Harga Minyak Dunia Turun Usai AS dan Iran Komit Lanjutkan Dialog Nuklir

- Harga minyak Brent dan WTI turun sekitar 0,7 persen pada Senin akibat komitmen AS-Iran melanjutkan dialog nuklir di Oman
- Penurunan harga mengakhiri reli tujuh minggu beruntun, dengan koreksi lebih dari 2 persen pekan lalu
- Uni Eropa usulkan larangan layanan logistik ekspor minyak Rusia, sementara India hentikan sementara impor dari Moskow
, Jakarta – Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Senin (9/2/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat melanjutkan dialog terkait program nuklir. Komitmen ini meredam kekhawatiran pasar akan konflik militer yang bisa mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent berjangka turun 49 sen atau 0,72 persen menjadi 67,56 dolar AS per barel pada pukul 08.34 WIB. Sebelumnya, Brent ditutup naik 50 sen pada akhir pekan.
Sementara West Texas Intermediate turun 42 sen atau 0,66 persen ke level 63,13 dolar AS per barel. Kontrak WTI sempat menguat 26 sen pada Jumat kemarin.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan pelaku pasar bereaksi positif terhadap perkembangan diplomasi AS-Iran di Oman.
“Dengan adanya lebih banyak pembicaraan di masa mendatang, kekhawatiran langsung akan gangguan pasokan di Timur Tengah telah sedikit mereda,” kata Sycamore.
Dialog tidak langsung antara kedua negara di Oman memang belum tuntas. Namun, kedua belah pihak menyatakan komitmen untuk terus bernegosiasi meski masih ada sejumlah perbedaan pendapat.
Langkah diplomasi ini berhasil menurunkan suhu politik di kawasan. Risiko perang terbuka yang sempat membayangi berkurang, meski kehadiran militer AS di Timur Tengah tetap signifikan.
Investor masih cemas soal stabilitas pasokan dari Iran dan negara produsen lain di kawasan itu. Selat Hormuz, yang menjadi jalur 20 persen konsumsi minyak global, tetap jadi titik krusial dalam perhitungan geopolitik energi.
Meredanya tensi pekan lalu memicu koreksi harga kedua acuan minyak lebih dari 2 persen. Ini mengakhiri reli tujuh minggu beruntun yang sempat mendorong harga ke level tertinggi.
Tapi jangan salah, ancaman belum hilang total. Iran sempat mengancam akan membalas fasilitas militer AS jika ada provokasi, yang menunjukkan potensi konflik tetap mengintai di balik pintu diplomasi.
Tekanan tambahan datang dari Eropa. Komisi Eropa mengusulkan pelarangan layanan logistik untuk ekspor minyak laut Rusia sebagai upaya memukul pendapatan negara itu.
India, pembeli besar minyak Rusia, memutuskan hentikan sementara impor dari Moskow. Keputusan ini diprediksi bukan cuma jeda singkat, melainkan strategi New Delhi untuk mempercepat kesepakatan dagang dengan Washington.
Baker Hughes melaporkan perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas pekan lalu. Ini ketiga kalinya sejak November, pertanda kenaikan harga mendorong aktivitas produksi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: