Israel Akui Somaliland, Somalia Peringatkan Ancaman Serius bagi Stabilitas Kawasan

- Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menilai pengakuan Israel terhadap Somaliland sebagai langkah aneh dan sarat kepentingan strategis berisiko tinggi.
- Israel disebut menawarkan pengakuan dengan tiga syarat: pemukiman pengungsi Palestina di Somaliland, pendirian pangkalan militer di Teluk Aden, dan masuk ke Perjanjian Abraham.
- Somalia memperingatkan langkah Israel dapat memicu instabilitas kawasan, sementara sebagian besar anggota DK PBB mengutuk, kecuali Amerika Serikat yang dinilai ambigu.
, Jakarta -Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, menyebut langkah Israel yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai entitas negara merdeka sebagai tindakan yang “tidak terduga dan aneh”. Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar manuver diplomatik, melainkan langkah strategis Israel yang berpotensi membawa dampak serius bagi rakyat Palestina maupun stabilitas kawasan Tanduk Afrika.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera dari Istanbul, Turki, Mohamud menegaskan bahwa selama lebih dari tiga dekade Somaliland tidak pernah mendapatkan pengakuan internasional. Karena itu, menurutnya ganjil ketika Israel tiba-tiba muncul sebagai negara pertama yang memberikan legitimasi.
“Selama 34 tahun dunia tidak mengakui Somaliland. Tiba-tiba Israel datang dan menyatakan pengakuan. Ini bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi bagian dari agenda strategis yang berisiko tinggi,” ujar Mohamud.
Israel pekan lalu menjadi satu-satunya negara yang secara resmi mengakui Somaliland, wilayah yang memisahkan diri pada 1991 dan terletak di kawasan strategis berbatasan langsung dengan Teluk Aden. Somalia menilai langkah tersebut berpotensi membuka “kotak kejahatan global”, termasuk kemungkinan pemaksaan relokasi warga Palestina.
Mengutip laporan intelijen negaranya, Mohamud menyebut Somaliland disebut telah menerima tiga syarat Israel sebagai kompensasi pengakuan. Yakni kesediaan menampung pemukiman warga Palestina, pemberian akses pendirian pangkalan militer Israel, serta bergabung dalam Perjanjian Abraham—pakta normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab.
“Israel tidak datang dengan niat damai. Ini langkah sangat berbahaya dan dunia, khususnya negara Arab dan Muslim, harus melihatnya sebagai ancaman serius,” tegasnya.
Mohamud juga menyebut sudah ada aktivitas Israel di Somaliland jauh sebelum pengakuan resmi dilakukan. Karena itu, pengakuan Israel dinilai hanya formalitas atas hubungan yang telah berjalan di balik layar.
Bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Mohamud sebelumnya telah memperingatkan dampak destabilisasinya bagi Tanduk Afrika. Sejumlah negara, termasuk mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB, mengutuk langkah Israel tersebut. Indonesia pun menyatakan penolakannya. Hanya Amerika Serikat yang terlihat memberi pembelaan, meski tetap menegaskan posisi bahwa kebijakan Washington mengenai Somaliland tidak berubah.
Menjawab sikap AS yang dinilai ambigu, Mohamud menyebut pernyataan Washington cukup jelas tetap mendukung kedaulatan Somalia.
Terkait potensi dimanfaatkannya situasi ini oleh kelompok bersenjata al-Shabab untuk memperkuat propaganda dan perekrutan, Mohamud menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak memiliki kepentingan sejati bagi Somalia. Ia menekankan bahwa terorlah yang melemahkan Somalia, bukan upaya menjaga kedaulatan.
Mohamud menutup dengan menegaskan Somalia terus bergerak menuju stabilitas. Ia menunjuk keberhasilan operasi melawan al-Shabab dan pelaksanaan pemilu langsung pertama sejak 1969 sebagai bukti negara mulai bangkit dari tekanan panjang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: