Haedar Nashir Minta Umat Tak Peruncing Perbedaan Lebaran, Dorong Terwujudnya Kalender Islam Global

- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau masyarakat dan tokoh agama untuk tidak memperuncing perbedaan penetapan Idul Fitri, dan mendorong suasana perayaan yang kondusif serta penuh kekhusyukan.
- Pernyataan disampaikan usai salat Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/3/2026), sehari lebih awal dari penetapan pemerintah yang menetapkan Lebaran pada Sabtu, 21 Maret 2026.
- Haedar mendorong terwujudnya kalender Islam global tunggal berbasis Konsensus Turki 2016 sebagai solusi jangka panjang agar perbedaan penentuan awal bulan tidak terus berulang setiap tahun.
, Yogyakarta – Pagi itu, jemaah Muhammadiyah sudah memenuhi lapangan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk menunaikan salat Idul Fitri. Selesai salat, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pesan yang nadanya lebih meredam daripada mempertahankan posisi.
Perbedaan penetapan Idul Fitri antara Muhammadiyah dan pemerintah yang tahun ini berselisih satu hari, menurut Haedar, tidak perlu dijadikan bahan perdebatan. Ia justru mengajak semua pihak untuk merayakan hari kemenangan dengan jiwa lapang.
“Kita tidak perlu mempertajam perbedaan. Pertama, karena kita sudah terbiasa dengan perbedaan ini. Kedua, tidak perlu mencari argumen untuk membenarkan diri sendiri sembari menghakimi pihak lain yang berbeda pandangan,” kata Haedar Nashir usai salat Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (20/3/2026).
Pesan itu juga ditujukan kepada para tokoh agama. Haedar meminta mereka menjaga tutur kata dan menghindari pernyataan yang bisa memperkeruh suasana di masyarakat, terutama di tengah perayaan hari raya yang semestinya menjadi momen pemersatu.
“Para tokoh agama sebaiknya menghindari ujaran yang dapat memperkeruh suasana di masyarakat. Mari jalani Idulfitri dengan khusyuk guna memupuk kesalehan jiwa dan pikiran,” tambahnya.
Kepada para elite nasional, Haedar menyerukan agar mereka menjadi uswatun hasanah, teladan dalam menjaga persatuan dan perdamaian bangsa.
Di balik seruan damai itu, Haedar menyimpan gagasan yang lebih besar. Ia berharap umat Islam di seluruh dunia suatu saat bisa merayakan Idul Fitri pada hari yang sama, melalui kalender Islam global tunggal. Rujukannya konkret: Konsensus Turki 2016, sebuah kesepakatan internasional yang selama ini dijadikan landasan oleh Tim Tarjih Muhammadiyah.
“Harapannya ke depan, dunia Islam memiliki kalender global tunggal agar tidak terus terjadi perbedaan. Kita bisa merujuk pada Konsensus Turki tahun 2016,” tuturnya.
Haedar mengibaratkan cita-cita itu seperti pelaksanaan salat Jumat yang sudah berlaku seragam di seluruh penjuru dunia. Harinya sama, tanggalnya sama. Yang berbeda hanya jam pelaksanaannya, menyesuaikan zona waktu masing-masing wilayah.
Muhammadiyah, katanya, sudah aktif mengkaji dan mendiskusikan konsensus internasional itu selama setahun terakhir melalui Tim Tarjih, sebagai wujud komitmen untuk mendorong kesatuan kalender Islam secara bertahap dan berbasis ilmu.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: