Purbaya Tawarkan Cara Baru Kelola Ekonomi RI, Defisit Naik Jadi 2,9 Persen

- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusung paradigma baru pengelolaan ekonomi yang pro-pertumbuhan dan pro-rakyat dengan menjaga pemerataan kesejahteraan dan stabilitas nasional.
- Pemerintah melonggarkan defisit anggaran dari 2,5 persen menjadi 2,9 persen sebagai langkah countercyclical untuk membalik tren ekonomi yang menurun tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.
- Purbaya optimistis ekonomi kuartal I/2026 bisa tumbuh 5,5 hingga 6 persen dengan modal kondisi fiskal yang stabil, defisit terkendali di bawah 3 persen, dan utang di kisaran 40 persen.
, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim akan mengelola keuangan negara dengan paradigma baru yang mempercepat pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat.
Purbaya mengatakan kerangka kebijakan pemerintah akan disusun secara hati-hati dengan mendorong peran aktif dan koordinasi lintas kementerian untuk mewujudkan kebijakan yang optimal.
“Kami mengusung paradigma baru untuk pengelolaan ekonomi Indonesia. Pro-pertumbuhan dan prorakyat dengan menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan kesejahteraan, dan stabilitas nasional,” kata Purbaya dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Dari sisi fiskal, APBN akan berperan sebagai katalis dan instrumen countercyclical untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi. Selain itu, APBN juga difungsikan sebagai alokasi dan distribusi agar ekonomi makin efisien.
Upaya memperkuat ekonomi nasional, menurutnya, bisa dilakukan dengan memberikan perlindungan sosial yang tepat sasaran. Pemerintah juga terus memperbaiki iklim usaha, mengoptimalkan penerimaan negara, serta menjaga disiplin fiskal.
Purbaya mengakui pemerintah sedikit melonggarkan defisit anggaran dari 2,5 persen menjadi 2,9 persen. Kebijakan ini diambil sebagai langkah countercyclical untuk membalik tren ekonomi yang turun.
“Ini adalah program countercyclical yang kami kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, jadi mulai naik. Ini kita lakukan tanpa mengorbankan kehatian-kehatian fiskal,” ujarnya.
Ia menegaskan defisit APBN 2025 saat ini masih terjaga di level 2,92 persen dari PDB, atau di bawah batas aman 3 persen. Begitu pula dengan rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40 persen, jauh di bawah batas maksimal 60 persen.
Kondisi fiskal yang stabil ini, menurut Purbaya, menjadi modal kuat untuk mengerek pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Ia optimistis momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat di 2025 akan terus berlanjut hingga 2026.
“Kalau kita lihat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat tahun 2025, ini akan terus berlanjut hingga tahun 2026. Prediksi kami di kuartal I/2026, ekonomi kita bisa tumbuh 5,5% sampai 6%,” tuturnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: