Janji 500 Ribu Wisatawan China ke Nepal Tinggal Mimpi, Kunjungan Malah Susut 6,3 Persen

- Program "Visit Nepal Year in China" 2025 yang dijanjikan mendatangkan 500 ribu wisatawan China justru gagal, dengan kunjungan wisatawan China ke Nepal malah turun 6,3 persen menjadi hanya 95.480 orang.
- Nepal hanya menerima sedikit di atas 1 juta wisatawan internasional sepanjang 2025 dengan pertumbuhan tipis 1 persen, jauh di bawah harapan bahwa dorongan Beijing akan menghidupkan sektor pariwisata.
- Direktur Nepal Tourism Board mengakui strategi pemasaran dan promosi dirancang buruk serta gagal menciptakan permintaan, ditambah pembatalan sebagian agenda promosi akibat protes Gen Z pada September 2024.
, KATHMANDU – Pada Juni 2024, dalam putaran ke-16 mekanisme konsultasi diplomatik Nepal-China di Kathmandu, Beijing menyatakan komitmen mempromosikan Nepal sebagai destinasi utama wisatawan China dan menetapkan 2025 sebagai Visit Nepal Year in China.
Secara informal, para pejabat senior China bahkan menjanjikan kedatangan setidaknya 500.000 wisatawan China. Namun, realitas berkata lain. Di balik gemuruh diplomasi, kunjungan wisatawan China justru mencatat pertumbuhan negatif.
Sepanjang 2025, Nepal hanya menerima sedikit di atas 1 juta wisatawan internasional, untuk ketiga kalinya sejak pandemi, dengan pertumbuhan tahunan tipis sekitar 1 persen. Harapan bahwa dorongan Beijing akan menjadi suntikan vital bagi sektor pariwisata Nepal yang rapuh perlahan memudar.
Data Nepal Tourism Board menunjukkan kedatangan wisatawan China turun 6,3 persen secara tahunan menjadi 95.480 orang. Angka ini jauh dari ekspektasi yang dibangun setahun sebelumnya.
“Apa yang salah sebenarnya jelas,” kata Mani Raj Lamichhane, Direktur Nepal Tourism Board.
“Segmen pemasaran dan promosi dirancang dengan buruk. Kami memang melakukan promosi di berbagai kota di China, tetapi gagal menciptakan permintaan,” sambungnya.
Diplomasi Budaya yang Tak Berujung Dampak
Pada Desember 2024, Nepal dan China menerbitkan pernyataan bersama untuk mendukung berbagai inisiatif promosi pariwisata, mulai dari festival budaya hingga ajang olahraga dan film. Namun sebagian agenda tersebut batal menyusul gelombang protes Gen Z pada September.
Lamichhane mengakui bahwa program promosi yang dilakukan tidak mampu menciptakan daya tarik yang kuat bagi wisatawan China. Strategi pemasaran yang kurang tepat sasaran dan kurangnya koordinasi antara berbagai pihak terkait menjadi faktor utama kegagalan program ini.
Para pelaku industri pariwisata Nepal menilai bahwa komitmen China yang terkesan setengah hati dan lebih bersifat seremonial daripada substantif turut berkontribusi pada hasil yang mengecewakan ini. Selain itu, kondisi ekonomi China yang sedang mengalami perlambatan juga diduga menjadi salah satu alasan rendahnya minat wisatawan China untuk berkunjung ke Nepal.
Kegagalan program Visit Nepal Year in China ini menjadi pelajaran berharga bagi Nepal untuk lebih realistis dalam menetapkan target dan merancang strategi promosi pariwisata yang lebih efektif di masa mendatang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: