Israel Perluas Operasi ke Tubas Warga Diusir dan Kota Dikepung Pasukan Pendudukan

- Israel kepung Tubas, usir warga, dan tangkap 22 orang.
- Militer klaim operasi untuk bongkar infrastruktur militan.
- Ribuan warga Palestina sebelumnya juga terusir dalam operasi di Tepi Barat.
- HRW tuding Israel lakukan kejahatan perang; Hamas mengecam.
, Jakarta, Operasi militer Israel kembali merangsek ke jantung Tepi Barat. Kali ini, Kota Tubas menjadi sasaran terbaru dari kampanye bersenjata yang telah berlangsung berbulan-bulan dan mengguncang kawasan utara wilayah pendudukan.
Gubernur Tubas, Ahmed Al-Asaad, mengungkapkan kepada Reuters bahwa pasukan Israel—didukung helikopter tempur—telah mengepung kota dan membangun sejumlah titik posisi di berbagai lingkungan. “Penyerbuan ini tampaknya akan berlangsung lama. Pasukan pendudukan mengusir warga dari rumah, mengambil alih atap bangunan, dan melakukan penangkapan,” ujarnya.
Militer Israel mengklaim operasi yang digelar sejak Rabu (26/11/2025) dini hari itu merupakan bagian dari respons intelijen atas dugaan upaya pembangunan basis infrastruktur kelompok-kelompok militan. Dalam penggeledahan puluhan rumah, otoritas militer menyebut telah menemukan ruang kendali pengamatan yang dituding sebagai pusat kegiatan kelompok bersenjata.
Di lapangan, iring-iringan kendaraan militer tampak melintasi jalan utama kota, diikuti pasukan berjalan kaki lengkap dengan senapan dan peluncur roket. Mobilisasi pasukan juga mencapai Kota Tammun di sekitar Tubas. Menurut Al-Asaad, warga yang diusir dilarang kembali ke rumah mereka hingga operasi dinyatakan selesai, dan ia memperkirakan pengerahan militer ini dapat berlangsung beberapa hari.
“Penguasaan atas kota terus mereka tuntaskan,” katanya. Ia menambahkan bahwa tentara Israel memasang pos pemeriksaan ketat dan sejauh ini telah menahan sedikitnya 22 warga Palestina.
Tepi Barat, yang dihuni sekitar 2,7 juta warga Palestina, tetap berada di bawah pendudukan militer Israel, sementara ratusan ribu pemukim Israel hidup di sana dengan perlindungan penuh aparat. Operasi ke Tubas memperpanjang rangkaian serangan yang dimulai awal tahun ini di berbagai kota, termasuk Jenin, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih.
Ribuan warga Palestina dilaporkan telah dipaksa angkat kaki dari permukiman mereka. Kamp-kamp pengungsi dikosongkan, dan kehadiran pasukan Israel di sejumlah kota kini menjadi yang terlama dalam beberapa dekade terakhir.
Human Rights Watch bulan ini menuding Israel melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui praktik pengusiran paksa. Israel menolak tuduhan tersebut. Di saat bersamaan, kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina terus meningkat, sementara penegakan hukum terhadap para pelaku nyaris tidak terjadi, meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengeluarkan pernyataan mengecam.
Hamas, yang bulan lalu menyepakati gencatan senjata dengan Israel di Gaza, mengecam keras operasi terbaru di Tubas. Kelompok itu menyerukan komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan eskalasi yang semakin memperburuk penderitaan warga Palestina di Tepi Barat.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: