OPEC+ Naikkan Produksi Minyak 188.000 Barel Per Hari Mulai Juni, Lebih Rendah dari Kenaikan Bulan Ini

- OPEC+ menyepakati penambahan produksi minyak 188.000 barel per hari mulai Juni, sedikit lebih rendah dari kenaikan Mei sebesar 206.000 barel per hari setelah UEA resmi keluar dari kelompok tersebut.
- Pasar minyak global masih tertekan sejak perang Iran meletus Februari lalu dan penutupan Selat Hormuz, dengan harga WTI dan Brent masing-masing masih sekitar 78 persen lebih tinggi dari awal 2026.
- Harga minyak sempat turun akhir pekan lalu setelah Iran mengirim proposal perdamaian kepada mediator di Pakistan, memunculkan harapan tipis penyelesaian diplomatik dengan Amerika Serikat.
, Jakarta – Tujuh negara produsen minyak utama anggota OPEC+ menyepakati penambahan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni mendatang. Keputusan itu diambil di tengah kondisi pasar energi global yang masih bergolak, dipicu perang di Iran dan kepergian Uni Emirat Arab dari kelompok tersebut.
Ketujuh negara yang terlibat dalam kesepakatan ini adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Volume penambahan Juni itu sedikit di bawah kenaikan produksi yang diberlakukan pada Mei, yang mencapai 206.000 barel per hari. Selisih itu sebagian besar mencerminkan absennya kontribusi UEA, yang resmi mundur dari OPEC pada 1 Mei lalu.
“Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari dari penyesuaian sukarela tambahan yang diumumkan pada April 2023,” kata OPEC dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNBC, Senin (4/5/2026).
Keputusan UEA untuk hengkang bukan kebetulan. Negara Teluk itu menyimpulkan langkah tersebut sesuai kepentingan nasional setelah melakukan tinjauan menyeluruh atas kebijakan dan kapasitas produksinya. Sebagai produsen terbesar ketiga dalam kelompok ini, kepergian UEA meninggalkan celah yang tidak kecil dalam struktur OPEC+.
Situasi makin rumit sejak perang Iran meletus pada 28 Februari. Selat Hormuz, jalur pelayaran yang selama ini mengalirkan sebagian besar pasokan minyak dan gas global, ditutup tak lama setelah konflik pecah. Sejak saat itu, harga minyak dunia melonjak drastis dan belum kembali ke level semula.
Sedikit angin segar datang pada akhir pekan lalu. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat sempat turun 3 persen pada Jumat (1/5), ditutup di angka US$ 101,94 per barel. Minyak mentah internasional Brent juga melemah hampir 2 persen ke US$ 108,17 per barel, setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada para mediator di Pakistan.
Namun penurunan sesaat itu belum mengubah gambaran besar. Kedua acuan harga minyak dunia masih berada sekitar 78 persen lebih tinggi dibanding posisi awal 2026.
Penambahan pasokan yang disepakati OPEC+ sebenarnya mencerminkan dua tekanan yang saling tarik: di satu sisi ada kebutuhan untuk menstabilkan harga yang sudah terlalu tinggi, di sisi lain anggota-anggota utama kelompok ini juga tidak ingin melepas pendapatan ekspor yang sedang besar. Hasilnya adalah kompromi yang terukur, bukan perubahan arah yang tegas.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: