Susi Pudjiastuti Semprot Gibran Soal Starlink di Aceh: Harusnya Langsung Bawa, Bukan Janji-janji!

- Susi Pudjiastuti kritik Gibran soal janji Starlink di Aceh, seharusnya langsung bawa 10 unit Starlink dan genset tanpa perlu tanya-tanya, dalam situasi darurat butuh kecepatan tindakan bukan janji-janji.
- Gibran janjikan Starlink saat kunjungan 17 Desember ke Gayo Lues, setelah warga keluhkan sinyal komunikasi belum pulih, juga pesan percepat perbaikan jembatan, BBM, listrik, dan penuhi kebutuhan kelompok rentan.
- Profil Susi: pengusaha sukses lulusan SMP pendiri Susi Air, Menteri KKP 2014-2019 yang tenggelamkan 488 kapal illegal fishing, tingkatkan stok ikan 76%, raih penghargaan internasional dari WWF dan BBC.
, JAKARTA – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melontarkan kritik tajam terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait janji pemasangan internet satelit Starlink untuk korban bencana di Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Kritik tersebut disampaikan Susi melalui akun media sosial X pribadinya pada Kamis (18/12/2025), merespons kunjungan Gibran ke Posko Pengungsian BLK Blangkejeren sehari sebelumnya.
“Seharusnya Anda bisa datang dengan pesawat, bawa Starlink 10, genset kecil 10, dan semuanya bisa langsung pasang, tidak perlu tanya-tanya. Bawa lebih pun bisa,” tulis Susi.
Pengusaha maskapai Susi Air itu menambahkan bahwa dalam situasi darurat bencana, kecepatan dan ketepatan tindakan jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar janji-janji.
“Padahal yang diperlukan tinggal omong ke bawahan, sampai di sana gak perlu nanya-nanya, sat set sat set,” sambungnya.
Pernyataan Susi menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi darurat tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat, tetapi juga pada kecepatan pengambilan keputusan dan koordinasi di lapangan.
Kritik ini muncul setelah Gibran berkunjung ke lokasi pengungsian pada Rabu (17/12/2025) dan menanyakan kondisi sinyal komunikasi kepada para pengungsi.
“Bapak, ibu sinyalnya sudah baik belum?” tanya Gibran kepada warga.
“Belum,” jawab warga secara serempak.
Menanggapi kondisi tersebut, Gibran kemudian berjanji akan memasang layanan internet berbasis satelit agar warga pengungsi dapat berkomunikasi dengan kerabat mereka di luar daerah terdampak.
“Nanti kita segera pasangkan Starlink ya biar bisa segera menghubungi teman-teman, saudaranya di tempat lain. Internetnya belum jalan ya? Kita segerakan ya,” kata Gibran.
Di depan para pengungsi, Gibran juga berpesan agar pejabat terkait dapat mempercepat perbaikan infrastruktur, mulai dari pembangunan kembali jembatan yang putus, pasokan BBM, hingga internet dan listrik.
Selain soal konektivitas, Gibran juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, balita, dan ibu hamil.
Ia menegaskan distribusi bantuan logistik akan terus dilakukan melalui berbagai jalur.
“Jangan sampai ada yang sakit. Tidak terobati,” ujar Gibran.
Kritik Susi ini bukan yang pertama kali. Wanita kelahiran Pangandaran 15 Januari 1965 tersebut dikenal vokal dan tegas dalam menyuarakan pendapat, terutama terkait penanganan bencana dan isu kemanusiaan.
Susi Pudjiastuti merupakan pengusaha sukses yang membangun karier dari nol. Berawal dari pedagang ikan keliling di Pangandaran dengan ijazah SMP, ia berhasil mendirikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang mengekspor lobster ke berbagai negara.
Pada 2004, Susi membeli pesawat Cessna 208 Caravan untuk mengangkut hasil laut segar dan mendirikan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang kemudian berkembang menjadi maskapai Susi Air.
Susi Air menjadi salah satu responder pertama saat bencana Tsunami Aceh 2004, mendistribusikan bantuan ke wilayah terisolasi. Pengalaman ini membuat Susi Air berkembang pesat dan kini menjadi operator Cessna Grand Caravan terbesar di Asia Pasifik dengan 50 pesawat.
Pada 26 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo mengangkat Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja 2014-2019.
Sebelum dilantik, ia melepas seluruh jabatannya di perusahaan untuk menghindari konflik kepentingan.
Sebagai menteri, Susi dikenal dengan kebijakan tegas memberantas illegal fishing. Dalam rentang November 2014 hingga Agustus 2018, sebanyak 488 kapal pencuri ikan ditenggelamkan, mayoritas berbendera Vietnam (276 kapal) dan Filipina (90 kapal).
Kebijakan ini terbukti efektif meningkatkan stok ikan Indonesia dari 7,3 juta ton pada 2015 menjadi 13,1 juta ton pada 2018, atau naik sekitar 76 persen.
Atas kiprahnya, Susi menerima berbagai penghargaan internasional termasuk Leaders for a Living Planet Award dari WWF (2016), Peter Benchley Ocean Awards (2017), dan masuk dalam The BBC 100 Women (2017).
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: