Menkeu Purbaya Ungkap Alasan Genjot Uang Primer

- Menkeu Purbaya mengaku mendorong pertumbuhan uang primer (M0) karena melihat ekonomi sebelumnya “direm”, sehingga peredaran uang rendah dan memicu demonstrasi besar Agustus–September 2025.
- Purbaya menyebut gejolak publik berpotensi mengguncang stabilitas politik, bahkan bisa memicu pergantian kekuasaan jika ekonomi tidak segera diperbaiki.
- Pemerintah menggelontorkan Rp 276 triliun dana menganggur di BI ke sistem perbankan, sehingga uang primer kini tumbuh 13% dan demonstrasi mereda.
, Jakarta —Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan alasan utama dirinya langsung tancap gas mendorong pertumbuhan uang primer (M0) sejak dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Kementerian Keuangan pada 8 September 2025. Menurutnya, kebijakan ekonomi sebelumnya justru menahan pergerakan ekonomi masyarakat hingga memicu gelombang demonstrasi besar-besaran pada Agustus–September 2025.
Berbicara dalam pembukaan Rapimnas Kadin 2025, Senin (1/12), Purbaya menyebut rendahnya pertumbuhan uang primer menjadi salah satu indikator bahwa ekonomi domestik sedang “direm”. Situasi itu, katanya, berkorelasi dengan meningkatnya keresahan publik.
“Saya lihat orang-orang turun ke jalan, demo besar-besaran. Kita harus analisa apakah ini akan hilang atau justru berlanjut,” ujarnya.
Purbaya menegaskan, jika persoalan ekonomi tak ditangani cepat, demonstrasi dapat berlangsung berkepanjangan dan bahkan berpotensi mengguncang stabilitas politik nasional.
“Kemungkinan besar enggak akan hilang kalau ekonominya enggak diperbaiki. Awal tahun depan bisa saja kita masuk sesi pergantian kekuasaan—biayanya besar sekali bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebagai langkah korektif, Purbaya langsung menggelontorkan dana pemerintah yang selama ini mengendap di Bank Indonesia—senilai Rp276 triliun—kembali ke sistem keuangan domestik melalui perbankan. Langkah ini dilakukan untuk mendongkrak peredaran uang primer yang selama ini stagnan.
Kebijakan tersebut, klaimnya, kini mulai menunjukkan hasil. Pertumbuhan uang primer berhasil menyentuh level 13 persen, sementara gejolak di jalanan juga mereda.
“Ekonominya memang sedang diberhentikan. Sekarang kita gas lagi supaya aktivitas masyarakat bergerak,” kata Purbaya.
Kementerian Keuangan menegaskan akan terus memonitor stabilitas ekonomi nasional, memastikan kebijakan fiskal dan moneter berjalan harmonis demi menjaga ketertiban sosial serta kepercayaan publik.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: