Dijamu Macron di Paris, Prabowo Disinggung Soal Dewan Perdamaian Gaza

- Presiden Macron menjamu Presiden Prabowo di Istana Elysee Paris untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Prancis di berbagai bidang dan membahas isu global
- Indonesia resmi bergabung sebagai anggota Dewan Perdamaian Gaza bentukan Trump yang ditandatangani di Davos, sementara Prancis menolak undangan tersebut
- Prancis menyatakan Dewan Perdamaian Gaza berada di luar kerangka PBB dan meragukan efektivitasnya karena tidak sesuai dengan prinsip yang disepakati bersama
, PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan isi pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dalam jamuan makan malam di Istana Elysee, Paris, Jumat (23/1) malam waktu setempat. Pertemuan itu jadi perbincangan karena menyinggung soal Dewan Perdamaian Gaza yang diprakarsai Donald Trump.
Prabowo tiba di Paris pada Jumat siang setelah memberikan pidato khusus di World Economic Forum, Davos, Swiss, sehari sebelumnya. Kunjungan ke Istana Elysee bukan yang pertama kali. Tahun lalu, Prabowo juga dijamu Macron di tempat yang sama, termasuk saat masih berstatus presiden terpilih pada Juli 2024.
“Senang menyambut hari ini di Paris Presiden Indonesia, Prabowo Subianto,” kata Macron dalam siaran resminya, Sabtu (24/1), dikutip Antara.
Macron mengatakan pertemuan itu memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Prancis di berbagai bidang. Dia juga menyebut ada keselarasan pandangan kedua negara soal isu global dan internasional yang akan Prancis dorong dalam kepresidenannya di G7.
Namun, Macron tidak menguraikan lebih jauh apa yang dimaksud dengan keselarasan pandangan itu. Yang jelas, isu Dewan Perdamaian Gaza jadi salah satu topik sensitif dalam pertemuan tersebut.
Indonesia resmi bergabung sebagai anggota Dewan Perdamaian Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump. Penandatanganan piagam pembentukan dewan itu berlangsung di sela World Economic Forum, Davos, Kamis kemarin.
Prancis justru menolak undangan AS untuk bergabung. Macron secara terbuka menyatakan negaranya lebih percaya pada lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjalankan fungsi pemulihan stabilitas dan perdamaian di Gaza.
Pemerintah Prancis, lewat siaran resminya, menegaskan Dewan Perdamaian pimpinan Trump itu berada di luar kerangka yang disepakati bersama soal pemulihan Gaza. Macron juga mempertanyakan legitimasi dewan tersebut jika dikaitkan dengan keberadaan PBB dan struktur yang diakui negara-negara anggota.
Prancis menyimpan keraguan serius terhadap efektivitas dewan itu, terutama terkait prinsip yang sudah disepakati bersama dan peran PBB sebagai lembaga dunia. Paris khawatir langkah Trump justru akan melemahkan mekanisme yang sudah ada.
Perbedaan sikap Indonesia dan Prancis soal Dewan Perdamaian Gaza ini menunjukkan kompleksitas diplomasi global. Di satu sisi, Indonesia mencoba terlibat dalam upaya perdamaian dengan pendekatan baru. Di sisi lain, Prancis tetap berpegang pada mekanisme multilateral yang sudah mapan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: