TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Dianggap Pencitraan, Zulhas: “Mau Ngatain Saya Silakan, Yang Penting Warga Tertolong”

Poin Penting (3)
  • Zulkifli Hasan menanggapi santai kritik pencitraan atas aksinya memanggul beras, menyebut itu sudah jadi kebiasaan sejak lama dan dirinya diajarkan untuk berbagi oleh ibunya.
  • Zulhas menegaskan fokus utama adalah membantu korban banjir–longsor di Sumatra, dan ia mempersilakan publik mengkritik asalkan bantuan kepada warga tetap diberikan.
  • BNPB mencatat dampak bencana sangat besar: 916 meninggal, 274 hilang, 4.200 terluka, dan ribuan fasilitas umum hingga jembatan di Aceh, Sumut, dan Sumbar mengalami kerusakan berat.

Resolusi.co, Jakarta —Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menanggapi dingin kritik publik atas aksinya memanggul karung beras saat menyalurkan bantuan untuk korban banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatra. Video aksinya sempat viral dan dinilai sebagai pencitraan, namun Zulhas menegaskan bahwa kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak lama.

“Setiap saya ke daerah saya memang bagi beras. Biasa saya gotong beras, biasa. Biasa 500 kg, 100 kg, 5 kg. Saya biasa itu, saya bagi,” ujar Zulhas dalam BIG Conference 2025 di Hotel Raffles Jakarta, Senin (8/12).

Zulhas menyebut kebiasaan berbagi itu sudah diajarkan oleh ibunya sejak kecil. Karena itu, ia tak mempersoalkan kritik yang mengarah pada gaya membantunya di lapangan termasuk tudingan bahwa aksinya sekadar pencitraan.

“Yang paling penting, saya ajak bapak-ibu ayo kita jangan marah-marah, jangan cuma emosi. Mari kita bantu saudara-saudara kita yang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Satu rupiah pun penting bagi mereka, satu karung beras pun penting,” tegasnya.

“Mau ngatain saya, enggak apa-apa. Tapi bantulah saudara-saudara kita,” sambung Ketua Umum PAN tersebut.

Aksi panggul beras itu sebelumnya diunggah di akun Instagram Zulhas saat kunjungannya ke Sumatera Barat pada 30 November. Unggahan itu kemudian menuai kritik warganet yang menilai tindakan tersebut tidak lebih dari upaya membangun citra personal.

Sementara itu, situasi di lapangan masih jauh dari pulih. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir-longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali bertambah. Per Minggu (7/12), total 916 orang meninggal bertambah 2 orang dari data sehari sebelumnya, sementara 274 warga masih dinyatakan hilang.

Sebanyak 4.200 warga dilaporkan terluka. Kerusakan infrastruktur juga masif: 1.300 fasilitas umum terdampak, 199 fasilitas kesehatan rusak, 697 fasilitas pendidikan hancur, serta 420 rumah ibadah dan 234 gedung kantor tidak lagi dapat difungsikan. Sedikitnya 405 jembatan juga putus akibat terjangan banjir bandang dan longsor.

Di tengah duka panjang Sumatra, polemik pencitraan pejabat kembali muncul. Namun di luar perdebatan itu, kebutuhan mendesak korban tetap sama: uluran tangan, kehadiran negara, dan bantuan nyata yang terus mengalir.