TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

Kapan 1 Ramadan 2026? BMKG Ungkap Posisi Hilal 17-18 Februari

Poin Penting (3)
  • BMKG merilis prakiraan hilal 17-18 Februari 2026 untuk penentuan awal Ramadan 1447 H, dengan konjungsi terjadi 17 Februari pukul 19.01 WIB setelah Matahari terbenam di seluruh Indonesia
  • Hilal pada 17 Februari masih di bawah horizon (minus 2,41 hingga minus 0,93 derajat), sementara pada 18 Februari sudah positif (7,62 hingga 10,03 derajat) dan memenuhi kriteria visibilitas
  • Rukyat hilal penentu awal Ramadan 1447 H dilakukan setelah Matahari terbenam 18 Februari 2026, dengan keputusan resmi akan diumumkan dalam sidang isbat oleh Kementerian Agama

Resolusi.co, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis prakiraan posisi hilal saat Matahari terbenam pada 17 dan 18 Februari 2026 sebagai dasar ilmiah penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. Data ini menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam sidang isbat.

Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Penentuan awal bulan memiliki peran krusial terutama pada Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

BMKG tidak hanya melakukan perhitungan hisab, tetapi juga melaksanakan rukyat hilal di 37 lokasi di Indonesia yang bisa disaksikan langsung melalui layanan daring.

Untuk penentuan awal Ramadan 1447 H, konjungsi atau ijtima terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01.07 WIB, 20.01.07 WITA, dan 21.01.07 WIT.

Pada saat itu, bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama di angka 328,83 derajat. Konjungsi ini menandai pergantian bulan dari Syakban menuju Ramadan.

Waktu terbenam Matahari pada 17 Februari 2026 paling awal terjadi di Jayapura pukul 17.56.44 WIT, dan paling akhir di Banda Aceh pukul 18.51.25 WIB. Sementara pada 18 Februari, terbenam paling awal di Jayapura pukul 17.56.35 WIT dan paling akhir di Banda Aceh pukul 18.51.29 WIB.

Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada 17 Februari di seluruh Indonesia, maka secara astronomis pelaksanaan rukyat hilal dilakukan setelah Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.

Ketinggian hilal pada 17 Februari masih berada di bawah horizon, berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Namun pada 18 Februari, ketinggian hilal sudah positif dan signifikan, yaitu 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang.

Elongasi atau jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan Matahari pada 17 Februari berkisar 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Pada 18 Februari meningkat tajam menjadi 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh.

Umur Bulan dihitung sejak terjadinya konjungsi. Pada 17 Februari masih negatif, antara minus 3,07 jam di Jayapura hingga minus 0,16 jam di Banda Aceh. Sementara pada 18 Februari sudah cukup matang, berkisar 20,92 jam hingga 23,84 jam.

Berdasarkan data hisab BMKG, hilal belum memenuhi kriteria untuk diamati pada 17 Februari. Pada 18 Februari, posisi hilal sudah berada di atas horizon dengan ketinggian, elongasi, umur Bulan, dan parameter lainnya yang memadai.

Data astronomis ini menjadi dasar penting dalam pelaksanaan rukyat dan sidang isbat yang keputusan resminya akan diumumkan Kementerian Agama.