Purbaya Sorot Perlambatan Ekonomi Nasional Akibat Salah Urus Domestik

- Purbaya menilai perlambatan ekonomi 8 bulan terakhir disebabkan salah urus domestik, bukan faktor global.
- Ekspor masih kuat, tumbuh 11,41% dan menjaga surplus dagang selama 65 bulan.
- Neraca perdagangan tumbuh 50,09%; ekspor naik 11,34% dan impor 7,24% yang menunjukkan industri dalam negeri tetap aktif.
, Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan penilaian tajam soal perlambatan ekonomi Indonesia sepanjang delapan bulan terakhir. Menurutnya, lesunya kinerja ekonomi bukan semata-mata dipicu gejolak global, melainkan lebih disebabkan kesalahan pengelolaan ekonomi di dalam negeri.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Kamis (27/11/2025), Purbaya menegaskan bahwa data ekspor menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Ekspor tetap tumbuh tinggi dan berhasil menjaga surplus neraca perdagangan selama 65 bulan tanpa henti sejak Mei 2020. Per September 2025, ekspor masih mencatat kenaikan 11,41 persen.
“Kalau dilihat dari sini, perlambatan ekonomi kita sepanjang delapan bulan pertama tahun ini bukan karena global saja,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, indikator ekspor yang solid justru menjadi bukti bahwa sektor usaha nasional masih kompetitif di pasar internasional, meski perang tarif dan ketidakpastian global terus berlangsung. Menurutnya, hal itu mengindikasikan adanya persoalan di tata kelola ekonomi domestik yang kini sedang diperbaiki.
“Mungkin bukan karena global, mungkin karena salah urus di dalam yang sudah kita perbaiki,” tegasnya.
Purbaya juga memaparkan bahwa gejolak ekonomi dunia tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ekspor maupun neraca perdagangan Indonesia. Sebaliknya, kedua indikator tersebut justru tumbuh positif.
“Walaupun perekonomian dunia mengalami gejolak yang tidak menentu, pengaruh ke ekspor dan trade balance kita tidak signifikan, malah cenderung positif,” jelasnya.
Ia merinci bahwa neraca perdagangan mencatat pertumbuhan 50,09 persen. Secara tahunan, ekspor meningkat 11,34 persen sementara impor naik 7,24 persen. Kenaikan impor itu, menurut Purbaya, menjadi sinyal bahwa aktivitas industri dalam negeri semakin menggeliat seiring kuatnya permintaan global.
Pernyataan Purbaya tersebut menegaskan kembali bahwa fokus perbaikan ekonomi harus diarahkan pada pembenahan kebijakan domestik, bukan semata bergantung pada faktor eksternal.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: