Iran Izinkan Kapal LNG Qatar Lintas Selat Hormuz, AS Masih Tunggu Jawaban Proposal Damai

- Iran mengizinkan kapal LNG Qatar melintas Selat Hormuz menuju Pakistan, menjadi yang pertama sejak perang dimulai 28 Februari 2026, sebagai bagian dari langkah membangun kepercayaan bersama mediator Qatar dan Pakistan.
- AS masih menunggu jawaban resmi Teheran atas proposal perdamaian yang dirancang untuk menghentikan perang sebelum masuk ke negosiasi program nuklir Iran.
- Bocoran penilaian CIA menyebut Iran mampu bertahan dari blokade ekonomi hingga empat bulan ke depan, memperlemah posisi tawar Washington jelang kunjungan Trump ke Tiongkok.
, Jakarta – Sebuah kapal tanker gas alam cair milik Qatar bergerak mendekati Selat Hormuz dengan tujuan Pakistan, Sabtu (9/5/2026). Yang membuat pergerakan ini berbeda dari biasanya, kapal tersebut dikabarkan sudah mengantongi izin dari Teheran.
Informasi itu datang dari sumber internal yang dikutip data pelayaran LSEG. Jika kapal ini berhasil melintas, itulah pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu sebuah tanker LNG Qatar bisa melewati selat yang sudah berbulan-bulan menjadi titik panas dunia itu.
Langkah ini dibaca sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan antara Iran dan dua negara mediator, Qatar dan Pakistan. Bukan pernyataan resmi, bukan perjanjian. Tapi sebuah gerakan kecil yang, dalam konteks perang yang sudah berjalan lebih dari dua bulan, terasa cukup untuk diperhatikan.
Di saat yang sama, Washington masih dalam posisi menunggu. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pihaknya mengharapkan respons dari Teheran atas proposal perdamaian terbaru dalam hitungan jam. Sabtu malam, belum ada tanda-tanda jawaban datang.
Proposal yang dimaksud dirancang untuk menghentikan konflik secara formal sebelum dua pihak bergerak ke isu yang jauh lebih pelik, termasuk program nuklir Iran. Urutan agenda itu sendiri sudah mencerminkan betapa panjang jalan yang masih harus ditempuh.
Rubio memanfaatkan hari yang sama untuk bertemu dengan Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, di Miami. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyebut pertemuan itu membahas pentingnya koordinasi untuk mencegah eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati titik sempit itu. Sejak serangan udara AS-Israel ke Iran pada akhir Februari memicu perang, Teheran menutup sebagian besar akses pelayaran non-Iran di sana. Akibatnya, harga minyak global yang kini diperdagangkan di kisaran US$ 95 untuk jenis WTI dan US$ 100 untuk Brent, terus menjadi variabel penting dalam tekanan diplomatik internasional.
Gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April lalu secara teknis masih berlaku, tapi kenyataan di lapangan terus mengujinya. Pada Jumat (8/5), pangkalan pertahanan udara Uni Emirat Arab mencegat dua rudal balistik dan tiga drone yang diluncurkan dari wilayah Iran. Tiga orang dilaporkan terluka. Di perairan, militer AS mengakui telah menyerang dua kapal berafiliasi Iran yang mencoba memasuki pelabuhan, dengan menembakkan proyektil ke cerobong kapal untuk memaksa mereka berbalik.
Presiden Donald Trump tetap menyebut gencatan senjata masih berjalan, meski mengakui ada “riak-riak kecil.” Teheran punya pandangan yang berlawanan.
“Setiap kali solusi diplomatik ada di atas meja, AS justru memilih petualangan militer yang ceroboh,” tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Yang membuat posisi Trump semakin terjepit adalah bocoran penilaian internal CIA yang menyebut Iran masih mampu bertahan dari tekanan ekonomi blokade hingga empat bulan ke depan. Kalau itu akurat, strategi tekanan maksimum Washington punya batas waktu yang lebih panjang dari yang selama ini diasumsikan.
Ditambah lagi, konflik ini mulai kehilangan daya tarik di dalam negeri AS sendiri. Dukungan publik melemah, dan sekutu-sekutu Barat tidak lagi seantusias awal. Kunjungan Trump ke Tiongkok yang dijadwalkan pekan depan menambah tekanan tersendiri agar konflik ini setidaknya terlihat menuju penyelesaian sebelum ia duduk berhadapan dengan Beijing.
Kapal LNG Qatar di Selat Hormuz hari ini bisa jadi tidak lebih dari sebuah uji coba. Tapi dalam diplomasi yang sudah terlalu lama bermain di ambang perang, uji coba kecil semacam itu terkadang menjadi preseden untuk langkah yang lebih besar.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: