Psikolog: Trauma Banjir Aceh 2025 Lebih Berat dari Tsunami 2004, Ini Penyebabnya

- Psikolog: memori kolektif tsunami 2004 langsung aktif saat lihat air hancurkan permukiman, korban yang alami keduanya sebut banjir 2025 lebih buruk karena bantuan tidak merata, warga kekurangan air bersih dan listrik mati.
- Trauma lebih kompleks: kombinasi bencana alam, krisis lingkungan, dan dampak berlapis, mantan petinggi BRR sebut bencana Sumatera 2025 gabungan tsunami Aceh, Covid-19, Lapindo, dan perubahan iklim.
- Data BNPB: 921 meninggal, 392 hilang, 37.546 rumah rusak, wilayah terdampak setara Jawa-Madura-Bali, psikolog peringatkan risiko PTSD jika gejala stres menetap lebih dari sebulan.
- Claude adalah AI dan bisa keliru. Harap periksa kembali sumber yang dikutip.
, JAKARTA – Psikolog kebencanaan sekaligus anggota tim Disaster Network, Dr. Listyo Yuwanto, M.Psi., mengungkapkan bahwa reaksi masyarakat yang sering membandingkan banjir besar di Sumatera dengan tsunami 2004 merupakan hal yang wajar dan dapat dipahami.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman traumatis kolektif masih tertanam sangat kuat dalam ingatan masyarakat Aceh.
“Tsunami 2004 itu meninggalkan jejak trauma yang sangat dalam. Begitu melihat air menghancurkan permukiman, memori kolektif itu langsung aktif,” ujarnya saat dimintai keterangan Kompas.com, Senin (1/12/2025).
Menurutnya, peran pemberitaan media juga sangat signifikan. Foto-foto dokumentasi desa yang terendam air, warga yang terjebak, hingga korban jiwa menciptakan kemiripan visual yang membuat masyarakat dengan cepat menarik perbandingan dengan bencana dahsyat masa silam.
Bagi nelayan Effendi Basyaruddin, bencana banjir dan longsor yang menerjang Provinsi Aceh dalam sepekan terakhir memicu kembali kenangan traumatis tentang hari ketika dia berlari menyelamatkan diri dari terjangan gelombang tsunami 21 tahun yang lalu.
Tragedi tsunami Samudra Hindia 26 Desember 2004, yang dipicu gempa bermagnitudo 9,1, menewaskan hampir 200.000 orang di Aceh.
“Saya melihat gelombang tertinggi saat tsunami, sekitar 20 meter. Tapi banjir ini lebih besar, desa-desa menjadi sungai,” kata Effendi kepada Reuters.
Kenangan kelam tersebut kembali menghantuinya setelah banjir dan longsor akibat badai menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatra. Bencana ini telah menewaskan lebih dari 800 orang di Indonesia, termasuk lebih dari 200 korban di Aceh, serta sekitar 200 korban di Thailand dan Malaysia.
“Pemukiman hancur total, seperti terkena tsunami. Bedanya, korban mungkin masih belum ditemukan dan lebih sulit dicari,” ujarnya.
Seorang ibu yang menjadi korban bencana banjir dan longsor di Desa Bukit Tempurung, Aceh Tamiang, yang juga pernah mengalami tsunami pada tahun 2004, memberikan kesaksian bahwa penderitaan akibat banjir bandang kali ini bahkan lebih buruk baginya.
Dalam unggahan TikTok yang viral, sang ibu yang pernah kehilangan suami saat tsunami 2004 mengungkapkan bahwa bantuan yang datang tidak merata. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat menderita kekurangan air bersih dan mengalami malam yang gelap gulita tanpa listrik.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, memperingatkan bahwa pengalaman yang mengancam nyawa dapat memicu gangguan stres akut pada para penyintas.
“Reaksi stres normal umumnya mereda dalam 2-4 minggu. Bila gejala emosional atau fisik menetap lebih dari satu bulan, individu berada pada risiko perkembangan gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau gangguan penyesuaian,” ujar Kasandra.
Data BNPB menunjukkan dampak tragis di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat: 921 orang meninggal dunia, 392 hilang, dan 37.546 rumah mengalami kerusakan. Lebih dari 570 ribu warga mengungsi dengan total 1,5 juta orang terdampak.
Mantan Direktur Hubungan Luar Negeri dan Donor BRR Aceh-Nias Heru Prasetyo menilai kompleksitas bencana kali ini jauh lebih berat. Sebab, yang dihadapi bukan sekadar bencana alam, tetapi juga krisis lingkungan dan dampak berlapis lainnya.
“Bencana Sumatera ini merupakan kombinasi dari tsunami Aceh, Covid-19, Lapindo, dan perubahan iklim,” ujar Heru dalam Sarasehan Daring Pemulihan Andalas, Sabtu (6/12/2025).
Mantan Deputi Kelembagaan dan SDM BRR Sudirman Said yang kini menjabat di PMI menyatakan cakupan kerusakan bencana Sumatera sangat luas.
“Jika dipetakan, wilayah terdampak setara dengan Jawa-Madura-Bali. Ini sudah melampaui tsunami 2004,” ungkapnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: