Trump dengan sejumlah pejabat yang mendorong peninjauan ulang terhadap beberapa aspek sistem bank sentral regional.
“The Fed yang terdesentralisasi juga memungkinkan adanya perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan moneter yang tepat. Ini justru menjadi kekuatan sistem. Diskusi kebijakan akan lebih solid ketika mencakup keberagaman pandangan,” ujar Schmid.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: