Jemaah Haji Indonesia Hilang Enam Hari di Makkah, PPIH dan Polisi Saudi Lakukan Pencarian Intensif

- Muhammad Firdaus Ahlan, jemaah haji kloter JKG 27, hilang di Makkah sejak 15 Mei 2026 setelah keluar hotel seorang diri tanpa membawa identitas apapun selain gelang haji.
- PPIH Arab Saudi bersama kepolisian Saudi terus melakukan pencarian intensif ke berbagai titik, termasuk hotel, area Masjidil Haram, dan sejumlah rumah sakit di Makkah.
- PPIH mengingatkan seluruh jemaah wajib membawa identitas saat keluar hotel dan tidak bepergian sendirian, terutama bagi jemaah lansia menjelang puncak haji.
, Makkah – Seorang jemaah haji Indonesia belum ditemukan hingga hari keenam setelah dilaporkan hilang di Makkah, Arab Saudi. Jemaah bernama Muhammad Firdaus Ahlan, anggota kloter JKG 27 dari Rombongan 1 KBIH Imam Bonjol, terakhir terlihat meninggalkan hotel pada Jumat pagi, 15 Mei 2026.
Rekaman kamera CCTV hotel merekam Firdaus keluar sekitar pukul 09.04 waktu Arab Saudi, seorang diri, mengenakan baju koko putih dan sarung hitam bercorak kotak-kotak. Yang menjadi persoalan, ia tidak membawa kartu identitas maupun telepon seluler. Satu-satunya pengenal yang ada di tubuhnya hanya gelang haji.
Berdasarkan keterangan keluarga, malam sebelumnya Firdaus baru menyelesaikan umrah wajib, namun sempat mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan saat proses sa’i. Jumat siang, ia pamit menuju salat Jumat, sempat bertanya arah masjid kepada orang di sekitar hotel, dan tidak pernah kembali.
Laporan resmi masuk ke Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melalui Kanal Kawal Haji pada keesokan harinya, 16 Mei 2026.
“Kami memastikan bahwa proses pencarian terus dilakukan secara serius, menyeluruh, dan terus berlanjut hingga saat ini,” kata Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, di Makkah, Rabu (20/5/2026).
Tim pencarian langsung dibentuk dan disebar ke berbagai titik, mulai dari hotel-hotel di sekitar pemondokan jemaah Indonesia, area Masjidil Haram, hingga jalan-jalan utama Kota Makkah. Petugas perlindungan jemaah atau linjam juga dikerahkan. Pencarian bahkan menjangkau sejumlah rumah sakit, baik di dalam kota maupun di luar Makkah.
“Kami juga melakukan koordinasi intensif dengan pihak kepolisian Arab Saudi,” tambah Ichsan.
Tidak adanya kartu identitas pada diri Firdaus disebut menjadi kendala nyata di lapangan. Di tengah jutaan jemaah dari puluhan negara yang memadati Makkah selama musim haji, proses identifikasi seseorang tanpa dokumen apapun menjadi jauh lebih sulit dari yang bisa dibayangkan dari jauh.
Selain mengurus pencarian, PPIH juga memberikan pendampingan khusus kepada istri Firdaus yang turut menjalankan ibadah haji bersama suaminya.
“Kami memahami bahwa situasi ini menghadirkan kecemasan dan kesedihan yang tidak ringan, terutama bagi keluarga yang menanti kabar di tanah air,” ujar Ichsan.
Kasus ini kembali mengingatkan betapa rentannya kondisi jemaah di Tanah Suci, terutama di tengah kepadatan yang memuncak menjelang puncak haji. PPIH berulang kali mengimbau jemaah agar tidak bepergian sendirian, membawa kartu identitas dan kartu nusuk setiap keluar hotel, serta menghafal nama hotel dan nomor kontak ketua rombongan. Bagi jemaah lansia atau yang memiliki keterbatasan fisik, pendampingan dari anggota keluarga atau rombongan dinilai tidak boleh diabaikan.
PPIH juga meminta masyarakat menahan diri untuk tidak menyebarkan foto maupun narasi spekulatif terkait kasus ini sebelum ada informasi resmi yang terverifikasi.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia turut mendoakan agar Bapak Muhammad Firdaus Ahlan segera ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat,” ujar Ichsan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: