Pertemuan Trump dan Xi Berakhir Hampa, Rupiah Langsung Rontok di Awal Pekan

- Rupiah dibuka melemah ke Rp 17.658 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026, turun 61 poin atau 0,35 persen dari penutupan Rabu lalu.
- Pelemahan dipicu kekecewaan investor global atas hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping yang dianggap tidak memberi solusi atas konflik AS-Iran, memicu pelarian aset ke dolar.
- Analis Doo Financial Futures memperkirakan rupiah masih tertekan di kisaran Rp 17.550-17.650, seiring harga minyak dunia yang kembali naik.
, Jakarta – Rupiah membuka pekan ini dengan catatan yang tidak menggembirakan. Pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot langsung melemah ke level Rp 17.658 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.
Dibanding penutupan Rabu pekan lalu di angka Rp 17.475, rupiah terkoreksi 61 poin atau sekitar 0,35 persen. Pelemahan ini bukan hanya urusan domestik. Hampir seluruh mata uang Asia bergerak ke arah yang sama pagi ini.
Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan di kawasan, masing-masing ambles 0,53 persen. Dolar Taiwan kehilangan 0,25 persen, baht Thailand turun 0,2 persen, sementara yen Jepang tergelincir 0,13 persen. Dolar Singapura dan yuan China masing-masing melemah 0,08 dan 0,07 persen, sedangkan peso Filipina turun tipis 0,03 persen.
Hanya dolar Hong Kong yang bertahan, justru menguat sangat tipis 0,006 persen terhadap greenback.
Tekanan ini berpangkal pada sentimen pasar global yang berubah sejak akhir pekan lalu. Pertemuan Presiden Xi Jinping dan Donald Trump yang dinantikan banyak pelaku pasar ternyata tidak menghasilkan terobosan apa pun, terutama terkait ketegangan AS dan Iran.
“Rupiah kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat. Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang, oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” jelas Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Ia memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Banyak investor memindahkan posisi ke dolar AS seiring ketidakpastian yang belum mereda.
“Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik. Range 17.550-17.650,” tandasnya.
Yang menarik, tekanan ini terjadi justru setelah pasar Indonesia baru kembali beroperasi usai libur panjang. Ketika pasar global sudah bereaksi berhari-hari, rupiah baru mendapat kesempatan merespons hari ini. Itu yang membuat koreksinya terasa lebih tajam di awal sesi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: