Gus Idroer Doakan Konflik Internal NU Segera Berakhir dan Kembali ke Khittah

- Gus Idroer Maimoen Zubair, putra KH Maimoen Zubair dan Ketua Majelis Taman Surga PPP, doakan konflik internal NU segera selesai.
- Gus Idroer harap NU kembali ke khittah dan jalan perjuangan yang dinanti umat, meski enggan berkomentar panjang soal konflik kepemimpinan.
- Konflik bermula saat Gus Yahya copot Gus Ipul dari Sekjen PBNU 28 November, sehari kemudian Rais Aam Miftachul Akhyar berhentikan Gus Yahya dan ambil alih kepemimpinan.
, JAKARTA – Muhammad Idroer Maimoen Zubair, putra almarhum ulama KH Maimoen Zubair dan Ketua Majelis Taman Surga Partai Persatuan Pembangunan, berharap konflik internal di tubuh Nahdlatul Ulama segera berakhir. Ia menyampaikan harapan ini dalam acara silaturahmi ulama dan Majelis Taman Surga PPP di Pondok Pesantren Darus Sholah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (2/12/2025).
Gus Idroer, sapaan akrabnya, enggan memberikan komentar panjang lebar mengenai konflik yang tengah melanda organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Namun ia menegaskan kecintaannya pada NU.
“Saya enggak mau berkomentar. Yang penting saya cinta Nahdlatul Ulama. Saya bukan siapa-siapa,” kata Gus Idroer.
Meskipun tidak ingin berkomentar banyak, sebagai bagian dari PPP, Idroer tetap mendoakan yang terbaik bagi NU. Ia memanjatkan doa agar konflik internal yang tengah terjadi dapat segera terselesaikan.
“Kami doakan, panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semoga cepat selesai apa terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama,” katanya.
Gus Idroer menyampaikan harapan agar NU dapat kembali ke khittah dan jalan perjuangannya yang sejati. Menurutnya, hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam di Indonesia.
“Saya hanya bisa mendoakan semoga yang kita cintai Nahdlatul Ulama kembali kepada relnya, kepada khittahnya, kepada jalan perjuangannya, dan itu sangat dinanti-nanti umat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Idroer juga mengajak seluruh pihak yang bersimpati dengan Indonesia dan umat Islam untuk bersama-sama berjuang melalui jalur konstitusional. Ia menyerukan persatuan dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan umat.
“Ayo bareng-barenglah yang bersimpati dengan Indonesia, bersimpati dengan umat Islam, bersama-sama PPP berjuang dalam legislatif dan eksekutif secara konstitusional,” katanya.
Pernyataan Gus Idroer ini muncul di tengah konflik internal yang tengah melanda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ketegangan bermula ketika Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mencopot Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dari jabatan Sekretaris Jenderal PBNU pada 28 November 2025.
Keputusan tersebut diumumkan kepada media massa dan memicu gelombang reaksi di kalangan pengurus NU. Sehari kemudian, pada 29 November 2025, giliran Gus Yahya yang diberhentikan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Miftachul Akhyar kemudian mengambil alih kepemimpinan PBNU setelah menggelar pertemuan dengan sejumlah pengurus PBNU di Kantor Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Langkah ini menandai pergantian kepemimpinan yang dramatis di tubuh organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
Konflik kepemimpinan ini menjadi sorotan publik mengingat NU memiliki jutaan anggota dan peran penting dalam kehidupan sosial politik Indonesia. Banyak kalangan mengharapkan agar konflik internal ini dapat segera diselesaikan demi kepentingan umat yang lebih besar.
Gus Idroer adalah putra bungsu dari KH Maimoen Zubair, ulama kharismatik yang wafat pada 6 Agustus 2019 di Makkah saat menunaikan ibadah haji. Mbah Moen, begitu KH Maimoen Zubair akrab disapa, adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
Sejak kecil, Gus Idroer dididik langsung oleh ayahandanya di Pesantren Al-Anwar bersama dengan santri-santri yang lain. Ia mendapat pesan dari ayahnya untuk menjunjung tinggi ilmu, menjaga, dan meneruskan pondok pesantren agar dirawat dengan baik.
KH Maimoen Zubair dikenal sebagai ulama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pendidikan pesantren. Beliau adalah Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang fatwa-fatwanya selalu ditunggu dan menjadi rujukan banyak kalangan.
Mbah Moen juga dikenal sebagai tokoh yang selalu mengedepankan persatuan dalam keberagaman. Keyakinan dan komitmennya untuk menjadikan agama sebagai rahmat bagi masyarakat yang beragam membuat sosoknya selalu ada di hati masyarakat dari berbagai golongan.
Dalam bidang kebangsaan, Mbah Maimoen adalah salah satu poros rujukan dan sandaran bagi paham dan praktik beragama umat di Nusantara. Menjaga Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika adalah salah satu amanatnya bagi generasi penerus.
KH Maimoen Zubair menikah dengan istri pertama Nyai Hj Fahima Baidhowi, putri dari KH Baidhowi Lasem Rembang. Dari pernikahannya, keduanya dikaruniai dua putra dan satu putri, yaitu KH Abdullah Ubab, KH Muhammad Najih, dan Nyai Hajah Shobihah.
Dari istri kedua, yakni Ibu Nyai Hajah Mastiah, Mbah Moen dikaruniai enam putra dan satu putri, yaitu KH Majid Kamil, KH Abdul Goffur, KH Abdul Rouf, KH Muhammad Wafi, Nyai Hajah Rodhiah, KH Taj Yasin yang pernah menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018-2023, dan KH Muhammad Idror.
Putra-putra Mbah Moen kini meneruskan perjuangan ayahnya dalam mengembangkan pendidikan pesantren dan dakwah Islam. Mereka tetap menjaga warisan keilmuan dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh almarhum ayahanda.
Pondok Pesantren Al-Anwar yang didirikan Mbah Moen pada 1965 hingga kini tetap berdiri kokoh dan telah melahirkan banyak ulama dan cendekiawan. Pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang disegani di Jawa Tengah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: